Sabtu, 10 Januari 2015

Inilah Hasil Fotonya :)

Alhamdulillaah... Hari ini udah dapat email konfirmasi dari Papyrus. Hehe... Jadi bisa liat hasil foto seminggu yang lalu. Setelah oke, baru kita jawab email Acc Cetak. Baru nanti kita ambil versi cetaknya dua hari lagi, insyaallah. Hihi... Ternyata hasilnya oke juga, meskipun Umar saat difoto agak susah membuatnya tersenyum. :)))

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Ke Alun-alun Part 2

Hari Jumat kemarin, aku dan Umar diantar abang ke Sarijadi pada pagi hari. Main ceritanya... Umar juga mandi pagi di Sarijadi. Hehe... 

Karena aku ga nginep di Sarijadi. Jadi ajak ibu jalan-jalan aja. Akhirnya memutuskan ke Alun-alun lagi aja. Soalnya hari Rabu kemarin kan waktu ke alun-alun tersita buat ngantri bandros aja. Jadi sebentar banget. Ga bisa nyobain di lapangan rumputnya.. Hehe...

Baru berangkat jam 11 lebih dari rumah. Sampai stasiun, jalan menuju alun-alun, sambil ibu liat kain-kain untuk bahan jilbab. Sampai alun-alun, orang-orang baru bubaran shalat Jumat. Kami pun shalat Dzuhr dulu. Setelah shalat Dzuhr, makan siang dulu di Ampera dekat sana. Hehe... Udah makan aja ya... padahal baru dateng.

Yeeay... setelah makan, kami menuju lapangan rput alun-alun. Tadinya, mau coba naik menara masjidnya.. Tapi duduk di lapangan rumputnya saja sudah nyaman sekali..:)

Saat melangkah di lapangan rumputnya... Woow... Hehe... Enakeun... Cari tempat yang teduh. Lalu Umar pun bermain-main disana. Sambil sesekali tiduran, dan 'nyungsep' hehe.... Alhamdulillaah Umar seneng banget.

Alhamdulillaah, warga Bandung sekarang punya alternatif tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Memanfaatkan kebersamaan dengan keluarga di tempat yang nyaman, dan murmer. Heuheu... Pulangnya, aku dan ibu pisah. Aku naik bis damri ke arah Cibiru. Sekali naik... Nanti tinggal naik ojek deh... :)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Jumat, 09 Januari 2015

JODOH Hari 73

SYARAH HADITS KE-73

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

قال عليه الصلاة والسلام : {عَيْنَانِ لاَ تَرَيَانِ النَّارَ: عَيْنٌ بَكَتْ وَجَلاً مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ و عَيْنٌ بَاتَتْ تَكْلَأُ فِي سَبِلِ اللّٰهِ } { صحيح }

"Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di malam hari dalam rangka berjihad di jalan Allah."
(Hadits shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al Mu'jam al Ausath. Lihat Shahiihul Jamii' no. 4111)

Saudaraku...
Penggalan pertama hadits ini merupakan penjelasan tambahan beberapa ayat Al-Quran yang memuji orang yang menangis karena takut kepada Allah. Di antaranya: "Jika ayat-ayat Ar-Rahman dibacakan kepada para Nabi, mereka akan menyungkurkan wajah seraya bersujud dan menangis." [Qs 19: 58]

Demikian pulalah keadaan Nabi kita tercinta -shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam kehidupan beliau.
Imam Al-Bukhari mengisahkan bahwa tatkala dibacakan kepada beliau ayat ke-41 dari surat An-Nisa oleh Abdullah ibn Mas'ud, salah seorang pakar Al-Quran di kalangan sahabat, beliau menangis tersedu-sedu akibat ketakutan yang dahsyat dari azab Allah.

Beliau juga sering kedapatan menangis di keheningan malam. Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Aisyah  melihat Nabi menangis terisak-isak selepas shalat malam. Aisyah pun bertanya, "Mengapa engkau sampai harus begini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?"
Beliau lalu menjawab, "Tidakkah aku sudi menjadi hambaNya yang bersyukur?"

Para shahabat juga demikian. Mereka, sebagaimana dikisahkan oleh Imam Al-Bukhari & Muslim, menutupi wajah mereka sambil menangis sejadi-jadinya ketika mendengar sabda Nabi, "Andai kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis."

Saudaraku...
Kapan terakhir kita meneteskan air mata karena takut azab-Nya?
Kapankah kita terisak mengingat dosa-dosa yang telah banyak kita buat?

Saudaraku...
Penggalan hadits selanjutnya menjelaskan keutamaan begadang di jalan Allah. Tentu kita paham, bahwa saat jihad, pasukan tidak boleh lengah sedikitpun. Musuh bisa menyerang dan menyusup kapan saja. Karena itu umumnya panglima perang memilih beberapa mujahidin yang bertugas silih berganti patroli dan bersiaga. Di malam hari tentu serangan kantuk amat dahsyat. Oleh karenanya mata yang tidak terpejam demi keamanan pasukan mujahidin akan Allah jaga pula dari letupan api neraka.

