Rabu, 14 November 2012

Dua Surga di 101112

101112 memang sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Seharusnya tulisan ini juga dibuat pada tanggal 101112. Tapi apa daya, paket internetan modemku habis.. Ups malah curhat.. Hehe..

101112. Tanggal cantik menurut orang-orang. Yah memang sih.. Makanya banyak sekali yang menggunakan tanggal tersebut untuk menikah. Biar mudah mengingatnya sepertinya. Tepat di hari itu juga adalah hari pahlawan.

Hm.. Setiap orang berhak memilih apa yang akan ia lakukan di tanggal cantik tersebut. Begitu pula dengan diriku. Sudah dari setahun lebih yang lalu aku merencanakan pencapaian di tanggal 101112 ini. Berkaitan dengan hafalan quranku. Persiapan untuk menuju hari itu pun kulakukan dari semenjak setahun yang lalu. Tak mudah memang menjaga komitmen tersebut. Hanya Allah saja yang masih berbaik hati menjaga diri ini agar tak pudar semangat untuk mendekatiNya melalui komitmenku ini. 

Saat 101112..
Ah.. Surga memang indah saudaraku...
Ini dunia, namun aku bisa melihat surga di hari itu
Di hari saat komitmenku diuji

Inilah surga itu..
Saat fokus dengan pertengahan surat 8..
Kulihat dua sosok malaikat kecil menghampiri dengan matanya yang jernih
Memandang dengan keingintahuan penuh...
Mulai mendekatiku..
Lisanku terus melantunkan ayat demi ayat yang tersisa..
Mereka terduduk dan memandangku.. Sesekali memintaku untuk mengikuti mereka..
"Jangan sekarang ya sayang..", ucapku lewat sorot mataku pada mereka..
Salah satu dari mereka menghambur ke pelukanku.. 
Hehe.. Rizki ga boleh ditolak..
Kupeluk erat ia.. sambil terus melantunkan Al-Anfal..
Dan di penghujung Al-Anfal, kusadari, bahwa malaikat kecil di pelukanku itu sudah tertidur...

Lanjut Ibrahim..
Ups.. Ternyata malaikat kecil satunya masih terjaga.. 
Ia, dengan bola matanya yang indah masih menatapku dengan tatapan yang penuh makna..
Sulit kuungkapkan rasanya ditatap sebegitu dalamnya oleh si kecil itu..
Kubalas kembali tatapannya..
Dan lagi, kukatakan kata-kata lewat sorot mataku saja.. 
"Sini, bantu amah menyelesaikan surat ini ya..." 
Dan.. Tersenyumlah ia dengan senyuman terindahnya...
Subhanallah... 

Dua surgaku di hari itu... di 101112..
Bersama dua malaikat kecil.. Satu surga dalam pelukan, dan surga lainnya adalah yang menatap penuh makna pada diri..
Di tengah langkah-langkah tertatih menuju surga yang dirindu, insya Allah..

Jika yang kusebut "surga" di dunia saja sudah begitu indah..
Apalagi surga yang Ia sediakan bagi hambaNya yang mencintaiNya..
Ah.. Pastilah indah tak terkira..


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Senin, 05 November 2012

It's Called Jannah

"Cita-citaku sederhana saja : Membangun surga dalam keseharian"


Surga..
Begitu mendengarkan kata itu saja, yang terbayang adalah keindahan yang tak bertepi
Kenikmatan yang jauh dari nikmat dunia yang fana
Balasan yang disediakan bagi orang-orang yang amalnya adalah amal yang terbaik.. Ahsanu 'Amala

-Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya, ada dua surga-

Surga..
Bagaimana mungkin kita disebut sebagai perindu surga,
Jika cara menujunya saja tak kita akrabi
Bagaimana mungkin kita disebut sebagai pemburu surga
Jika surga sendiri tak mampu kita mendefinisikannya
Karena sungguh, surga hanya mampu terdefinisi di hati para pejuangnya

-Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya-

Surga itu begitu lekat dalam pandangannya
Begitu dekat dalam setiap tarikan nafasnya
Cita dan cintanya adalah surga
Ghirahnya adalah ghirah perindu surga
Ah, bahkan seisi dunia pun cemburu padanya
Bagaimana mungkin ia mengacuhkan dunia yang menawarkan banyak kemegahan
Yang melenakan banyak manusia
Dengan sesuatu yang belum pernah ia lihat dan rasakan
Yang hanya ia ketahui dari kalamNya saja..

-Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga)-

Mengukir surga dalam benak
Menjadikan ia lekat di pandangan
Dekat... Dekat sekali di hati..
Sesederhana itu cita dan cintaku
Membangun surga dalam keseharian
Merindu surga hanya karena cinta
Memburu surga hanya karena cita
Cinta.. Cinta sekali padaMu ya Rabb..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 31 Oktober 2012

Maaf.. :)

Patah hati.
Begini ya rasanya patah hati.
Ah, rasanya lebih baik ia memarahiku -karena ia pantas marah-
Daripada mendiamkanku selama ini

Malamku tak tenang
Karena belum kudapat maaf darinya
Pesanku tak berbalas satupun
Hanya ingin mengatakan "maaf" 

Pagi datang, tak seindah biasanya
Padahal mentari menyapa dengan hangatnya
Namun belum mampu mengobati sakitku

Ah Allah.. Betapa inginnya aku berlari menujunya
dan memeluknya erat..
Mengucapkan beribu maaf hingga kudapatkan maaf darinya..
Ya Rabb.. Hanya Kau yang tahu betapa menyesalnya diri ini
Ketika ia terluka karena kelalaianku
Hanya satu hal yang kuminta Ya Rabb..
Sampaikan padanya bahwa cinta ini tetap ada untuknya.. 

NB : Tulisan ini untuk Rere.. Pas lagi galau menantimu.. Hehe..
Tapi Alhamdulillah.. sekarang kita udah baikan.. Udah ga patah hati lagi nih..
Semoga kejadian ini bisa jadi mutiara hikmah buat kita untuk menguatkan ukhuwwah kita kembali.. :)


 -Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 09 Oktober 2012

I.K.H.L.A.S

Kenapa yang namanya ikhlas itu sulit? 
Karena ia butuh kelapangan hati
Amal seorang yang ikhlas akan tetap sama, apakah ketika ia di atas, atau di bawah
Amalnya akan tetap berusaha memberi yang terbaik untuk Rabbnya

Kenapa ikhlas itu tak mudah?
Karena ia membutuhkan kerendahan jiwa
Tak mudah jatuh saat manusia mencela
Dan tak mudah meninggi karena puji hamba

Mengapa hanya sedikit orang yang ikhlas?
Karena iman itu mahal
Hanya orang dengan kualitas keimanan teruji saja yang mampu menembus keikhlasan
Saat iman dan aqidah tertanam kuat dan mengakar

Mengapa tak semua insan mampu membenamkan diri dengan keikhlasan?
Karena ikhlas adalah cinta
Sesempurna cinta seorang hamba pada Sang Khaliq
Cinta yang murni
Karena cinta harus diupayakan, maka begitupun keikhlasan
Ia haruslah diperjuangkan

"Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mu'min,  dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah : 105)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-



Kamis, 27 September 2012

Respon Time Utama



Respon Time. 
Sering sekali mendengar kata-kata itu setiap hari. Respon time pelayanan di luar standar atau masuk standar. Hm.. Bekerja di bidang pelayanan farmasi rumah sakit, salah satu parameter kualitas pelayanan diukur dari respon time kita dalam melayani order resep untuk pasien. Sudah ditentukan, respon time yang masuk standar sekian, sisanya adalah diluar standar. Jika respon time diluar standar melebihi jumlah resep dengan respon time masuk standar, berarti ada yang perlu dievaluasi dari sistem pelayanan di farmasi kami.

Karena respon time ini begitu penting, hampir setiap hari dibahas, kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan untuk menaikkan respon time pelayanan. Kalau udah bahas respon time.. Euh.. semua sepertinya dilakukan demi si respon time ini.

Namun, akhir-akhir ini aku jadi terfikir. Sebegitukah kita mengejar respon time?  Yah.. memang sih, respon time itu bisa menunjukkan kualitas kinerja kita. Tapi aku melihat dari sisi yang lain.. Sisi yang jauh lebih penting. Kalau ada respon time pelayanann, maka bagaimana dengan respon time kita dalam beribadah? Saat bekerja, biasanya peak hour kami saat pukul 11.00-13.00, waktu dimana pasien begitu banyak, dan antrian resep pun cukup panjang. Padahal, disana ada waktu shalat Dzuhur. Tak jarang waktu shalat pun jadi bergeser cukup jauh. Bukan di awal waktu, malah mungkin hampir di akhir waktu. 


Nalarku mengatakan, ada yang salah disini. Mengapa untuk respon time pelayanan kita bisa mengeluarkan segenap tenaga dan pikiran untuk meningkatkan kualitasnya, sementara respon time kita dalam memenuhi seruanNya justru malah tidak standar? Kita yang harus lebih cerdas memanfaatkan waktu dengan baik. Ada banyak cara bisa dilakukan untuk menjaga agar respon time shalat tetap bisa masuk standar, bukan? Hehe.. Bisa gantian dengan teman. Selama kita masih mau mempertahankan keimanan kita, selalu ada jalan dari Allah untuk kita. 

