Selasa, 18 September 2012

Tulisan Pertamaku

Akibat salah satu tayangan di Metro TV yang isinya menyudutkan Rohis, semua bergerak. Ada yang menunjukkannya di twitter, facebook, menulis di blog, atau melalui jalur hukum. Tentu saja kami tidak setuju dengan isi berita tersebut. Aku yang anak rohis, tidak pernah diajarkan tentang teroris atau mengajarkan teroris. Sebaliknya, yang kudapat di rohis adalah keindahan bernama Islam. Kebaikan demi kebaikan.

Ah.. Memang, selalu ada yang tidak suka dengan kebenaran. Dan mereka akan berbuat apa saja untuk menutupi kebenaran tersebut.

Nah, ternyata aku dapat berkah juga karena masalah ini. (Lho?? sok eksis gini? hehe)
Jadi, hari Ahad lalu, tanggal 16 September, saat itu aku dan beberapa teman ITSAR baru saja selesai rapat konseptor. Kubuka hapeku dan mendapatkan notifikasi twitter. Ada 1 mention dari temanku. Ternyata.. Alhamdulillah.. Satu tulisanku dimuat di Islamedia. Tulisanku tentang Rohis. tulisan itu sebenarnya kubuat untuk mengikuti lomba menulis. Tapi yang kuingat, saat itu memang aku ikut lomba tersebut di saat-saat terakhir lomba akan ditutup. Hehe. Jadi ya memang tidak mengharapkan menang. Jauh banget soalnya. Cuma ingin mengungkapkan kecintaanku pada rohis dan dakwah saja. Namun, takdir Allah memang berjalan sesuai kehendakNya. Saat aku sudah lupa dengan tulisanku itu, Allah mengembalikannya dengan cara yang indah. Yaa meskipun yang pertama mengetahui bahwa tulisanku dimuat di Islamedia memang bukan aku, tapi temanku, Bayu.. :)

Ini linknya.. ^^



Judulnya Empat Cinta Allah dalam Rohis..
Isinya ini (siapa tahu ada yang ga bisa buka link-nya.. hehe..)

 Tahun 2002 adalah tahun pertamaku mengenal ROHIS. Perkenalan yang tidak disengaja ini membawaku mengenal indahnya Islam. Bertemu dengan orang-orang yang berusaha untuk menjadikan dirinya shalih, dan yang lebih utama adalah berusaha untuk menshalihkan lingkungannya. Karena itulah ROHIS di sekolahku terbentuk. Berawal dari kepedulian alumni terhadap adik-adik satu almamaternya. Saat itu, aku yang masih duduk di kelas 1 SMP manjadi bagian dari lingkaran ukhuwah yang indah. Rohis adalah tempat pertamaku semangat untuk menghapal ayat-ayat Al-Qur’an, mengetahui tata cara beribadah yang benar, belajar mengenai akhlak seorang muslim, mengikuti kegiatan tafakkur alam yang luar biasa seru dan berhikmah, dan bermacam kegiatan lainnya. Sebagai seorang anak yang mulai menginjak remaja, bagiku ROHIS bukanlah tempat yang membosankan, malah sebaliknya,mengesankan. Hal ini karena adanya ketulusan dari kakak-kakak kami yang di tengah kesibukan mereka yang padat, selalu ada waktu untuk kami.
Ketika aku mengenyam pendidikan di SMA, kesan baik dengan ROHIS SMP, membuatku bergabung dengan ROHIS SMA tempatku bersekolah. Kali ini, dengan bertambahnya kematangan pemahaman, mulailah aku bersahabat dengan apa yang disebut dengan amanah dan dakwah. Membuatku lebih peduli dengan kondisi lingkungan sekitarku. Mungkin, inilah yang disebut dengan semangat untuk berbagi. Berbagi kebaikan dengan orang-orang terdekat.

Kampus menjadi petualanganku berikutnya bersama ROHIS. Salman menjadi tempat favoritku dan teman-temanku. Masjid kampus ini memang luar biasa daya magnetisnya. Membuat siapapun betah berlama-lama di dalamnya. Kampus memang banyak disebut sebagai miniatur sebuah negara, karena didalamnya terdiri dari individu-individu yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia. Kebaikan dan keburukan jelas terlihat berkompetisi untuk mendominasi pemikiran individu kampus. Individu-individu yang di masa sekolahnya sudah mengenal ROHIS, terlihat lebih matang dalam mengambil pilihan dan memiliki filter untuk menyaring segala hal yang masuk ke dalam dirinya.

Di tengah arus informasi yang begitu deras dan bebas, remaja menjadi salah satu target utama untuk menanamkan fikrah liberal. Remaja muslim pun tak pelak menjadi salah satu korbannya. Penanaman pengetahuan agama menjadi salah satu alat pertahanan bagi setiap anak untuk mempertahankan diri di tengah kondisi seperti inim agar tak tergelincir. Namun, hal itu tidaklah mudah. Karena pendidikan agama yang seharusnya pertama ditanamkan di keluarga, saat ini tidak lagi dilakukan. Alasan yang paling banyak ditemukan adalah karena kesibukan orang tua. Orang tua mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya pada sekolah. Seperti kita ketahui, pelajaran agama di sekolah pun terbilang minim, 2 jam pelajaran per pekan. Tentu saja ini tidak cukup. ROHIS di sekolah-sekolah banyak terbentuk karena kepedulian terhadap minimnya pendidikan keislaman di keluarga dan sekolah terhadap anak.

