Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

Cerita Mereka

Di suatu weekend...
Sang istri sedang ada agenda...
Suami dengan setia menemani dengan bermain bersama anak...
Oh iya, tidak hanya satu weekend saja..
Namun hampir setiap weekend...

Saat istri ada agenda dari pagi hingga sore...
Suami di rumah menjaga anak, agar istri dapat fokus mengikuti agenda...

__________________________________

Ada seorang istri, yang ketika ada agenda... semua anaknya dibawa... dengan menggunakan kendaraan beroda dua... Ia jaga baik-baik anaknya..

Jika sang suami sedang kosong, maka anak-anak bersama suaminya... bahkan sering saat istri ada agenda, suami membawa anak-anak jalan-jalam ke tempat wisata...

________________________________

Kulihat, satu keluarga...
Ayah, ibu, dan 3 orang anaknya...
Mengendarai kendaraan beroda dua...
Menembus hujan yang mengguyur...
Hanya untuk sampai di sebuah acara....

Ya... 1 motor dengan 5 penumpang... Khawatir? Jelas...
Tapi yang terbaca dari raut wajah suami dan istri tersebut? Hanya senyuman... :)))

_________________________________

Maka bersyukurlah, saat kita mungkin tak asing dengan kondisi seperti di atas... Atau bahkan mungkin menjadi bagian dari keseharian kita...

Menjadi partner dalam dakwah... dalam tarbiyah bersama pasangan, adalah anugerah...
Nikmat yang luar biasa...
Yang karena alasan tersebut, entah berapa kali kau berucap hamdalah, dan berterima kasih pada sosok yang menemani setiap langkah dakwah ini..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Sabtu, 12 Maret 2016

Saling Melengkapi

Kata orang, biasanya jodoh itu saling melengkapi... Atau, hm... cari pasangan itu yang bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Benar ga sih?

Aku tidak tau pasti...
Karena masalah jodoh urusan Allah...
Mau secocok apapun kita dengan seseorang dan berharap bahwa ia adalah jodoh kita, jika Allah berkata ia bukan jodoh kita, maka tak akan bertemu...

Soal urusan saling melengkapi ini... Kalau aku dan abang, ada yang kurang cocok dengan teori ini.. Haha... Kami ini sama-sama ceroboh.. Karena dua-duanya ceroboh, jadi ga bisa saling melengkapi, bukan?

Tapi, apakah itu jadi masalah?
So far sih ga...
Karena kadang, kami tetap bisa saling melengkapi dalam hal ini...
Saat aku ceroboh, abang lagi ga...
Begitu sebaliknya... haha...
Itu sih maksakeun... :p
Biarlah...
Tak harus selalu sejalan dengan teori secara keseluruhan...

Jalani saja... :*

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Senin, 11 Januari 2016

Family Time

Hari Ahad kemarin, kami tidak ada agenda keluar. Biasanya weekend selalu ada acara.. Tapi ahad kemarin tidak.. Jadi kami sudah merencanakan bawa Umar untuk ke kolam renang.

Sepulang dari Lampung, Umar begitu antusias untuk berenang... Dan pakai rompi pelampungnya... Hingga beberapa kali meminta untuk berenang di kamar mandi.. Haha... pakai ember besar.. Tapi ya ga cukup puas... Umarnya sih ketawa-ketawa aja... Pakai jolang yang dipakai saat Umar mandi ketika bayi, Umar menganggap itu sebagai kolam renang.. wkwkwk.. Makanya ahad rencananya memang Umar dibawa ke kolam renang. Sekalian abang olahraga... 

Hari Sabtunya, Wafaa cerita kalau sudah ke Batu Templek. Hehe.. Aku aja yang rumahnya di Pasir Impun belum pernah kesana. Sudah ingin dari lama, tapi weekend selalu ada agenda, jadi terburu-buru untuk menyiapkan agenda... Jadi ga sempat pergi. Atau weeekend ada di Sarijadi atau Kopo.. hihi...

Nah, saat aku bilang ke abang kalau Wafaa sudah ke Batu Templek, saat itu juga abang bilang, kalau kesana saja dulu pagi itu.. Pulang dari sana baru ajak Umar renang..

Akhirnya pagi itu kami ke Batu Templek dulu. Dari rumah sekitar 15 menitan... Sampai sanaa.... airnya lagi kotor... sama seperti terakhir Wafaa kesini... Umar malah tertarik liat bebek kecil di kolamnya, bukan air terjunnya... Mau mendekat ke arah air terjunnya, agak risih, soalnya ada 2 orang mas-mas yang lagi asyik foto-foto dengan berbagai gaya dan dari banyak sudut pengambilan foto... haha.... Saat kita datang, mas-mas itu sudah ada, dan saat kita pulang, mas-mas itu pun masih foto-foto... wkwkwk..... Jadi, ke Batu Templek hanya melihat saja tempatnya, dan mengantar Umar melihat bebek... :p

Karena sudah banyak orang datang kesana, maka kami pulang saja, untuk siap-siap berenang. Kami mau mencoba ke kolam renang yang ada di komplek Tamansari Bukit Bandung. Tidak terlalu jauh juga dari rumah.

