Selasa, 03 Februari 2015

Galau Datang

Sepertinya, perbincangan tentang SAHM vs WM tidak akan pernah berakhir. Bahkan, pergulatan dalam diri sendiri pun akan terus ada, meski sudah memilih.

Ah...
Oke... Beberapa hari terakhir ini galau itu kembali melanda. Mungkin memang aku belum berkompromi secara sempurna dengan pilihan ini. Belum menerima secara sempurna apa yang sudah kupilih.

IRT... Sebenarnya, bukan salah siapa-siapa saat mendengar kata IRT, yang terlintas di pikiran banyak orang adalah berpendidikan rendah, tidak mampu merawat diri, atau tidak mengikuti kemajuan zaman. Mungkin kalau bahasa anak sekarang, ga kekinian. Hehe...

Tapi ga juga... Ibuku seorang IRT, tapi mampu membesarkan 2 anaknya hingga seperti sekarang. Bisa ngikutin kemajuan zaman juga... hehe...
Jadi, siapa yang salah dengan anggapan itu?

Yang jelas, menjadi seorang wanita di zaman ini memang cukup berat. Ia haruslah terdidik, tapi tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Ia harus bisa berkarya, tanpa melupakan kewajibannya. Ia terkadang harus terbelenggu dengan anggapan orang saat ini. Bahwa wanita haruslah berkarier di luar dan terlihat oleh orang lain hasilnya. Bahwa tugasnya di dalam rumah bisa didelegasikan pada orang lain.

Wanita tetaplah butuh sarana untuk aktualisasi diri. Membuatnya merasa berkembang dan lebih maju. Setiap wanita pastilah berbeda kehidupan dan pilihannya. Jangan pernah menyamakannya dengan yang lain.

Back to galau tadi...
Setidaknya ada beberapa hal yang sering membuatku galau...
Pertama, aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki penghasilan sendiri. Jadi, saat tidak berpenghasilan lagi, aku merasa down. Mungkin karena aku tidak bisa seenaknya membelanjakan uang untuk kepentingan pribadi. Hehe... Kalau dulu, apa yang ingin kubeli, aku beli saja, asal ada uangnya.. Hehe... Sekarang mungkin berbeda.
Mandiri... Dulu bisa mandiri secara finansial, sedang sekarang tidak. Itu kadang membuatku merasa useless. Lebay sih.. tapi.. memang seperti itu... Karena sudah terbiasa mandiri. Solusinya memang harus mencari sumber penghasilan yang baru. Entah akan bekerja di luar rumah, atau bekerja dari rumah.

Kedua, galau kadang melanda, saat ritme aktivitas berubah cukup drastis. Kalau dulu sering pergi kemana-mana, sekarang justru lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Padahal, aku tipe orang yang senang pergi ke tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, daaan sejenisnya.. Ini juga kadang bikin melow... Hehe... Merasa duniaku begitu terbatas. Dunia yang terbatas oleh pembatas bernama "pintu rumah". Lebay? Mungkin. Tapi itu terjadi. Saat dirimu merasa tak ada kawan bicara, hanya memiliki gadget tempat medsos terinstall. Dan mulai merasakan keramaian dari dalamnya. Merasa bertemu banyak orang, meski hanya di rumah. Ini mungkin yang dinamakan kesepian di tengah keramaian. Bertemu hingar bingar dunia namun hanya sebagai penonton.

Ketiga, galau itu saat melihat teman-teman sudah mencapai puncak dari kehidupan mereka, atau meraih prestasi yang wow, sementara kita merasa bahwa kita masih begini-begini saja. Merasa tak ada kemajuan yang tampak dalam diri. Saat teman-teman sudah menjejakkan kakinya di negara X, Y, Z atau tempat A,B,C, sementara itu tadi, duniamu adalah dunia berbatas. Merasa tidak berkembang. Lebay? Mungkin. Tapi ini terjadi. Mungkin inilah mengapa aktualisasi diri bagi seseorang begitu penting. Agar ia merasa berharga. Minimal oleh dirinya sendiri.

Itu tadi 3 hal yang sering membuat si galau melanda. Mungkin memang aku harus berkompromi secara sempurna. Aku sudah memilih, dan konsekuensi harus kutanggung, bukan? Tapi, aku ingin berusaha agar 3 hal itu tak lagi membuatku galau. Wkwkwkwk....

Kalau udah galau, kadang bikin esmosi jiwa raga....

Rakyat jelita... Rakyat jelita...
Ini realita...
Solusinya bukan meminta agar seperti putri raja...
Tapi menjalani peran rakyat jelita dengan lebih menghayati...

Hehehe...
Udah mulai aneh nih...

Yang jelas, berdoa dan bersyukur saja... :)
Semoga Allah berikan sumbu kesabaran yang leeeebiih panjang.... Aamiin..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

Blog Archive

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..