Kader-kader yang dihasilkan dari ROHIS, baik di sekolah maupun kampus tidak dapat dipandang sebelah mata. Individu yang telah mengenal ROHIS di sekolah, ketika mereka masuk ke kampus, mereka bisa menjadi penggerak untuk hadirnya kebaikan di lingkungan kampus mereka. Ketika mereka lulus dari kampus, mereka akan menyebar dalam masyarakat, dan diharapkan mereka akan tetap dapat mempertahankan keislaman mereka dan mewarnai lingkungan mereka. Begitupun ketika mereka menjadi seorang pemimpin, diharapkan mereka menjadi pemimpin yang adil, yang sangat dirindukan oleh bangsa ini. Tak dapat dipungkiri, bahwa pemuda adalah aset bangsa. Sebuah bangsa dapat maju dan besar karena peranan pemudanya, atau sebaliknya. Inilah yang membuat ROHIS saat ini mengambil peran penting dalam pembentukan moral dari pemuda, meskipun tak jarang ROHIS diterpa tudingan-tudingan negatif. Semoga tudingan tersebut tidak melemahkan orang-orang yang bergerak didalamnya, justru semakin menguatkan langkah ROHIS dalam menebar kebaikan. Bagiku, ROHIS adalah empat cinta dari Allah untukku. Cinta pertama, saat Allah mengenalkanku pada ROHIS SMP. Cinta kedua, saat aku bergerak bersama ROHIS SMA. Cinta ketiga adalah saat berinteraksi dengan ROHIS kampus. Dan cinta keempat adalah saat Allah memberiku kesempatan untuk bersyukur atas karunia_nya, dengan masih dapat kembali membina ROHIS tempatku pertama mengenalnya, di SMP. Seperti yang dilakukan oleh kakak-kakak kelasku dulu.

Oleh : Rini Inggriani
Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba menulis Islamedia : Rohis Mengawal Moral Bangsa 


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-



Kamis, 13 September 2012

Selalu Tak Sama vs Tak Selalu Sama

Adakalanya manusia terjebak dalam rutinitas, dan menganggap bahwa yang ia lakukan adalah hal yang monoton, itu-itu saja, tidak ada kemajuan atau apapun itu. Bisa jadi memang seperti itu, jika kita tidak mencoba untuk mencari sesuatu yang baru atau pembelajaran yang mungkin bisa kita dapatkan dari rutinitas yang kita lalui. 

Seperti posisiku di tempat kerja dalam beberapa waktu terakhir ini. Kalau tidak di posisi penyerahan obat pada pasien, atau cek akhir order resep. Ingin berbagi tentang posisiku di penyerahan obat. Posisi ini harus diisi oleh apoteker. 

Bagiku, posisi ini memungkinkan untuk bertemu dengan banyak orang, yang artinya bisa mendapatkan banyak hikmah juga tentunya. Terutama masalah komunikasi, mengenali berbagai tipe pasien, lebih termotivasi untuk mendalami mengenai farmasi klinis,serta butuh ketelitian juga kecepatan dalam analisa resep. Intinya sih cukup full pressure. Hehe. Tapi ya dijalani saja ya..
Banyak kejadian yang kucatat ketika aku menyerahkan obat pada pasien. Dari hal yang kecil. Misal seperti ini. Aku punya teori baru, bahwa seorang ayah itu biasanya tidak terlalu mengingat tanggal lahir  anaknya, beda dengan seorang ibu yang biasanya hafal sekali tanggal lahir anaknya. Lho? Kok malah ke urusan tanggal lahir? Hehe.. Ada hubungannya kok.. Ketika menyerahkan obat, harus dilakukan identifikasi pasien, agar tidak terjadi kesalahan pemberian obat dan untuk pasien safety. Nah, identifikasi pasien ini bisa dilakukan dengan cara menanyakan tanggal lahir pasien atau nomor rekam medis pasien. Tanggal lahir atau nomor rekam medis pasien bersifat khas, sehingga bisa dijadikan sebagai alat identifikasi pasien. Aku lebih memilih untuk menanyakan tanggal lahir ketimbang nomor medrec, karena biasanya pasien tidak ingat nomor medrecnya. Untuk pasien dari poli anak, biasanya aku bertanya pada orangtuanya (ayah atau ibunya) tanggal lahir anaknya. Biasanya nih, kalau ayahnya yang mengambil obatnya, ketika kutanya, “Mohon maaf, Pak, bisa tolong disebutkan tanggal lahir anaknya?”, sang ayah tersebut akan diam sejenak untuk mengingat-ingat tanggalnya sambil senyum-senyum. Hehe. Beda kalau ibunya yang mengambil obat dan kutanya hal yang sama, ibu tersebut akan segera menjawab dengan pasti tanpa berfikir dulu biasanya. Ini sudah kusurvei untuk cukup banyak pasien lho.. Hehe. Walaupun ada juga ayah yang sangat hafal tanggal lahir anaknya. Dan kuberi reward dalam hati dan kucatat, ”Wah,, subhanallah, ayah teladan”.. Hehe..