Setelah beres-beres, sarapan, kami segera ke kolam renang. Karena weekend, harga tiket 30 rb per orang. Weekday 20 rb. Begitu masuk ke area kolam renang, kesan pertama tempatnya nyaman dan enakeun. Hehe... Umar masih melihat-lihat saja... belum mau diajak turun ke kolam renang. Kalau bahasa abang mah, Umar masih scanning. Hehe... Jadi abang dulu yang berenang. Pelan-pelan Umar kami ajak ke area kolam dangkalnya. Akhirnya Umar mau. Dan malah ketagihan... Bahkan Umar sudah berani melompat dari pinggir kolam renang dan ditangkap oleh abinya di bawah... alhamdulillaah... Sepertinya memang pengalaman saat di Lampung kemarin, di Pulau Pahawang, membuat Umar terakselerasi dalam keberanian dan skill di kolam renang. Mungkin karena langsung dimasukkan ke laut, saat di Lampung.. hehe.. jadi ketagihan... Dulu-dulu kalau diajak ke kolam renang tidak se excited saat ini... Alhamdulillaah... :))

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 01 Desember 2015

3rd eRYeversary

Hari ini 1 Desember yang ketigaa... hehe... 3rd eRYeversary ceritanya.. halah... :p

Hehe.. ya nothing special sih...
Maksudnya ga ada macem keharusan pergi kemanalah atau melakukan apalah untuk merayakan itu.. Ya bukan sesuatu yang harus dirayakan juga sih... Yang ada ya harus disyukuri.... :))

Lagipula ini kan weekday, jadi kalau mau jalan bareng abang ya ga bisa, kan abang ngantor... Dan hari ini, aku sama Umar ikut field trip SABUMI ke Jendela Alam. Ya setidaknya, ga ada acara bareng abang, tapi ada acara bareng keluarga yang lain.. hohoho...

3 tahun sudah Allah mempersatukan kami dalam sebuah ikatan bernama mitsaqan ghalizha....

Awal menikah adalah momen-momen perjuangan banget untuk kami.. Rasanya Allah menempa kami lebih keras di awal pernikahan, mendewasakan kami dengan berbagai ujian dan masalah untuk dihadapi... Belajar untuk mengerti dan memahami... Belajar untuk ikhlas... Meski bagian ini, hingga saat ini pun masih berusaha...

Visi pernikahan masih harus terus diperjuangkan...
Karena pernikahan bukan hanya masalah : aku menikah dengan dia, lalu memiliki anak, dan hidup bahagia selamanya. :p <<--- ini sih kayanya ada di dongeng-dongeng aja. Hwehehehe..

Pernikahan adalah bagian dari menjadi batu bata peradaban ummat. Bukan seberapa banyak materi yang telah kita raih, bukan seberapa banyak anak yang telah dimiliki, namun seberapa dekat setiap anggota keluarga kepada Allah.

Kita masih sama-sama harus belajar untuk mengerti dan memahami... Kita masih sama-sama harus menguatkan langkah dan tetap meluruskan niat...

We called it eRYeversary.

1 Desember yang ketiga.

"Tempat yang akan kita kunjungi menjadi tak seberapa penting, saat kita pergi bersamanya."

Mungkin ini kata-kata seorang kekasih.

Namun, kalimat ini pun pernah ada dalam benak saat dulu.

"Mungkin dengan "siapa" bukan hal yang teramat penting, saat seseorang tersebut mengajak kita menuju tempat yang kita harapkan."

Itu saat kau bicara surga.

Adakalanya tempat bukanlah hal yang penting, namun dalam konteks lain, tempat menjadi begitu penting.

Adakalanya seseorang yang membersamai kita menjadi teramat penting, namun dalam konteks lain, seseorang menjadi prioritas berikutnya.

Aku menemukan 2 kalimat itu pada satu jiwa.

Ini tanggal 1 Desember yang ketiga.

Bukan waktu yang terlalu singkat, namun juga bukan waktu yang panjang...

Saatnya bertanya, apakah visi surga masih ada dalam keseharian kita...

Saatnya mengevaluasi, seberapa dekatkah kita menuju padaNya..

Jika surga tak lagi ada dalam pandangan, maka bagaimana semangat untuk mengejarnya?

Kita akan berlari-larian, berkejaran melampaui celah-celah kebaikan hingga kaki menjejak di surga.

Kita akan mengeja, mengejar dan mencita CintaNya.

Azzam itu masih tetap sama.
Jika ada salah satu dari kita yang menjauh dariNya, maka tangan salah satu dari kita akan berusaha mengulur untuk menariknya kembali.

Karena diantara kita, tak akan ada kata cinta saat cinta Allah kita abaikan, bukan?

~eR~

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Sabtu, 04 Juli 2015

Di Suatu Malam

Saat itu sudah pukul 19.50 WIB. Umar terlihat mengantuk. Akhirnya ia kubawa ke tempat tidur. Tak lama, hanya dengan dikipas saja, ia bisa tertidur. Alhamdulillah... jam 20.00 Umar bisa tidur itu suatu anugrah.. hehe.. Jadi bisa melakukan hal lain lebih pagi. Abang belum pulang, karena habis buka bersama di kantor. Aku melanjutkan menulis dulu. Hingga pukul 20.20 WIB abang pulang.

Abang setoran hadits, karena sudah mendekati injury time.. hehe.. jam 9 malam batasnya. Setelah abang selesai setoran, ternyata Umar bangun, dan segera terduduk. Dengan wajah masih mengantuk dan sambil mengucek-ngucek mata, ia tersenyum senang melihat abinya. Lalu ia bergegas turun dari kasur dan berlari menghambur memeluk abinya. Waah... Umar senang sekali melihat abinya sudah pulang.. Memang biasanya Umar baru bisa tidur saat abang sudah pulang. Dan akhirnya, Umar tidur kembali jam 11 malem. Haha.. gubrak.com. Abinya pun sudah tidur dari jam 10.30... Wkwkwk.... :)

Tapi melihat pemandangan seperti tadi, Umar begitu senang saat abinya datang, itu adalah nikmat yang harus disyukuri. Pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Alhamdulillaah...

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Minggu, 22 Februari 2015

Let's Swim, Umar!