Sebagian ulama seperti Syaikh Al-Mubarakfuri mengqiyaskannya juga kepada ibadah lain yang menuntut begadang, seperti menuntut ilmu, haji, dan lain sebagainya.

Saudaraku...
Al-Quran bahkan menyebutkan dua penggalan hadits ini, yakni mata yang menangis dan mata yang begadang, dalam satu penggalan ayat yang indah di akhir juz 10. Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

"Tidak pula berdosa orang-orang yang jika datang kepadamu seraya memohon agar diikutsertakan dalam jihad, engkau berkata,'Aku tidak memiliki pasokan kendaraan lagi untuk membawa kalian.' mereka pulang sedangkan air mata mereka mengalir karena sedih tidak juga memiliki sesuatupun untuk disumbangkan." [Qs Taubah : 92]

Ya Rabb, lembutkanlah hati kami serta bersihkannyalah... Mudahkanlah diri ini untuk menangis takut dariMu serta teguh berjaga di jalanMu. Aamiin.

============================
Ust Fajri hafidzahulllah
@Program Jodoh

Catatan= Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan atau kekurangan  teks hadits ,segera beritahu kami.

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kamis, 08 Januari 2015

Naik Bandros

Ini sebenarnya pengalaman hari kemarin. Aku dan ibu janjian di masjid raya Bandung alun-alun. Kami janjian jam setengah 9. Ceritanya sih mau naik Bandros. Karena sekarang tempat Bandros sudah berpindah ke alun-alun. Dulu di Taman Kandaga Puspa dan Cibeunying Park. Aku diantar abang ke alun-alun.

Ternyata ibu sudah datang duluan dan mengantri Bandros. Hmm... Antriannyaaaa... luar biasa panjang... Aku menggantikan ibu mengantri. Ibu sama Umar duduk di kursi dekat tempat mengantri. Antriannya itu lho... Ga maju-maju... Hiks... Dan ternyata oh ternyata.... Armada Bandros nya yang beroperasi hanya satu. Yang warna merah saja. Pantas saja ini antrian begitu panjang. Antusiasme masyarakat yang luar biasa besar, namun armada terbatas. Ditambah ini masih terhitung liburan anak sekolah. Hehehe... Haduh... Tambah deh... Tadinya aku udah mau menyerah saja... Mending jalan-jalan sekitar alun-alun atau naik menara masjidnya. Tapi urung kulakukan. Sebab kalau melihat antrian di belakangku yang panjang sekali itu, rasanya sayang banget... Hehe...

Makin siang makin banyak keluhan yang keluar dari orang yang antri tiket. Masalah utamanya itu, mau ga mau, mengantri sekian lama itu harus berdiri. Tidak ada nomor urut antrian. Jadi biar ga diisi orang lain yaa harus mengantri dan berdiri. Sekitar pukul 11, barulah diberikan nomor antrian. Aku dapat nomor 84 dan 85. Dan dibatasi hanya sampai nomor 120. Karena tiket telah habis. Bayangkan betapa kecewanya mereka yang sudah antri di belakang itu, kemudian tidak mendapatkan tiket karena habis? Ada yang dari luar Bandung bahkan. Seperti Majalaya, dan Cicalengka. Mungkin baiknya untuk ke depan, jumlah tiket sudah dibatasi misal sekian, dan itu diumumkan. Saat terlihat orang yang antri sudah overload, segera saja antrian di stop. Sehingga tidak perlu ada orang yang mengantri padahal ia tidak bisa mendapat tiket.

Banyak yang mengajukan komplain ke petugas. Hehe... Aku masih berdiri sambil menahan pegal. Bayangkan, dari jam 9! Pukul 12, baru bisa dapat tiket. Harga tiket 10ribu. Karena bisnya baru berangkat, berarti giliran kami sekitar 45 menit lagi. Yasudah, kami shalat Dzuhr dulu.

Setengah 1, kami kembali. Tak lama, Bandros pun datang. Yeay... finally bisa naik juga nih. Tapi udah capek duluan. Jadi di dalam bandros cuma tersisa lelahnya saja. Hehe. Rute yang dilalui : Alun-alun - Banceuy - Braga - Lengkong - Veteran- Sunda - Sumbawa - Banda - Riau - Citarum - Diponegoro - Merdeka - Tamblong - Asia Afrika - Alun-alun. Sampai alun-alun pukul 13.30. Karena aku ada agenda lagi, jadi turun dari Bandros, langsung ke stasiun, dan pisah sama ibu disana.

Pfufh... Melelahkan memang... Tapi ya... Sesuatu yang baru pastilah banyak kekurangan dan perlu perbaikan. Namun, Bandros ini sudah merupakan terobosan baru di kota Bandung. Kita harus mengapresiasinya. Ditunggu perbaikan sistem dan penambahan armada Bandrosnya.. hehe.. biar lebih optimal... :)))

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena dism berarti kematian-

JODOH Hari 72

�� Faidah Hadits ke-72 ��

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

قال عليه الصلاة والسلام : عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِن ْشَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ.
والحديث أخرجه مسلم .