Itu tentang teori yang kudapat.
Ada lagi yang bisa buat mati gaya. Hadeh. .
Suatu saat aku menyerahkan obat pada seorang pemuda usia 27 tahunan, dari dokter rehab medis. Ya seperti biasa, aku melakukan identifikasi pasien, lalu menjelaskan mengenai obat-obat yang ia peroleh. Mengenai aturan pakai, efek samping yang mungkin timbul, apa saja yang harus ia perhatikan ketika mengonsumsi obatnya, dll. Ketika di akhir penjelasanku, aku bertanya padanya, “Ada yang kurang jelas atau ingin ditanyakan, Mas?”, ia tersenyum sambil berkata, “Saya mau tanya, tapi bukan tentang obat-obat saya, boleh Mbak?”. Oh, mungkin tentang obat punya keluarganya, atau siapanya kali ya, pikirku. Kujawab, “Boleh Mas, silakan”. Pertanyaannya yang buat aku mati gaya karena tidak menyangka kalau pertanyaannya ternyata random.. Mas itu bertanya, “Mbak bulu matanya pake bulu mata palsu bukan?”. Ini gubrak.com!!!!!! Calm, Inggi.. Setelah kukuasai diri, barulah aku menjawab, “Bukan Mas, Alhamdulillah ini asli, pemberian Allah.. “. Dan ia menjawab, “Oh.. subhanallah, bagus soalnya...”. Dan aku tidak berkata apa-apa lagi, selain senyum saja. Masnya ini ada-ada aja.. Pantesan dari tadi saat kujelaskan tentang obat-obatnya, ia senyum-senyum aja. Ups! Eh, ga boleh gitu,, siapa tau emang masnya itu ramah dan suka senyum.. Istighfar...Istighfar.. Hehe.. Maaf ya Mas...

Ada lagi, saat aku sedang di depan, melihat antrian di komputer, ada seorang dokter yang menghampiriku. Kupikir, mungkin dokter tersebut mau membeli obat. Ternyata, saat ia mendekat, ia hanya berkata, “Rumah sakit itu tempat penyebaran penyakit. Kalau daya tahan tubuh sedang turun pake masker yaa..” Dan setelah itu ia pun berlalu meninggalkanku yang hanya diam terpaku mendengarnya. Hehe. Kujawab saja meskipun ia sudah tidak ada di hadapanku. “Iya, dok..”.. Hehe. 

Itu mati gaya..
Ketika aku menyerahkan obat untuk pasien penyakit kronis, seperti diabetes atau jantung, jadi mengingatkan diri sendiri untuk lebih menjaga keshatan dan banyak bersyukur. Pernah menyerahkan obat pasien diabetes, seorang bapak berusia 72 tahun. Seabrek obatnya, obat oral dan injeksi insulin yang jumlahnya hampir 10 pen insulin. Kutanyakan pada bapak tersebut, “Bapak sudah biasa menggunakan obat-obat ini?”, dan ia menjawab, “Sudah Nak, sudah hampir 7 tahun”, dan ia tetap tersenyum. Masya Allah.. Aku tidak bisa membayangkan setiap hari, setiap pagi, siang, sore dan malam, ia menyuntikkan insulin ke dalam tubuhnya sekian unit, selama 7 tahun terakhir ini? Ah, semoga Allah memberi bapak itu kesabaran dan kekuatan dalam menjalani pengobatannya. Semangat bapak! :)

Ada juga seorang ibu yang usianya hampir sama dengan bapak tadi, tapi lebih muda sih, sekitar 68 tahun. Namun, ibu tersebut mendapatkan obat-obat jantung yang begitu banyak. Beliau diantar oleh anaknya. Setelah aku menjelaskan tentang obat-obatnya yang sudah rutin beliau pakai, ibu tersebut tersenyum begitu ramah dan antusias sambil menyalamiku dan mendo’akanku. Subhanallah.. Berkah Allah ada dimana-mana ya.. Alhamdulillah bukan bapak-bapak, jadi aku kan bisa menggenggam tangan ibu tersebut dengan begitu erat .. 

Sekarang berlanjut pada kesimpulan..  Meskipun setiap hari kita melakukan rutinitas yang mungkin sama dari hari ke hari, tapi insya Allah ada hal baru yang kita peroleh setiap harinya. Dan itulah yang memberi perbedaan dari satu hari ke hari lain. Ada tarbiyah baru yang Allah berikan untuk kita setiap saat. Seperti shalat yang kita lakukan. Jika itu hanyalah rutinitas semata, maka bisa jadi kita akan kehilangan hakikat dari shalat tersebut. Kehilangan makna, karena ia hanya sebatas pemenuhan kewajiban saja. Dan akan sangat merugi jika seperti itu. 


Seperti langit sore yang kutatap setiap senja
Tak pernah ada rasa bosan melihat lukisanNya itu
Selalu berbeda keindahannya
Meski mungkin ia adalah langit senja yang sama yang kutatap kemarin



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 04 September 2012

Released : My Family Album!