Waah... udah beberapa hari absen nulis disini nih... ada yang kangen gak ya? Huehehe... :p

Akhir-akhir ini rada kacau bin balau aktivitasnya... karena lagi bolak-balik sarijadi kopo pasir impun... hehe... Jadi kadang waktu buat nulis suka ga ada... :)

Alhamdulillaah salah satu targetan bulan Maret ini tercapai. Mengajak Umar berenaang.... :*

Sebelum berenang, kami membeli pelampung dulu buat Umar di Yens Setiabudhi. Karena saat itu kami sedang di Sarijadi, jadi kami berenang di Karang Setra Waterland. Udah lama juga aku gak kesini. Hari itu hari Selasa, jadi tiket masuknya sehargs 25ribu rupiah. Kalau weekend, 30ribu rupiah. Kami datang pagi hari sekitar pukul 08.20. WIB. Saat itu kolam renang sudah cukup banyak pengunjungnya. Umumnya dari rombongan anak SD. Kami mencari kolam renang yang dangkal. Tapi karena sudah cukup ramai, akhirnya kami menuju kolam pantai. Saat masuk ke kolam renang, awalnya Umar takut dan mulai merengek. Namun, tetap diajak oleh abang mencoba masuk. Lalu kami pindah ke kolam yang dangkal tadi. Cari tempat yang agak sepi. Tapi Umar belum enjoy. Hehe.. jadinya Umar bagian main air di pinggir kolam. Sedang abang berenang. Pulang dari sini, Umar tertidur cukup lama, mungkin kelelahan..:)

Berenang yang kedua, saat itu kami sedang menginap di Kopo, jadi kami berenang di Gelanggang Renang Bandung Indah atau Big Waterpark di Lanud Sulaiman. Kami tiba pukul 08.45 WIB. Saat itu weekend, hari Sabtu, jadi kami bayar 25ribu. Saat weekday, tarif masuk seharga 20ribu. Aku baru pertama kesini. Dan.. woow... tempatnya enakeun.. gak kalah sama Karang Setra yang sudah terkenal. Kolam dangkalnya kalau disini cocok banget buat Umar. Meskipun airnya tidak hangat, tapi Umar enjoy main disana. Diajak sama abang berenang pun, Umar bisa menikmatinya. Mungkin waktu di Karang Setra, itu pertama kalinya buat Umar, sehingga Umar masih takut-takut. Umar senang banget, apalagi waktu main serodotan yang di pinggir kolam. Euh... sampai gak mau udahan. Plus nya, disini itu sepi, dibanding di Karang Setra, jadi kita lebih bebas, lebih berasa kolam pribadi.. Wkwkwk... Kita sih seneng kalau sepi, kalau pengelolanya mah malah ga mau sepi kali ya.. :p Pulang dari sini pun Umar tertidur. Tapi hanya sebentar...

Alhamdulillaah... Jadi juga mengajak Umar berenang... Let's have another adventure, Umar!

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 21 Januari 2015

A Year With You

16 Januari 2015 kemarin, Umar tepat 12 bulan. Atau 1 tahun. Belum bisa jalan, tapi sudah mulai melangkah satu satu. 

Satu tahun itu berarti banyak. Melihat perkembangannya dari bayi baru lahir, hingga sekarang udah bisa banyak hal. Masyaallah...

Satu tahun itu berarti baru belajar menjadi orangtua selama 12 bulan...  Masih terlalu banyak salahnya.
Masih terlalu banyak tidak sabarnya...

Satu tahun itu... Mengingatkan pada peristiwa setahun lalu... Perjuangan agar bisa melahirkan seorang anak...

Semoga senantiasa menjadi anak yang shalih, Umar...
Kuat seperti Umar bin Khathab, dan
Bijaksana seperti Umar bin Abdul Azziz...

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Sabtu, 10 Januari 2015

Ke Alun-alun Part 2

Hari Jumat kemarin, aku dan Umar diantar abang ke Sarijadi pada pagi hari. Main ceritanya... Umar juga mandi pagi di Sarijadi. Hehe... 

Karena aku ga nginep di Sarijadi. Jadi ajak ibu jalan-jalan aja. Akhirnya memutuskan ke Alun-alun lagi aja. Soalnya hari Rabu kemarin kan waktu ke alun-alun tersita buat ngantri bandros aja. Jadi sebentar banget. Ga bisa nyobain di lapangan rumputnya.. Hehe...

Baru berangkat jam 11 lebih dari rumah. Sampai stasiun, jalan menuju alun-alun, sambil ibu liat kain-kain untuk bahan jilbab. Sampai alun-alun, orang-orang baru bubaran shalat Jumat. Kami pun shalat Dzuhr dulu. Setelah shalat Dzuhr, makan siang dulu di Ampera dekat sana. Hehe... Udah makan aja ya... padahal baru dateng.

Yeeay... setelah makan, kami menuju lapangan rput alun-alun. Tadinya, mau coba naik menara masjidnya.. Tapi duduk di lapangan rumputnya saja sudah nyaman sekali..:)

Saat melangkah di lapangan rumputnya... Woow... Hehe... Enakeun... Cari tempat yang teduh. Lalu Umar pun bermain-main disana. Sambil sesekali tiduran, dan 'nyungsep' hehe.... Alhamdulillaah Umar seneng banget.

Alhamdulillaah, warga Bandung sekarang punya alternatif tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Memanfaatkan kebersamaan dengan keluarga di tempat yang nyaman, dan murmer. Heuheu... Pulangnya, aku dan ibu pisah. Aku naik bis damri ke arah Cibiru. Sekali naik... Nanti tinggal naik ojek deh... :)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kamis, 08 Januari 2015

Naik Bandros

Ini sebenarnya pengalaman hari kemarin. Aku dan ibu janjian di masjid raya Bandung alun-alun. Kami janjian jam setengah 9. Ceritanya sih mau naik Bandros. Karena sekarang tempat Bandros sudah berpindah ke alun-alun. Dulu di Taman Kandaga Puspa dan Cibeunying Park. Aku diantar abang ke alun-alun.