Gara-gara respon time ini, aku jad berfikir ke yang lain.  
Respon time adalah waktu kita dalam merespon atau memberikan tanggapan. Kalau di kerjaan, berarti sejauh mana kita merespon kebutuhan pasien. Kalau dengan Allah, hubungannya sejauh mana kita merespon setiap seruan yang berasal dariNya, seruan-seruan dakwah, atau kebaikan-kebaikan yang datang menghampiri. Respon time kita terhadap Allahlah yang utama, karena bukankah kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya saja? Namun manusia tetaplah manusia yang penuh dengan keterbatasan, kekhilafan. Bahkan tak jarang sama sekali tidak  mengingat untuk apa ia diciptakan. Karena dunia begitu melenakannya. Ah.. manusia.. 

Bagaimana mempertahankan keimanan di tengah gemerlap dunia yang menyilaukan, itulah peer kita.. Bagaimana membuat kita merespon setiap seruanNya dengan amal terbaik kita, itulah tugas kita.. Bagaimana membuat agar Allahlah yang utama dalam hidup kita, itulah hakikat kita hidup.. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal : 24)

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 26 September 2012

Bahagia Untuknya

1 September yang lalu, saudariku menggenapkan setengah diennya..
Alhamdulillaah.. Nisaul saudari tercinta.. :*

1 September itu hari Sabtu, seharusnya aku masih masuk kerja. Tapi, apapun kulakukan demi menemanimu saudariku.. Hehe.. Jadilah aku tukar libur dengan temanku. Alhamdulillah, itu pun semata berkat pertolongan Allah saja. Aku bisa menghadiri pernikahan Saul dari akad sampai resepsi.

Sabtu pagi, aku sudah bersiap menuju Salman. Sebenarnya, dari malamnya aku udah tidak bisa tidur. (Lho, ini sebenernya yang mau nikah siapa, yang ga bisa tidur siapa.. Hehe..). Deg-degan dari semalam, dan tidak berhenti sampai aku tiba di Salman.

Memasuki ruang utama masjid Salman..

Yah.. Belum terlalu telat.. Saat aku tiba, sedang pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Setelah selesai, Ndari menghampiriku dan berkata, "Rini mau ke Saul?', dan kujawablah iya. Akhirnya aku menuju tempat dimana Saul berada.

Memasuki tempat itu, mata kami sudah bertatapan saja.. Aku melihatnya..

Berjalan mendekatinya.. Dan segera kupeluk Saul dengan erat.. Setelah itu, aku menggenggam tangannya dengan erat.. Mencoba menyalurkan kekuatan pada saudari tercintaku ini.. Kami mendengarkan dengan baik setiap detik yang berlalu.. 

Saat  ijab qabul.. Ketika Hari menyelesaikan lafadz ijab qabul itu, yang mengalir deras justru air mataku.. Mengalir menganak sungai.. Alhamdulillaah... Barakallah saudariku.. Mitsaqan ghaliza itu telah terucap sudah.. Meski Saul tidak menangis sepertiku, namun aku tahu, ia lebih terharu daripadaku (yaiyalah, yang nikah siapa, hehehe... ), tapi takut make-up nya rusak ya say? Ups! :)

Oh iya, waktu ijab qabul, aku sempat merekamnya lho!! Masih ada rekamannya di hpku. Ntar kalo ketemu, aku kasih denger ya Ichaku.. :*

Saat Saul akan keluar menemui Hari, aku dan Juan menuju ruang utama Masjid Salman.. Disana ada Wafaa yang sudah datang.. Menangis lagi deh.. Hehe.. Padahal udah dimarahin Wafaa biar ga nangis.. Tapi tetep aja.. Akhirnya.. bantuan tissue pun datang.. Di tengah tangisku,aku sempat mengirim sms pada Retno yang ada di Jepang sana, untuk bilang, “No, Saul udah sah.. alhamdulillaah..”, namun smsku failed alias gagal.. hehe. 

Aku ingin mengabadikan momen indah saudariku ini, jadinya hari ini akupun bertekad untuk menjadi fotografer buat saudariku.. Amatir emang, cuma pakai kamera hp 5 MP.. Tapi ada yang ga bisa dibandingin dengan kamera tercanggih sekalipun.. Karena aku mengabadikan momen ini sepenuh hati dan dengan cinta yang besaaar..  Waktu sungkeman, aku maju meninggalkan Wafaa, ke depan biar lebih dekat ambil gambarnya.. Saingan juga sama si mas-mas fotografer yang lain..

Nah, ketika sedang mengambil gambar itu, tak terasa air mataku mengalir lagi, dan lagi.. Bukannya sibuk ambil gambar, malah sibuk menghapus air mataku yang tak mau berhenti.. Yaa.. Dapet sih gambarnya, meskipun ga banyak... Waktu balik lagi ke tempat Wafaa, lagi-lagi aku dimarahin Wafaa.. “Gimana sih? Jangan nangis terus Rini!! Ntar Nisaul sedih liat Rini nangis.. Jadi inget, dulu waktu Nono nikah, Saul yang ga berhenti nangis, sekarang pas Nisaul nikah, Rini yang nangisnya ga berhenti.. Asa dejavu tau..” 