Finally!!
Finally apa ini teh? Hehe.. #modus

Akhirnya, keluarga kami punya juga foto keluarga. :) 
Sebenernya sih udah lama banget pengen foto keluarga. Tapi selalu sulit mengumpulkan semua untuk foto, padahal cuma berempat sih. 

Mulai dari masalah dresscode, sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Adikku mengusulkan untuk memakai hanbok.. Baju korea gitu.. Tapi ayah sama ibu ga setuju. Awalnya aku juga ga setuju sih, tapi ade bilang, "Bagus, mbak.. Lucu tau..Hehe..". Ya boleh aja sih, tapi mau cari dimana? Ah, memang adikku itu korea mania.. Akhirnya hanbok pun didelete dari daftar dresscode yang akan kami pakai di foto keluarga nanti. 
 
Setelah sekian lama direncanakan, alhamdulillah... ternyata waktu terbaik untuk foto keluarga kami adalah pada H-1 idul fitri tahun ini, alias tanggal 18 Agustus kemarin. Adikku sudah libur dari kantornya, jadi ia sudah di Bandung. Kami sepakat untuk bertemu di Jonas Banda pada sore hari, karena H-1 idul fitri pun aku masih bekerja..:(

Setelah memilih-milih paket kami menuju studio. Aku sih edisi ganti kostum secepat kilat. Hehe. Tanpa persiapan apapun. Yang tersisa adalah energi sisa kerja.. karena ternyata, pasien di rumah sakit H-1 idul fitri tetap saja banyak.

Dan kemarin, aku mengambil hasilnya. Membawa foto 16R dengan frame itu memang sesuatu sekali.. Hehe..

Inilah hasilnya...


It's wonderful.. :)
 Ibu dan ayahku tercinta..
My lovely parent
 Ini aku dan adikku.. Adik yang lebih dewasa dan lebih caaantiik.. Hehe.. :)

My beloved sister.. The only one and only.. :*




 
Overall... Semoga Allah berkenan memberikan cinta dan petunjukNya selalu untuk keluarga kami.. :*


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-


Selasa, 28 Agustus 2012

Rainbow Scrap Book, I Love It

"Bagiku, ukhuwah itu tak hanya sekedar kata
Sejauh mana kita sudah bisa memberi
Memberi yang terbaik
Memberi dengan kecintaan hanya karenaNya
Dan, percayalah, keimanan itu tak pernah bohong
Ia terlahir dari kedekatan kita padaNya
Maka biarlah ukhuwah ini hanya berlandaskan keimanan yang mendalam"

1 Agustus 2012.
Anak-anak depo merencanakan untuk mengadakan bubar depo di tanggal 1 Agustus. Tadinya sih mau tanggal 3, tapi ada yang ga bisa kalau tanggal 3. Jadi fix di tanggal 1 kemarin. Dengan ketua panitia Beni dan wakil ketua Sri. Hehe. Entah sih, sebenarnya apakah ketua dan wakil ketua ini berfungsi optimal atau tidak. Hehe. Rencana sudah disusun, kami akan membuat sop buah, lalu pesan makanan di Bu Imas, dan ada acara tukar kado. Aku melihat susunan acaranya. Ada sambutan (resmi banget sih! Aku sih ga terima kalo nyambut Beni. hihi..), pembacaan ayat suci Al-Quran, siraman rohani dan jasmani, de el el. Entah akan seperti susunan acaranya atau hm.. yaa.. bisa ditebaklah ya.. :D Pembagian tugas pun dimulai. Ada yang membawa buah apel, mangga, lengkeng, anggur, strawberry, semangka, melon, kiwi, pepaya, agar, susu, gula, sirup, baskom, pisau, gelas, dan semua yang kami butuhkan untuk menyukseskan acara ini. 

Hari H. 
Kami mengadakan bubar di gudang depo farmasi yang sudah disulap menjadi ruang yang begitu nyaman dan hangat. Karena yang lain ada tugas ke luar Santosa, maksudnya ambil pesanan makananlah, bawa alat, dan Gumi serta Ahmad sedang dinas siang, maka aku dan Bertha kebagian menyiapkan sop buah. Memotong-motong buah-buahan sambil menunggu yang lain datang. Gumi membawa pisau yang luar biasa besar. Berasa masterchef ya Gum? :D

Gumi lagi ngurusin melon..

Senyum Gumi!! :)

Ega, Bertha, Siti

Serius nih!

Lengkeng yang kaya bakso..

Beni sibuk dengan kiwi..

Beni sibuk dengan kiwi part 2..


Kerja Sama.. :D
Tak lama Ega dan Siti datang, lalu segera memotong-motong buah juga. Beni dan Vina sedang mengambil makanan pesanan kami. Sedang Gumi dan Ahmad, bolak-balik karena mereka harus jaga-jaga siapa tahu ada scan resep. Oiya, kado-kado yang kami bawapun sudah diberi nomor terlebih dahulu. Kadoku bernomor 6. Tapi sistem penomorannya memang agak aneh. Bukannya berurut, tapi malah suka-suka si pemilik kado mau diberi nomor berapa. Bertha sih.. Wkwkwk.. Nyalahin Bertha gini aku.. 