Ternyata ibu sudah datang duluan dan mengantri Bandros. Hmm... Antriannyaaaa... luar biasa panjang... Aku menggantikan ibu mengantri. Ibu sama Umar duduk di kursi dekat tempat mengantri. Antriannya itu lho... Ga maju-maju... Hiks... Dan ternyata oh ternyata.... Armada Bandros nya yang beroperasi hanya satu. Yang warna merah saja. Pantas saja ini antrian begitu panjang. Antusiasme masyarakat yang luar biasa besar, namun armada terbatas. Ditambah ini masih terhitung liburan anak sekolah. Hehehe... Haduh... Tambah deh... Tadinya aku udah mau menyerah saja... Mending jalan-jalan sekitar alun-alun atau naik menara masjidnya. Tapi urung kulakukan. Sebab kalau melihat antrian di belakangku yang panjang sekali itu, rasanya sayang banget... Hehe...

Makin siang makin banyak keluhan yang keluar dari orang yang antri tiket. Masalah utamanya itu, mau ga mau, mengantri sekian lama itu harus berdiri. Tidak ada nomor urut antrian. Jadi biar ga diisi orang lain yaa harus mengantri dan berdiri. Sekitar pukul 11, barulah diberikan nomor antrian. Aku dapat nomor 84 dan 85. Dan dibatasi hanya sampai nomor 120. Karena tiket telah habis. Bayangkan betapa kecewanya mereka yang sudah antri di belakang itu, kemudian tidak mendapatkan tiket karena habis? Ada yang dari luar Bandung bahkan. Seperti Majalaya, dan Cicalengka. Mungkin baiknya untuk ke depan, jumlah tiket sudah dibatasi misal sekian, dan itu diumumkan. Saat terlihat orang yang antri sudah overload, segera saja antrian di stop. Sehingga tidak perlu ada orang yang mengantri padahal ia tidak bisa mendapat tiket.

Banyak yang mengajukan komplain ke petugas. Hehe... Aku masih berdiri sambil menahan pegal. Bayangkan, dari jam 9! Pukul 12, baru bisa dapat tiket. Harga tiket 10ribu. Karena bisnya baru berangkat, berarti giliran kami sekitar 45 menit lagi. Yasudah, kami shalat Dzuhr dulu.

Setengah 1, kami kembali. Tak lama, Bandros pun datang. Yeay... finally bisa naik juga nih. Tapi udah capek duluan. Jadi di dalam bandros cuma tersisa lelahnya saja. Hehe. Rute yang dilalui : Alun-alun - Banceuy - Braga - Lengkong - Veteran- Sunda - Sumbawa - Banda - Riau - Citarum - Diponegoro - Merdeka - Tamblong - Asia Afrika - Alun-alun. Sampai alun-alun pukul 13.30. Karena aku ada agenda lagi, jadi turun dari Bandros, langsung ke stasiun, dan pisah sama ibu disana.

Pfufh... Melelahkan memang... Tapi ya... Sesuatu yang baru pastilah banyak kekurangan dan perlu perbaikan. Namun, Bandros ini sudah merupakan terobosan baru di kota Bandung. Kita harus mengapresiasinya. Ditunggu perbaikan sistem dan penambahan armada Bandrosnya.. hehe.. biar lebih optimal... :)))

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena dism berarti kematian-

Rabu, 27 November 2013

Nikmat Itu Sederhana

Sabtu kemarin, aku jadi panitia JR di Alkautsar. Acara akan dimulai pukul 12.30. Sebelum ke alka, aku dan abang pergi dulu ke tempat jualan kaos polos di daerah Sukajadi. Buat survey harga kaos untuk danus M-Camp. Setelah itu, mampir sebentar ke Polrestabes Bandung yang ada di jalan Merdeka. Untuk melihat syarat-syarat pembuatan SKCK. Abang butuh membuat SKCK soalnya. Setelah mengingat-ngingat persyaratan yang diperlukan, kami pun menuju alka. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.10 WIB. 

Hmm... Mendekati waktu makan siang... 
Abang mengajakku makan. Di dekat alka, ada penjual soto ayam madura yang enaaak banget. Hehe... Bapak ini sudah berjualan disana sejak kami masih SMP dulu. Ayah abang juga suka kesini. Sotonya enak banget.
Sebelum kami turun dari motor pun, abang udah bilang ke bapaknya, pesan soto 2. Hehe...
Pesanan sudah jadi. Alhamdulillaah... Lalu kamipun khusyuk menikmati soto madura itu. 
Punya abang sudah habis. Lalu abang bilang, "Nikmat say..."
Aku tersenyum saja. Karena punyaku masih belum habis... Ya fokus ngabisin dululah... :P

Setelah makan, abang mengantarku ke alka. 

Aku jadi berpikir, ternyata, nikmat itu memang sederhana ya. Jika semua kita syukuri. Makan soto ayam madura seharga 10 ribu di pinggir jalan saja sudah nikmat. Hmm.... Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? 

Habis Dzuhur, ketemu Teh Ina yang belum makan dan mau cari makan. Yaah... kalo aku belum makan, aku ajak Teh Ina ke soto ayam maduranya. Wkwkwkwk.... :p

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-




Senin, 08 April 2013

Demak Itu : Sesuatu :)

Pekan kemarin, aku dan suamiku pergi ke tempat pakde di Demak. Awalnya, kami akan pergi kesana pada kamis malam. Namun, saat kami pergi ke Bandung Express untuk memesan tiket, ternyata sudah penuh. Kami coba ke Nusantara, penuh juga, ke stasiun kereta, full booked, travel Cipaganti, sama saja. Padahal kami ke memesan tiket pada hari Senin, 3 hari sebelum keberangkatan, namun semua sudah full. Kami lupa bahwa pekan tanggal dimana kami merencanakan untuk berangkat adalah long weekend. Semua orang akan berfikir sama untuk berlibur, dan sudah merencanakan dari jauh-jauh hari.