��Terjemah = " Wajib atasmu berlaku lembut, karena sesungguhnya sifat lembut itu tidaklah diberikan kepada sesuatu melainkan menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk."
(Hadist Shahih, Riwayat Muslim. Lihat Shahiihul Jaami' no. 4041)

��Ar rifq adalah sikap lembut yang tercermin dalam perkataan atau perbuatan, serta mengerjakan perkara yang lebih ringan & mudah untuk dilaksanakan (diantara pilihan yang ada). Ar rifq merupakan perkara yang dicintai oleh Allah Ta'ala & Rasul-Nya shalallahu'alaihi wasallam.
Allah Ta'ala berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ   (آل عمران : 159)

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين (الشعراء : 215)

��Juga kisah Nabi Musa 'alaihissalam, tatkala diperintahkan untuk mendakwahi Fir'aun. Allah Ta'ala berfirman :

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى(طه : 43-44)

��Bahkan, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menyebutnya sebagai pertanda kebaikan seseorang. Beliau shalallahu'alaihi wasallam bersabda :

من يحرم الرفق يحرم من الخير.أخرجه مسلم.

من أعطي حظه من الرفق فقد أعطي حظه من الخير، ومن حرم حظه من الرفق حرم حظه من الخير. أخرجه الترمذي.

��Dalam hadits diatas (yang menjadi pokok pembahasan), Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengibaratkan sikap ar rifq bagaikan hiasan, dan ini menunjukkan keutamaan sikap ar rifq. Suatu kebenaran, apabila disampaikan dengan sikap yang lembut & santun, maka akan mudah untuk dimengerti & diterima, atau paling tidak, kebenaran itu dihargai. Berbeda halnya bila disampaikan dengan sikap keras, kaku, atau kasar, maka kebenaran yang ada berubah menjadi sesuatu yang buruk.

��Betapa butuhnya kita -selaku umat Islam- terhadap sikap ini. Yaitu menerapkan sikap ar rifq terhadap diri sendiri, orang lain, pemimpin, atau kepada makhluk seperti hewan & tumbuhan.

اللهم وفقنا للعمل بما تحبه وترضاه.
والله تعالى أعلم.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

��Ust Riki - Mahasiswa UIM semester akhir
��@Program Jodoh
������������������������������������������

��Catatan= Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan atau kekurangan  teks hadits ,segera beritahu kami.

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 07 Januari 2015

JODOH Hari 71

�� Faidah Hadits 71 ��

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

�� زَيِّنُوْا القُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الحَسَنَ يَزِيْدُ القُرْآنَ حُسْنًا ��

Terjemah �� "Hiaslah bacaan Al-Quran dengan suara-suara kalian! Karena sesungguhnya suara yang bagus akan menambah keindahan Al-Quran."
(Hadits Shahih, Riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim. Lihat Shahiihul Jaami' 3581)

��Hadits ini berisi anjuran untuk memperbagus suara kita dalam membaca Al-Quran. Pada hakekatnya, Al-Quran telah memiliki keindahan dalam kalimat dan bahasa yang ada di dalamnya. Sehingga apabila dibaca dengan bacaan yang tartil dan suara yang bagus, maka akan semakin indah bacaan Al-Quran tersebut.

��Membaca Al-Quran dengan tartil merupakan perintah Allah ta'ala di dalam firman-Nya
وَ رَتِّلِ القُرآنَ تَرْتِيْلاً
"Dan bacalah Al-Quran dengan mentartilkannya."

��Yakni dengan perlahan tanpa tergesa-gesa, dan sesuai dengan hukum-hukum tilawah.

��Selain itu, dianjurkan pula untuk memperbagus suara dalam membaca Al-Quran sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Karena, lebih bisa membantu kita menikmati dan mentadaburi tilawah Al-Quran.

Wallahu ta'ala a'lam.

��Akhmad Fahrisan - Mahasiswa UIM semester akhir Fakultas Hadist
��@Program Jodoh
������������������������������������������

��Catatan= Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan atau kekurangan  teks hadits ,segera beritahu kami.

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 06 Januari 2015

Galau Itu...

Hufft... sedih itu ya saat seperti ini.... Galau... Mau menyemangati diri susahnyaa minta ampun...

Sekarang Umar lagi pengen main terus. Pengen mainnya ditemenin. Kalau lagi pegang Alquran, langsung diambil. Dan berulang-ulang seperti itu. Hehe.

Baru bisa fokus kalau Umar tidur malam. Tapi... Kerjaan yang lain juga dikerjain malem.. Kadang hafalan ga kekejar karena udah terlalu capek dan ketiduran... Beuh.... Terseok-seok gini ya Rabb... :(

Ini mungkin ujiannya ya... Kemarin bisa mudah, sekarang diuji... Yah, kalau lurus-lurus aja ga ada tantangannya ya... Hehe...

Nikmati...Nikmati...
Semangat... Semangat...
Sabar... Sabar...

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..