Senja pun sudah mulai beranjak pergi. Sebentar lagi memasuki waktu berbuka. Semua sudah siap, insya Allah. Kamipun sudah duduk melingkar. Saat berbuka, terlebih dahulu Gumi memimpin kami untuk berdo'a. Awalnya lempar-lemparan sama Ahmad. Tapi akhirnya Gumi yang memimpin do'a. Alhamdulillaah.. Sop buah dan batagor mengawali buka bersama kami. Ada Nita juga yang ditelfon oleh Beni. Ternyata sop buah yang kami buat begitu melimpah. Alhamdulillaah, bisa berbagi ke farmasi, dan Safir Timur. 

Waktunya shalat Maghrib berjama'ah. Pada mulanya kuminta Beni jadi imam. Tapii.. dia selalu menolak. Gimana sih Ben? :) Akhirnya Ahmad yang menjadi imam kami. Subhaanallaah ya Ahmad shalih.. Setelah shalat, kami mengocok nomor kado. Saat Beni berteriak, "Aku dapat nomor 6", dalam hati aku bilang, "Wah, kado aku jadi milik Beni. Hehe..". Aku dapat nomor 5. Tapi kami tak segera melakukan acara tukar kado, karena acara berikutnya itu adalah makan!! hehe..

Acara tukar kadopun dimulai. Saat Beni membuka kado yang ia dapat, ia berkata, "Ih, Bertha banget.. Haha", aku yang berada tepat disampingnya mengancamnya, "Beni, itu kado aku, awas aja kalo ga dijaga." Beni pun menjawab, "Iya Bu, tapi aku liat ini bukan inget Bu Inggi, tapi inget Bertha, tenang Bu, ntar aku simpen disamping tempat tidur aku." Oke.. oke...

Acara memang sudah tidak jelas.. Yaa.. suka2 aja.. Tapi penuh kejutan.. Pertama Sri dan Gumi bawa kado buat Ega... Heboh.. Lalu Sri dan Gumi bawa kado lagi untuk Bertha.. Kemudian heboh lagi... Hehe.. Ega, Bertha dan aku memang lahir di bulan yang sama, Juli. Dan terakhir... Lagi-lagi Sri dan Gumi membawa kado untukku.. Disertai prolog lalalala.. Hehe.. Scrap book!! I love it.

Scrap book..
Yang mereka persiapkan beberapa hari sebelumnya...
Begadang di depo... Rela pulang telat bahkan malam untuk mempersiapkan ini... Subhanallah...
Membuka lembarannya satu per satu saat itu saja sudah membuatku menangis (haha dasar cengeng), tapi aku memang terharu sebiru-birunya..
Euh.. bahasanya..
Hatiku gerimis...
Membaca Kata-kata di halaman terakhirnya... Rabbi...
Kurasakan cinta yang meluap-luap.. Alhamdulillaah... Makasi ya semuanya.... :)

Ini nih gambar dari Rainbow Scrap Book, I Love It- nya..
Scrap Book.. Love You..

Rainbow in You...

Egaaa...

Gumi....

Sriii

Santi..

Beniii...

Berthaaa

Siti

Vinaaa..

Ahmaaad..

We are....

Rainbow...

Together...

We share together

Sweet words...
 Nah kalo gambar-gambar di bawah ini ceritanya Galery aja.. Hehe..







Kadoku yang didapat Beni...










Sebenarnya, tulisan ini sudah ingin kubuat dan kupublish tak jauh dari tanggal 1 Agustus.. Namun saat itu memang aku masih belum fit benar, jadi ya setiap malam memang harus memaksa diri untuk lebih awal pergi ke peraduan.. Hehe.. Setelah itu, banyak juga hambatannya.. Hadeh.. Alasan memang..

Tapi, memang mungkin ini saat yang tepat tampaknya. Takdir Allah memang tak pernah salah. Semoga bisa menyemangati kalian kembali ya pelangiku.. :)

Kuingat, awal tahun ini, ketika acara itu, saat aku berada di hadapan hampir 100 orang..
Aku dengan bangga menyebut kalian sebagai "Pelangi"
Yang hingga kini pun tak pernah sedikitpun aku menyesal telah mengatakan itu
Selalu kubilang, bahwa kalian memiliki warna yang unik masing-masing
Namun, ketika bersatu dalam pelangi, itulah keindahan dan kekuatan yang sesungguhnya
Warna yang tak lagi sendiri-sendiri
Namun membias dalam kebersamaan

Tahukah, mungkin inilah ujian itu..
Saat Allah hendak menguji seberapa kuat ukhuwah kita
Saat Allah hendak menguji kecintaan itu
Saat Allah ingin membuat kita lebih kuat lagi
Melantunkan setiap do'a dengan lebih panjang dan kuat lagi
Memberikan semangat bagi teman seperjuangan dengan lebih tulus lagi

Takkan dibiarkan cinta tanpa teruji, adik-adikku...:)
Mungkin inilah saatnya kita membuktikan semua komitmen dan kecintaan kita
Meski diluar sana ada banyak hal yang akan menghadang..
Yang takkan mudah menyerah begitu saja
Namun kita haruslah lebih kuat
Jika terjatuh, maka bangkitlah kembali
Jika di luar sana ada api yang menantimu
Maka biarlah kalian menjadi air yang memadamkannya
Jika di luar sana ada batu karang yang menghalangimu
Maka biarlah kalian menjadi ombak yang kan menghancurkannya dalam setiap deburannya
Jika di luar sana ada gulita yang membuat kalian merasa sedikit takut
Maka jadilah kalian sinar mentari yang akan membuat keberanian itu muncul
Jika bumi tak sanggup lagi kalian jadikan tempat berpijak
Maka melangitlah... Melangitlah dengan do'a-do'a terbaikmu...
Ada Allah yang selalu memperhatikanmu
Karena takkan ada pelangi, jika tak ada hujan, bukan?
Biarlah hujan ini menjadi titian kita untuk mewujudkan pelangi kita sesungguhnya...