Selasa, aku masih berusaha browsing, apa ada travel selain Cipaganti yang  ke Semarang. Eh, ternyata aku mendapatkan info tentang bis Pahala Kencana. Baru berhasil dihubungi Rabu siang. Ada sih keberangkatan hari Kamis, tapi siang. Sebelum kami memesan tiket Pahala Kencana, kami cek dulu apakah kami bisa mendapatkan tiket pulang pada ahad malam atau tidak. Ternyata tidak ada yang kosong untuk Ahad malam. Akhirnya, keberangkatan ke Demak pun dicancel.

Kukabari pakde. Jum'at sore, pakde baru balas sms, dan isinyaaaa.... *tuktuk*. Ternyata pakde sudah menyiapkan tiket pulang untuk kami dan lain-lainnya. Ku-sms abang. Dan.. Tak berapa lama, kami segera memutuskan untuk berangkat malam itu juga. Entah dengan apa. Kami berbagi tugas menghubungi travel, PO atau stasiun. Akhirnya, kami bisa berangkat dengan menggunakan KA Harina sampai ke Stasiun Tawang Semarang. (Sampai disini, aku berpikir, kami ini memang pasangan spesialis dadakan ya... hehe... :)).

Sampai Semarang sekitar pukul 05.15 keesokan harinya. Segera berwudhu dan shalat Subuh. Baru kali ini aku ke tempat pakde pakai kereta. Telfon pakde, tanya naik apa lagi ke rumah pakde di Demak dari stasiun. Oke, naik angkot sampai terminal Terboyo, lalu naik bis sampai depan rumah pakde. Karena kami ga hafal rumah pakde, jadi berhenti di Pasar Karanganyar.

Selama 3 hari di Demak, setiap hari kami pergi ke makam sunan-sunan. Sebenernya sih ga terlalu minat juga kesana, tapi pakde tuh promosi terus, yaudah, sambil jalan-jalan sambil nyenengin pakde juga, akhirnya kami pergi deh. hehe... Hari pertama ke Menara Kudus, makam Sunan Kudus, hari kedua, pergi ke Kadilangu, makam Sunan Kalijaga dan Masjid Agung Demak, dan hari ketiga ke Gunung Muria, makam Sunan Muria. Pemandangan di ketiga makam tersebut hampir sama. Banyak orang yang mengaji di sekitarnya.Hmm... Miris memang... Di daerah jawa kan masih kental yang seperti itu.. Makanya, sebenernya kami ga terlalu tertarik ke makam sunan, tapi minimal jadi jalan-jalan... Tau Menara yang terkenal di Kudus, Masjid Agung Demak, dan pergi ke gunung! hehe... Beneran gunung. Jalan menuju kesana seperti ke Lembang kalau di Bandung. Untuk mencapai makam Sunan Muria, kami harus menaiki anak tangga yang begitu banyak. Kalo orang-orang ada yang sampai ngitungin jumlah anak tangganya. Kalau aku sih ngga.. Udah ngos-ngosan sendiri... Wkwkwkwk... :D

Well... Tapi banyak hal yang kudapat dari perjalanan ke makam sunan-sunan tersebut. Intinya satu sih, bahwa perjalanan dan peer dakwah kita masih begitu panjang... Bagaimana memberi pemahaman Islam yang baik terhadap masyarakat.

Disini juga aku bertemu dengan keponakan-keponakanku yang sudah lama tidak melihat mereka. Yang paling berkesan ya ketemu anaknya Mbak Rani, Randi dan Maudi. Bocah abisss!! Apalagi Maudi.. Cerewetnyaaa... Luar biasa. Ada hal yang paling lucu menurutku. Pagi hari ketiga, aku, abang, Mbak rani dan kedua anaknya pergi untuk sarapan di Lentog Tanjung. Sebelum masuk warungnya, di halaman warung ada pohon kersen. Dan si kecil Maudi meminta pada mamanya untuk mengambilkan kersen, namun, mamanya tidak menurutinya, karena buahnya cukup jauh. Akhirnya kami semua masuk ke dalam warung. Saat sedang makan di warung itu, ada kucing yang masuk dan mulai menghampiri tempat duduk aku, Maudi dan Mbak Rani. Spontan Maudi berteriak, "Om!! Ono kucing, Om... Wedi aku Om..". Kaki kecilnya segera ia angkat tinggi-tinggi. Suamiku membawa kucing keluar warung. Namun, tak lama, kucing itu masuk kembali, lalu Maudi berteriak lagi, dan suamiku membawa kucing itu keluar lagi. Hal itu terjadi 3 kali. Hehe.. Setelah makan, kami segera beranjak pulang. Saat di halaman warung, Maudi kembali meminta kersen, namun kali ini pada suamiku. "Om, kersen Om..."

Suamiku mengambilkan satu buah kersen untuknya dan memberikannya pada Maudi. Secepat kilat, buah kersen itu sudah ada di mulutnya. Melihat itu, si abang berseru, "Astaghfirullah..." dengan wajah yang terlihat menyesal. Kutanyalah, "Kenapa, Bang, ada yang lupa?", si abang hanya menggeleng seraya berkata, "Tadi abang ambil kersen pake tangan kanan, bekas pegang kucing... belum cuci tangan.. Kirain kersennya cuma buat mainan, ga langsung dimakan... Ternyata..."
Kami memandang Maudi... Dan... dia hanya tertawa penuh kemenangan, sambil memamerkan kersen yang ada di mulutnya... Ga tau kalo kersen itu udah bercampur dengan aroma kucing... Ya Allah... Hehe... Ekspresi abang sama Maudi tuh lucu banget.. Yang satu menyesal setengah mati, yang satunya malah tertawa gembira.. Tapi alhamdulillah, Maudi gak papa.. :)