“Rini kan bukan nangis sedih Wafaa...!! Tapi bahagia... Terharuuuu!”, jawabku. Dalam hati aku berkata, iya juga ya.. Dulu, waktu Nono nikah, Saul yang menangis terus, sekarang, Nisaul nikah, aku yang nangis terus. Ntar, kalo aku nikah, ada yang nangis terus gak ya? Haha.. Pikiran yang aneh.. Atau Nono aja? Jadi kaya lingkaran gitu No.. Wkwkwk.. 

Saat resepsi pun, aku menangis lagi.. Padahal udah berazzam tuh ga akan menangis lagi.. Eh, ternyata ketika selesai menyalami dan memeluk Nisaul, lagi dan lagi air mataku mengalir.. Wafaa udah siap-siap marahin aku lagi tuh.. Tapi tangisku kali ini ga berlangsung lama kok.. Udah puas..

Ah.. Ichaku..
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair..
Semoga Allah memberimu kekuatan ya Ichaku... Memberkahi setiap langkahmu kedepan.. Menaungimu dengan cintaNya yang sempurna... 

Jadi teringat kebersamaan dengan Nisaul.. Saudari seperjuangan yang begitu berharga.. 

Ada saat ketika kami kuliah dulu, kami punya program untuk membaca buku Tazkiyatun Nafs-nya Said Hawwa. Setelah membaca buku tersebut, kami mendadak menjadi pendiam untuk beberapa waktu. Efek dari buku.. Tapi, kesininya, kami kembali dengan pribadi sanguinis.. Mungkin episode itu memang perlu diulang ya Ichaku.. :*

Saat Nisaul sedang mengerjakan tugasnya di tangga masjid Salman, dan aku menemaninya, niatnya sih mau bantuin, tapi karena aku ga ngerti, bantuin nemenin aja.. Karena kedekatanku dengan Saul, sampai-sampai ada yang mengira kalau aku ini jurusan Teknik Lingkungan seperti Saul.. 

Ingat Nisaul, ingat “bola pejal” saat daurah dulu.. 

Ingat Nisaul, ingat bagaimana sore kami dilalui dengan berjalan menyusuri Salman lalu menuju Gelap Nyawang dengan bergandengan tangan..Indah sekali.. 

Ingat Nisaul, ingat bagaimana juga menyusuri kampus dari gerbang belakang hingga berakhir di Salman saat kami selesai menghadiri walimah teman kami awal tahun ini.. 

Ingat Nisaul, ingat mimpi-mimpi kami dulu.. Random, namun itulah yang mengisi kebersamaan kami.. Mimpi yang menjiwai ukhuwwah ini.. Ada mimpiku yang hanya ia saja yang tahu.. Al-Hadid mode : on.. Inget ini Cha? :)

Ingat  Nisaul, ingat do’a-do’aku untuknya.. Berdo’a untuknya agar ia segera dipertemukan dengan mujahid yang kelak kan menemani langkahnya ke surga.. Dan kini aku tahu siapa mujahid itu.. Udah kukasih wejangan juga Hari..  

Ingat Nisaul, pasti ingat juga sama Retno alias mbak Ami.. :)
Nisaul, Mbak Ami, aku.. Kayanya aku yang paling nyeleneh diantara kami bertiga.. 

Subhanallah.. Allah mempertemukan kami lewat skenario terbaikNya..
Menakdirkan kami untuk saling mengisi.. Semoga Allah berkenan mengekalkan ukhuwwah ini hingga ke JannahNya.. Aamiin ya Rabb..
Barakallah ichaku.. :*






-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 19 September 2012

Rasa Yang Sempurna

Indah itu saat melihat mentari pagi
Yang sinarnya membiaskan kehangatan
Dalam jiwa yang sempat membeku

Bahagia itu, saat menatap langit senja
Jingganya menyiratkan ketenangan
Pada batin yang terusik

Cinta itu saat memandang langit malam
Gemintang dan rembulan yang berpadu
Hingga puji padaNya menelusup dalam diri

Suka itu saat terjebak dalam lautan taman
Yang dipenuhi mawar putih
Putih.. Seputih hati dengan dzikrullah

Ada saat ketika indah, bahagia, cinta dan suka
Berbaur sempurna
Melebur, dan menjejak langit
Tumpah ruah dengan keridhaan dan kebarakahan
Saat kalamullah menjadi lantunan merdu
Penghias lisan 
Saat hati tergetar karenanya
Saat amalan cermin kalamullah
Saat hidup bersama Al-Quran
Seperti Rasulullah SAW



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..