The last..
Vinaa.., inget yang Vina bilang, "Ntar ga ada lagi yang megang kepala aku dan bilang aku shalihah..".. Hehe.. insya Allah tetep aku panggil shalihah kok adikku.. :)
Sri,,, Tetep jadi penyemangat ya buat yang lain,,, tetep kreatif dan inspiring
Gumi,,, Aku akan tetep panggil Gumi mujahid... Seperti yang Gumi inginkan.. Hehe
Berthaa... I like the way you call me, "Maaak... " walaupun aga aneh sih.. :D
Siti.. stay cool... hehe
Santi,,, Tetep dewasa dan semoga lebih bijak lagi yaa
Beni,, Bisa kok Ben, mau jadi seperti Khalid bin Walid, atau Umar
Ahmad,,, Shalih... Meski dengan Bang Omanya... Tetep rajin tilawah ya shalih...
Ega.. Kita berjuang di bawah yap! 

Sekali lagi... Jazakumullah khair ya untuk semuamuanya...:)
Rainbow Scrap Book, I Love It..


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Senin, 23 Juli 2012

My Best Partner

- Sudah lama ingin menulis tentang ini. Tapi selalu tertunda. Karena ada sms yang memintaku untuk bercerita tentang ujian apotekerku dulu, jadilah kutulis saat ini. 
Special untuk adikku, Cindra, yang akan mengikuti ujian apt tanpa "partner", Trust me, Allah is the best partner. :)-



Pertengahan 2010.
Disibukkan dengan persiapan ujian apoteker.

Ujian Apoteker ITB.
Katanya sih ujian yang paling gak banget. Hehe. Ujian hidup dan mati. Lebay. Kalo yang ini emang bener2 lebay.. Tapi bagiku, ujian apoteker lalu itu adalah ujian keimananku. Semua teman-temanku, hampir jauh2 hari, bahkan setahun sebelumnya sudah mencari partner ujian apoteker nanti. Sedangkan aku, tidak mencari partner sama sekali. Hehe. Hanya merasa ada yang mengganjal saja dengan sistem partner tersebut. Toh, berpartner dengan orang terpintar pun tetap saja bisa tidak lulus. Yah, bagiku itu seperti menggantungkan nasib kita pada makhluk yang sama terbatasnya juga seperti kita. Akhirnya, kuputuskan untuk tak memakai partner pada ujian penelusuran pustaka yang hebohnya bukan main itu. Yang aura magisnya pun terasa sekali. Hehe... Bagiku,cukuplah Allah sebagai partner terbaik. Dialah sebaik-baik partner dan penolong. 

Selain partner, ada juga nih yang namanya markas. Kalo markas ini, sebenernya bermanfaat. Tempat kita latihan soal bareng, terus tempat buku2 yang seabrek-abrek itu. Pas ujian penelusuran pustaka, markas ini yang dipakai buat temapt diskusi bareng partner2 sampai malem, bahkan kadang sampai pagi menjelang.. Nah buat markas, aku juga ga pake markas. Bukan apa2, mahalnya ituuuuu...hehe. Lagian kan ga pake partner juga, jadi agak2 gimana kalau harus ke markas. Alhasil persiapanku untuk ujian apoteker ini banyak dilakukan di rumah. Walaupun tidak seintensif teman-temanku di markas. Mencoba membuat soal sendiri, mengerjakan sendiri, pusing-pusing sendiri, buat jurnal dari setiap soal sendiri (yah, banyak ga selesainya sih sebenernya.. :)), buka-buka buku sendiri.. Eh, gak sendiri sih. Sama Allah, kan partnerku Allah, insya Allah. Belum ketika persiapan ujian, aku juga harus mempersiapkan M-Camp 2010. Jadilah berkompetisi fokusku. Lalu, beberapa hari menjelang ujian penelusuran pustaka, teman-temanku sudah mengisolir diri dengan berbagai buku dan latihan soal di markas, aku malah jadi panitia walimahan sahabatku.. Rini..Rini.. Niat ikut ujian gak sih? Nantangin banget. Hm, mungkin begitu kali ya pikir orang-orang yang melihatku. 

Ujian Apoteker dibagi menjadi 3 tahap yang akan berlangsung selama kurang lebih 1 bulan. Ada ujian penelusuran pustaka (ini ujian yang horor-horor gimanaa gitu,, hehe), ujian praktek, dan sidang. Kata kakak-kakak kelasku, kalau sudah lulus ujian penelusuran pustaka, biasanya lebih mudah kedepannya. Jadi memang ujian penelusuran pustaka ini sangat penting. Tidak lulus di tahap pertama, tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Dan harus menunggu kurang lebih 6 bulan lagi untuk ikut ujian berikutnya. 