Banyak yang kami dapat disini... Interaksi dengan bocah-bocah lucu, pengalaman-pengalaman, dahsyatnya silaturahim, dan masih banyak lagi.. Tapi kayanya yang paling berkesan buat si abang adalah bahwa Demak menjadi titik tolak, dimana yang biasanya abang susah untuk mandi, di Demak sehari bisa mandi 3-4 kali sehari, dan dimana yang biasanya abang bisa makan apa aja segimanapun juga, di Demak, si abang menyerah sama makanan. Hehe... :)


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-


Menara Kudus

Maudi :)

Masjid Agung Demak

Abang :)

Randi-Maudi





Sabtu, 06 April 2013

Allah :)

Kemarin, saat menjelajahi facebook, ada artikel yang sangat bagus. Dari facebooknya Mas Arya Abie Adham. Yang berjudul "Ketika Anak Bertanya Tentang Allah". Artikel ini mengajarkan kita bagaimna mengajarkan tentang Allah pada anak-anak kita kelak. Mengajarkan anak tentang Allah sangatlah penting, karena mengajarkan mereka mengenali Rabb mereka, belajar berma'rifat pada Allah. Karena cinta tertinggi sudah seharusnya untuk Allah, bukan? Ini artikelnya.. :)



KETIKA ANAK BERTANYA TENTANG ALLAH
Allah itu Siapa?
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe).

Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”


Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Jawablah:
“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”
Jangan jawab begini:
“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:
“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“
Jangan jawab begini:
Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid (57) : 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧)

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini:
“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”

Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip "Allahu Akbar" itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:
“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”
[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)

“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”
Jangan jawab begini:
“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:
“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”
(Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]

Katakan juga pada anak:

“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”

“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”

Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

Allahu a’lam.

sumber : “ Mutiara Hikmah “


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergetaklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 04 September 2012

Released : My Family Album!

Finally!!
Finally apa ini teh? Hehe.. #modus

Akhirnya, keluarga kami punya juga foto keluarga. :) 
Sebenernya sih udah lama banget pengen foto keluarga. Tapi selalu sulit mengumpulkan semua untuk foto, padahal cuma berempat sih. 

Mulai dari masalah dresscode, sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Adikku mengusulkan untuk memakai hanbok.. Baju korea gitu.. Tapi ayah sama ibu ga setuju. Awalnya aku juga ga setuju sih, tapi ade bilang, "Bagus, mbak.. Lucu tau..Hehe..". Ya boleh aja sih, tapi mau cari dimana? Ah, memang adikku itu korea mania.. Akhirnya hanbok pun didelete dari daftar dresscode yang akan kami pakai di foto keluarga nanti. 
 
Setelah sekian lama direncanakan, alhamdulillah... ternyata waktu terbaik untuk foto keluarga kami adalah pada H-1 idul fitri tahun ini, alias tanggal 18 Agustus kemarin. Adikku sudah libur dari kantornya, jadi ia sudah di Bandung. Kami sepakat untuk bertemu di Jonas Banda pada sore hari, karena H-1 idul fitri pun aku masih bekerja..:(

Setelah memilih-milih paket kami menuju studio. Aku sih edisi ganti kostum secepat kilat. Hehe. Tanpa persiapan apapun. Yang tersisa adalah energi sisa kerja.. karena ternyata, pasien di rumah sakit H-1 idul fitri tetap saja banyak.

Dan kemarin, aku mengambil hasilnya. Membawa foto 16R dengan frame itu memang sesuatu sekali.. Hehe..

Inilah hasilnya...


It's wonderful.. :)
 Ibu dan ayahku tercinta..
My lovely parent
 Ini aku dan adikku.. Adik yang lebih dewasa dan lebih caaantiik.. Hehe.. :)

My beloved sister.. The only one and only.. :*




 
Overall... Semoga Allah berkenan memberikan cinta dan petunjukNya selalu untuk keluarga kami.. :*


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-


Kamis, 21 Juni 2012

Getar Rindu

Pernah merasakan keadaan seperti ini, saat ingin bertemu dengan seseorang yang dulu pernah dekat denganmu, tetapi kau bahkan tidak tahu dimana ia saat ini dan bagaimana cara menghubunginya?

Itu yang kurasakan saat ini.
Berawal dari tak sengaja kutemukan fotoku 20 tahun yang lalu. Wah, udah lama banget ya.. Ada dua foto, foto pertama fotoku dengan adikku. Foto kedua adalah foto aku, adikku dan kakak sepupuku, masku. Aku ingat betul, betapa dulu aku begitu dekat dengan masku itu. Beda usia kami memang jauh. Aku berusia 5 tahun, masku itu sudah SMA kalau aku tidak salah ingat. Tapi masku itu sudah menganggap kami -aku dan adikku- sebagai adik kecilnya saja. Setiap ke Bandung, pasti ia akan bersama kami. 

Suatu saat, masku itu sedang ke Bandung. Ia sudah ada di rumah. Karena ayah mau mengunjungi mbah di BuahBatu, maka mas pun ikut kesana. Ayah, ibu dan adikku pergi dengan motor kami. Sedang aku pergi bersamanya menggunakan angkutan umum. Aku memang ingin pergi bersamanya. Sepanjang perjalanan, masku selalu menggandeng tanganku. Yah, emang karena aku masih kecil sih ya.. Masih SD, kelas 1 kalau tidak salah. Lagian aku juga emang agak-agak "maceuh"... hehe.. Tangan kiriku digandengnya, sedang tangan kananku memegang Capri Sonne. Minuman yang selalu ia berikan setiap bertemu denganku.  


Semua yang dilakukannya terekam dengan baik dalam memori masa kanak-kanakku. Hingga ia menikah, dan memiliki anak kembar, kamipun masih sering berkomunikasi. Tapi itu terakhir ketika aku SMA. Setelah itu... Ia tak bisa kuhubungi. Banyak yang bilang, ia berubah. Tapi bagiku ia tetaplah kakakku. Dan kemarin-kemarin, saat aku menemukan foto kami bertiga, aku bilang pada ayahku bahwa aku kangen sama masku itu. Ayah pun memberiku nomor hp mas yang terakhir ayah punya. Oke. Kuhubungi ia. Ah.. Ternyata memang belum berjodoh. SMS ku gagal, dan teleponku tak tersambung. Hm, kata ayah, mungkin ia sudah ganti nomor. 

Kutanya mas atau mbakku yang lain, tapi tak ada satupun yang tahu dimana ia. 

Ya Rabb, jika memang belum saatnya aku bertemu dengannya kembali saat ini, kumohon satu hal saja, jaga masku dimanapun ia berada. Kutitipkan ia padaMu. Bagaimanapun ia, ia tetaplah kakakku.. Semoga saja Mas Tito bisa baca tulisan ini. :)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Minggu, 20 Mei 2012

My Lovely Family

Seorang anak yang dibesarkan oleh ayah berdarah Jawa dan ibu berdarah Padang. Itulah aku. Anak pertama dari dua bersaudara. Aku besyukur dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga ini. Meskipun aku sangat menginginkan punya kakak laki-laki (haha.. tetep..), tapi banyak cara yang Allah berikan untuk tetap dapat merasakan bagaimana memiliki kakak laki-laki (ya kakak sepupuku yang laki-lakilah jadi korbannya..:D). Perpaduan Jawa Padang itulah yang membuatku bisa melihat dua kultur yang berbeda. Warna yang berbeda pula. Oke, back to the topic. Alhamdulillaah aku memiliki amazing parent seperti ayah dan ibuku. Dan tentunya my lovely sister seperti adikku, saudara yang hanya terpaut satu tahun tiga hari dariku.

(moslem-cartoon.blogspot.com)


Ada ibuku.
Bagaimana tidak luar biasa, ibuku berhasil membuat anak-anaknya shaum Ramadhan full dari fajar hingga maghrib,dan full selama 1 bulan, dari usia 4 tahun. Itu adikku. Kalo aku sih pertama shaum full ya umur 5 tahun (pas ade 4 tahun). Adikku hanya "kalah" di hari pertama shaum Ramadhan, itupun di jam 5 sore. Ibuku atau ayahku tidak memaksakan kami untuk shaum Ramadhan saat itu. Apalagi memang usia kami yang masih belia saat itu. Halah. hehe. Aku dan adikku hanya melihat ibu dan ayahku shaum dan sahur, itu saja. Dan sejak saat itu, aku dan adikku shaum Ramadhan full, sebulan penuh. Kok bisa ya?
Ibuku juga berhasil membuat anak-anaknya ini di usia yang masih kanak-kanak, tahan untuk berdiri dan mengikuti shalat tarawih di masjid 11 raka'at. Itupun tanpa paksaan. Padahal, dari kaca masjid sebelahku berdiri, aku bisa melihat anak-anak lain seusiaku berlari-lari dan bermain di luar, tidak ikut shalat tarawih. 
Ada lagi, ketika ibuku memutuskan untuk berjilbab di tahun 1995an, aku dan adikku juga ingin memakai jilbab juga. Saat itu kami masih SD, dan ibuku bilang, nanti saja kalau kami sudah SMP. Akhirnya, aku dan adikku mengenakan jilbab ketika kami SMP kelas 1. Itupun, lagi-lagi tanpa paksaan. 
Al-Quran.. Sudah diperkenalkan kepada kami sejak kami kecil. Saat teman-teman kami masih belajar iqro', aku dan adikku sudah bisa baca Al-qur'an ketika berusia 5 atau 6 tahun. Bukan sombong, tapi inilah kehebatan ibuku. Bisa membuat kami seperti ini. Subhaanallaah.. Alhamdulillaah.. 
Akhirnya aku tahu rahasia ibuku kenapa bisa membuat kami "seperti itu".. Hehe.. Kata ibuku, karena dari kecil sudah ditanamkan rasa takut dan cinta pada Allah, takut akan nerakanya, dan senang akan surganya. Iya juga sih, soalnya setiap sebelum tidur dulu, bukan cerita negeri dongeng yang kami dengarkan, tetapi cerita tentang nabi dan rasul, surga dan neraka (tapi ceritanya ga serem kok.. hehe), dan tentang Dzat yang telah menciptakan kami, Allah.. :). Iya juga ya? Inggi..Inggi.. Kenapa ga kepikiran kesana sih? Ckckckck..

Ada ayahku.
Ayahku itu hebat. Mendidik kami dengan kebebasan yang bertanggungjawab. Dari kecil. Dulu, aku ingat, aku tidak boleh bilang "terserah", karena itu artinya kita tidak punya pilihan. Meskipun sekarang juga masih aja suka bilang terserah.. Hehe.. Kalo kepepet.. Ayahku yang lebih memilih untuk membelikan buku daripada mainan. Dan akhirnya, aku dan adikku pun sudah bisa membaca saat kami bahkan belum memasuki TK. Ada hal-hal yang mungkin kalo kupikirkan sekarang, kok bisa ya, tapi aku melalui itu dengan ayahku. Yang paling kuingat ya ketika aku dan ayahku naik motor pulang pergi Bandung-Jakarta. Pertama kali kulakukan saat aku masih SMP. Saat itu Ramadhan. Ayah hendak ke Jakarta untuk mengurus perpanjangan motor (aku lupa apanya). Ayah sedang tidak fit saat itu. Ibuku agak khawatir. Tanpa ragu, aku bilang aja kalau aku mau ikut sama ayah ke Jakarta. Yang ada dalam benakku saat itu, biar ayah ada temen aja, lagian, kalau ayah bawa aku, ayah ga akan ngebut kan.. haha.. Tapi sampai di Jakarta, habislah aku dimarahi oleh pakde, bude dan si mas karena ikut ke Jakarta naik motor. Capek? Sangat. Badanku terasa mau remuk. Tapi ga kapok kok. Hm, terakhir aku naik motor dari Jakarta ke Bandung saat aku lulus apoteker 2010 lalu. Terbukti kan aku ga kapok? :) Ayahku juga membuatkan papan tulis di salah satu tembok bagian rumahku. Biar gampang kalau ayah mau ngajarin kami tugas-tugas sekolah. Papan tulis itu sudah tidak ada lagi sekarang. Semenjak rumah direnovasi tahun 1999. Cuma ayah juga yang sempet-sempetnya ngerekam suara aku waktu aku menangis. Yah, meskipun sekarang entah dimana rekamannya. Cuma tersisa fotoku yang sedang menangis aja, dan dijadikan wallpaper ayah di hpnya sekarang. 