Sebelum ujian penelusuran pustaka, kami dibagi undian tempat ujian. Tempatku ujian di lab farmakologi. Selain itu kami juga diberi nametag yang berbeda warna di setiap tahap ujian. 

H-1 ujian penelusuran pustaka. 
Sore hari, kami sudah boleh menempatkan buku-buku pribadi kami di tempat kami ujian. Agar besok, buku-buku tersebut sudah siap digunakan untuk ujian. Aku diantar ayahku untuk membawa buku-bukuku. Hm, sebenernya buku yang kubawa juga tidak sebanyak teman-temanku sih, karena aku lebih memilih meninggalkan buku yang penting di rumah.. Kan buat cari bahan di rumah malamnya. Tenang Rini, kelulusan tidak ditentukan dari buku yang kamu punya kok. Gapapa buku kamu sedikit, yang penting keyakinanmu terhadap Allah tidak boleh berkurang, oke? -menenangkan diri maksudnyaa.. :)-

Ujian penelusuran pustaka akan berlangsung selama 2 hari. Dari jam 8-17. Full pressure. Hehe. 
Hari pertama ujian. Aku ingat bagaimana kerasnya diri ini berusaha menenangkan diri dengan banyak berdo'a memohon kelapangan hati dan pikiran. Minta do'a ke ibu ayah. Dianterin juga ke kampus sama ayah. Masuk ruang ujian. Siap menanti, apa "teman" yang akan menemaniku selama hampir satu bulan ini. Soal ujian pun diundi. Bismillaah.. Apapun takdirMu ya Rabb, aku pasrah.. Hehe. And finally... Aku mendapatkan jodohku selama 1 bulan ke depan adalah Tablet Isosorbid Dinitrat 1000 tablet. Yap. Hanya itu soal yang tertera dalam gulungan kertas yang kuambil. Insya Allah, ini jodoh terbaik yang Allah berikan Rin.. :).

Mulai membuat jurnal tentang ISDN atau Isosorbid Dinitrat. Sibuk mencari data-data yang dibutuhkan agar aku berhasil membuat ISDN sebanyak 1000 tablet. Mulai dari sifat dan karakteristiknya, cara analisis kimia, uji-uji yang diperlukan, formulasi tabletnya, sifat farmakologinya, dosis yang lazim digunakan, dll. Hari pertama, aku menulis jurnal pada bagian-bagian yang aku sudah yakin saja. Bagian farmakologi terutama masalah dosis, kuakhirkan saja besok. Pokoknya, targetku hari ini adalah selesai sampai tahap analisis dan sebagian formulasi atau sisi farmaseutikanya. Dan mengumpulkan data yang kubutuhkan sebanyak-banyaknya. Saat istirahat.. Ketika semua temanku pada bergegas menuju partnernya masing-masing, aku menuju mushala. Mengadukan semuanya pada partnerku. Hehe. Tadinya mau ke Salman, tapii kejauhan, ntar malah telat masuk ruang ujian lagi.. Sesi dua kujalani kembali, setelah merecharge diri. Pukul 17.00, ujian hari pertama selesai. Semua temanku segera menuju markas. Aku menuju gerbang depan, karena ayah sudah menanti. Tujuanku ya ke rumah. Mengerjakan ISDN itu di rumah.Malamnya, aku sempat search di internet mengenai ISDN. Dan tak lupa mengupdate status.. Haha.. Masih sempet aja. Di rumah, aku mulai menulis apa saja yang belum kukerjakan di kampus tadi. Menulis sisa jurnal pada kertas A4 agar keesokan harinya aku tinggal menulis ulang di jurnal ujianku. Karena kalau besok masih harus mencari data-data lagi, bisa-bisa jurnalku tidak beres. Sampai pukul 01.30 aku mengerjakannya. Ditutup dengan bermesra bersama partnerku dalam qiyamul lail. Tenang Rini, temen2 kamu bisa punya 4, bahkan lebih partner. Tapi, Allahlah sebaik-baik partner. Ketika semua partner teman-temanmu bisa melakukan kesalahan, Allah tidak pernah salah. Karena Ia Maha Sempurna. Ketika teman-temanmu bisa ragu terhadap partnernya, tapi kamu selalu bisa yakin terhadap Allah. Biidznillaah..

Hari kedua... 
Teman-temanku banyak yang bahkan tidak tidur. aku sih, alhamdulillah bisa tidur walau sedikit. Hari kedua, aku tinggal menulis ulang ke dalam jurnal ujianku. Alhamdulillaah, jurnal sebanyak 53 halaman tulis tangan itu rampung juga kuselesaikan. Selesai ikhtiarku di ujian tahap 1 ini. Tinggal perbanyak do'a sambil menanti pengumuman. 

Aku lupa, berapa hari pengumumannya. Kalau tidak salah, kami harus menanti selama 1 pekan. Di hari  H pengumuman yang katanya akan diumumkan jam 2 siang itu, aku sudah di kampus jam 1. Begitu pula teman-temanku. Namun, jam 2, ternyata pengumuman belum ada. Aku dan beberapa temanku pergi ke Salman dan menanti disana. Resahku saat itu hanya satu. Kalaupun aku harus tidak lulus di ujian tahap satu ini, sebenarnya aku sudah benar-benar mengikhlashkannya, meskipun aku tahu, kalau aku tidak lulus, pasti orangtuaku sedih. Aku sudah rela kalau tidak lulus. Ada yang kukatakan dalam lirihku pada Allah saat itu. "Ya Rabb, aku sudah benar-benar ridha, jika aku tidak lulus. Mungkin karena ikhtiarku yang tidak maksimal,, aku ridha ya Rabb. Namun, yang kutakutkan hanya satu. Aku takut, jika teman-temanku akan berkata bahwa ketidaklulusanku adalah karena aku yang tidak memakai partner. Aku tidak mau, jika mereka mengecilkan kekuasaanMu ya Allah. Engkaulah sebaik-baik pembuat skenario, dan kini kupasrahkan semua padaMu.. ". Waktu berlalu, dan ternyata, pengumuman sudah ada setelah kami shalat Ashar. Sambil menuju kampus dengan perasaan yang campur aduk, aku dapat telepon dari temanku bahwa aku lulus. Alhamdulillaah.. Ya.. Meskipun dengan peringatan di farmakologi, hehe. Tapi gapapa deh, yang penting lulus. Saat ujian tersebut, ada 4 orang yang tidak memakai partner, aku, dan 3 orang teman ikhwan. Tapi cuma aku yang ga pake markas.. Hihi... Dari 4 orang itu, 2 orang lulus dan 2 lagi belum lulus. 


Ujian Praktek.
Aku dapat di lab pengujian mutu atau analisis. Ujian praktek ini berlangsung selama 3 hari. Aku dapat pengujian HPLC dan Spektrofotometri Infra Red, yang lainnya lupa lagi.. Hehe..
Saat ujian praktek hari pertama, aku dapat ujian (kan emang lagi ujian bukan? :D). Zat pembandingku tidak ada!! Wah, kemana coba?? Hadeh.. Kucoba tanya assisten, merekapun bingung mencarinya. Ya Rabb.. aku kan butuh itu untuk HPLC. aku kebagian HPLC hari pertama. Kata kakak assisten, aku disuruh uji yang lain dulu aja, yang ga butuh pembanding. Sudah ingin berteriak saja. "Kakak, pengujian yang lain itu butuh preparasi sampel selama 16 jam baru bisa diuji!!". Hiks.. Gimana ini, mana katanya baru ada jam 13 an pembandingku. Ckckck.. Allah.. Ya udah, mencoba stay cool aja meski hati dagdigdug. Mengerjakan yang bisa kukerjakan. Sudah begitu, aku butuh pemanasan saat pengujian ISDN kan, dan ISDN itu mudah meledak dengan pemanasan. Haha. Berasa eksperimen uji nyali gini. Temen-temenku bilang, "Rin, kalau lab ini meledak gara-gara ISDN kamu, ntar kita masuk koran lho!". Mereka itu yaa.. Masih aja ngaco. Hm, tapi gara-gara ISDN yang mudah meledak itu, aku bilang ke kakak assistennya, dan jadilah ia mengikutiku terus, karena khawatir aku melakukan sesuatu yang aneh. padahal kan seiseng-isengnya aku juga, kalo lagi ujian ya ga bakal iseng  juga sih.. Ngikut prosedur.. :) Tapi alhamdulillaah, zat pembandingku ketemu jam 9 lebih sedikit. Hadeh,, ISDN ku itu yaa.. ngilang-ngilang aja.. Tapi, alhamdulillaah masih berjodoh untuk bertemu cepat. Wkwkwk.. Segera preparasi sampel lalu HPLC seharian. Ujian praktek ini sampai hari ketiga alhamdulillah begitu merasakan pertolongan Allah. Meski di awal ada insiden dulu. Di hari ketiga pun, alhamdulilllah, aku selesai membuat jurnal praktek pada pukul 14.00, padahal akhir ujian itu pukul 17.00. Subhaanallaah.. Allah memang oke banget. Sebaik-baik penolong.. :)

Pengumuman kelulusan sepekan kemudian. Lalu lanjut ke sidang. Alhamdulillaah.. Berjalan lancar meski harus berhadapan dengan para praktisi yang pertanyaannya unpredictable. Dan lulus kembali di tahap ini yang mengantarkanku pada pelantikan apoteker dan menambahkan Apt pada namaku. Hehe. 

Ada hal yang membahagiakanku dibanding dengan bertambahnya gelar Apt di belakang namaku. Aku berhasil membuktikan bahwa Allah memang sebaik-baik partner dan penolong. Hanya Ia tempat kita bergantung. Bukan manusia yang penuh dengan keterbatasan. Ia bisa memudahkan, bahkan disaat sesulit apapun. Yang kita butuhkan hanyalah keyakinan akan kuasaNya. Komitmen untuk menjadikanNya sebagai satu-satunya tempat bersandar seperti ikrar kita dalam setiap shalat kita. Percayalah, Allah takkan menyia-nyiakan hambaNya yang ingin mendekat padaNya. Yap, satu lagi tarbiyah Allah di ujian apotekerku ini. :)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..