Ada adikku. 
Yang meskipun kami dulu sering berantem, tapi dialah yang sebenarnya menjadi partnerku dalam beramal. Memulai amal-amal baru di hari-hari kami. Menemani untuk mengejar cinta-Nya, dan menemani untuk menata diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Alhamdulillaah karena aku dibesarkan dalam keluarga ini. Meskipun aku tahu, aku belum bisa menjadi anak dan kakak yang baik, tapiiiii aku akan berusaha lebih keras lagi! Semangat! Hehe.. Dan terutama menjadi hamba yang lebih baik lagi dimataNya.

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Jumat, 06 April 2012

I Love Mama..!

Berawal dari postingan ade di di timeline facebook ku.. Link youtube klipnya Maher Zain yang terbaru, judulnya Number One for Me... Tentang ibu.. Liriknya sangat-sangat menginspirasi dan menyentuh. Menginspirasi untuk memberikan semua yang terbaik untuk orang tua kita, khususnya di lagu ini, kepada ibu.. Lagunya easy listening, liriknya oke.. :)

Ini aku share liriknya.. 

Maher Zain - Number One for Me (Mother)

  
I was a foolish little child

Crazy things I used to do

And all the pain I put you through

Mama now I'm here for you

For all the times I made you cry

The days I told you lies

Now it's time for you to rise

For all the things you sacrificed



Chorus:

Oh, if I could turn back time rewind

If I could make it undone

I swear that I would

I would make it up to you

Mum I'm all grown up now

It's a brand new day

I'd like to put a smile on your face every day

Mum I'm all grown up now

And it's not too late

I'd like to put a smile on your face every day



And now I finally understand

Your famous line

About the day I'd face in time

'Cause now I've got a child of mine

And even though I was so bad

I've learned so much from you

Now I'm trying to do it too

Love my kid the way you do



CHORUS



You know you are the number one for me (x3)

Oh, oh, number one for me

There's no one in this world that can take your place

Oh, I'm sorry for ever taking you for granted, ooh

I will use every chance I get

To make you smile, whenever I'm around you

Now I will try to love you like you love me

Only God knows how much you mean to me



CHORUS


You know you are the number one for me (x3)

Oh, oh, number one for me
(Lirik dari www.iswandibanna.com)



Subhaanallaah.. Bagus kan?? 
Nasihat untuk diri sendiri, untuk selalu memuliakan ibu.. :)
Makasi ya de.. Udah di posting di FB
Love you Mom,,,, so much..:*

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kamis, 03 Maret 2011

Ibuku, Ibu Hebat

Ibuku adalah ibu yang hebat. Kalimat ini kupikir adalah kalimat yang ada dalam benak setiap anak. Begitu juga denganku. Ibuku adalah ibu yang hebat. Ibuku adalah ibu yang begitu sabar menghadapi kenakalan-kenakalanku. Bahkan hingga aku berumur 21 tahun seperti sekarang pun, aku mungkin belum bisa menjadi anak yang baik. Masih sering membuat ibuku kesal. Alis kiriku yang terbelah adalah salah satu bukti kenakalanku waktu kecil. Ketika aku kelas 6 SD, aku diajak oleh temanku untuk bermain sepeda. Saat itu ibuku sudah melarangku untuk pergi. Tapi aku memang bandel, akhirnya, tahu apa yang kudapat? Yah salah satu bukti kenakalanku lagi. Aku jatuh dari sepeda dan hampir tertabrak motor. Seluruh tubuhku luka, bajuku sobek. Ada luka yang masih membekas hingga saat ini.

Ibuku adalah ibu yang hebat.
Bagaimana tidak hebat, ibuku bisa membuat aku yang saat itu masih berumur 5 tahun dan adikku yang masih berumur 4 tahun bisa menjalankan shaum Ramadhan penuh untuk pertama kalinya. Dari Subuh hingga Maghrib, dan selama 1 bulan!
Ketika itu aku yang masih kecil, disuruh untuk berbuka oleh saudaraku, tapi, tahu apa jawabanku saat itu? Aku jawab’ “ Gak mau, ntar masuk Neraka. Ntar Allah marah.”
Yang hebat itu adalah ibuku. Yang bisa mendidikku dan adikku agar takut pada Allah, bukan pada yang lain. Yang menanamkan keimanan padaku sejak aku kecil. Setiap hari, sebelum tidur, ibuku selalu bercerita tentang Surga dan Neraka, tentang kisah nabi-nabi. Inilah yang berkesan dalam diriku. Dan terinternalisasi sejak aku kecil. Aku bangga memiliki ibu seperti ibuku. Yang mengenalkanku pada Allah.
Aku ingin membuat ibuku selalu tersenyum. Aku ingin menjadi anak yang hebat baginya, sama seperti ibu telah menjadi ibu yang hebat bagiku. Walaupun aku tahu, aku takkan pernah bisa membalas apa yang telah ibu berikan padaku. Aku ingin mewujudkan semua keinginannya.
Ya Allah, cintailah ibuku, dan lindungilah ia selalu.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Luqman : 14)

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..