Jumat, 25 Oktober 2013

Epilog

Tatapan matanya nanar
Melihat dunia yang tak ramah padanya
Ia hanya bisa diam
Terpaku beberapa saat

Menghela napas yang cukup berat 
Mengukur seberapa kuat lagikah ia bertahan
Menghitung setiap asa yang masih setia
Mengukir do'a dalam setiap sujud

-Bersegeralah, karena waktu takkan mennatimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-


Stronger

funnypicblast.com
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kamis, 24 Oktober 2013

Ada Aksi, Ada Reaksi

Ini kan sudah trimester II menjelang trimester III... Tapi ternyata, beberapa hari belakangan ini, sekitar 3 pekan ini, aku sudah beberapa kali muntah lagi. Hiks... Kenapa ya? Dua hari ini muntah berturut-turut setiap malam... Dua minggu yang lalu juga seperti itu... Muntah lagi... 

Karena vitamin atau suplemenkah? Soalnya, vitamin dan suplemen kali ini memang berbeda...
Tapi... sepertinya aku menangkap sesuatu yang sama. Benang merah. Halah, kaya OVJ aja... Dari kejadian aku muntah, selain soal vitamin dan suplemen. Ternyata memang manajemen pikiran yang sedang kacau alias mendekati stress.. Hehe... Sepertinya sih, itu yang membuatku muntah lagi....

Ternyata.. Memang benar ya... Manajemen emosi begitu penting selama kehamilan. Karena reaksi tubuh tiba-tiba saja berubah, saat ada sesuatu yang kurang mengenakkan. 

Sedihnya adalah, aku merasa zhalim sama janin ini... Padahal, haknyalah untuk mendapatkan kondisi yang nyaman dan aman untuk tumbuh dan berkembang. Cuma gara-gara masalah ibunya yang sedang tidak bisa mengontrol emosinya, ia jadi kebawa-bawa... Hiks... Semoga besok-besok aku lebih bisa mengendalikan diriku lagi. Jadi, meskipun masalah datang bertubi-tubi, tetap bisa menstimulus diri untuk bahagia. Insya Allah. 

Bismillaah...
Let's smile and reach our happiness, my baby...! :D



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-


Part of My Dream


Dari dulu, aku ingin sekali menulis buku. Setidaknya satu buku dalam hidupku. Hehe... Tapi, memang belum mulai-mulai sih... Mau nulis tentang kefarmasian, oh no... itu bukan keahlianku... Mau nulis novel, sekarang ngebayangin tebalnya novel yang ratusan halaman itu... Kapan ngerjainnya... Hehe... Pamalesan we... Tentang dakwah, bukan kafaah juga... Jadi apa dong?

Hmm... Akhir-akhir ini aku jadi terinspirasi satu tema tulisan bukuku... Ga jauh-jauh dengan diriku sebenernya... Buku yang membahas tentang orang yang introvert. Seperti aku. Hehe... Tapi ini beneran, lho... Aku adalah seorang introvert. Meskipun ada orang yang bilang, keliatannya aku itu bukan introvert, tapi the real is... I'm an introvert person. Aku ingin menuliskan bagaimana seorang introvert menjalani hari-harinya. Ya...emang bukan psikolog sih. Tapi, berpegang pada kata orang, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, maka aku ingin menuliskannya. Minimal si introvert itu dari kisah nyata, ada di dunia ini. Yaitu aku... Wkwkwkwk... Narsis... Jadi ini teh cerita tentang diri sendiri, gitu? Yaa... Belum tau sih mau kaya apa isinya nanti... Tapi aku udah dapet judul yang bagus (kata aku sendiri, lho)... Ini masih bisa berubah... Judulnya, "Jendela Hati Si Introvert"... Ciee... bagus, gak? Maksa! Tujuannya adalah, bagaimana mengetahui isi hati atau pikiran si introvert, yang katanya tertutup ini. Membantu orang lain memahami karakter introvert dan bagaimana menghadapi mereka.. Tapi kalau mau gitu butuh ngobrol banyak sama ahlinya, dan survey-survey.. Itu kita pikirkan dan jalani nanti.

Aku udah ada "calon penghuni" bukuku kelak (aamiin), lho...
Check it out ya...

Part of "Jendela Hati Si Introvert"

Tahukah kalian, bahwa ia sering menangis diam-diam dalam kesunyian
Mengadukan segala resah, gundahnya

Tahukah kalian, betapa ia ingin menumpahkan seluruh isi hatinya pada kalian
Namun terhalang oleh benteng yang telah kokoh berdiri

Ingin ia menembus benteng itu
Tapi ia tak mampu
Karena ia introvert
Dan kalian terlanjur menganggap bahwa introvert adalah sesuatu yang salah

Lagi-lagi air mata itu tertumpah
Tanpa ia kehendaki
Tanpa dapat ia kendalikan
Mengalir menganak sungai
Dan, kini, tak terbendung lagi..

Ia ingin berteriak
Sekuat-kuatnya
Berharap satu beban terlepas

Dapatkah, ia Ya Rabb..?

Jreng-jreng... itu coretan awalnya... Hehe...
Gimana? (berharap ada yang komen...:))
Baiklah, aku akan berjuang lebih keras lagi!!!
Semangat!!!


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Aku, Seorang Ibu, dan Anak Lelakinya

Saat menunggu di sebuah tempat, disebelahku ada seorang ibu dengan anak laki-lakinya. Jarak mereka hanya terpaut sekitar 1,5 m dari tempatku berada.Anak laki-laki itu masih mengenakan seragam SD. Kuperkirakan ia masih duduk di bangku kelas 2 SD. Cukup lama aku berada disana. Hingga dapat mengikuti apa yang terjadi pada ibu dan anak itu. Sepertinya si anak sedang mengerjakan tugas atau sedang belajar. Kudengar cukup jelas. Apa saja yang ibu itu katakan pada anaknya.

"Kamu tuh kalo belajar yang bener, mau ujian juga besok."
"Belajar yang bener, daripada kamu lari-lari ga jelas, buang-buang waktu, mending belajar."
"Mau ga belajar? Kerjain itu soal-soalnya, gimana kamu tuh?"
"Tulis yang bener. Mana ada kayak gitu?"
"Kamu teh bandel pisan, susah dibilangin."
"Kamu nulis yang bener, mau nulis apa itu? Baca dulu yang bener, dibilangin dari tadi."
"Mau ngaji ga?"

Dan sederet kata-kata dengan nada yang cukup tinggi. Selama anak itu belajar, si ibu tak pernah berhenti untuk memarahi anaknya, jika tak sesuai dengan yang seharusnya. Tak jarang anak itu dipukul ibunya. Meski hanya pelan saja. Tapi, ya itu tadi, kata-kata yang keluar dari lisan ibunya bernada tinggi. Memberi tahu anaknya jika ada kesalahan pun dengan nada tinggi. Si anak hanya mengikuti apa yang dikatakan ibunya. Sesekali ia menunjukkan hasil tulisannya pada ibunya, dengan sorot mata yang agak takut. Padahal anak lelakinya lucuuu banget. Gendut, putih, bulet... Hehe....

Baru 30 menit aku mengamati mereka, tapi sudah membuat hati tidak tenteram. 30 menit itu penuh dengan nada-nada tinggi, kata-kata yang mnyalahkan dari ibu pada anaknya. 

Aku jadi berpikir, tak adakah cara lain dari orangtua untuk memberi tahu anaknya, atau mengajari anak-anaknya tentang sesuatu selain dengan marah-marah, nada ketus atau tinggi, kata-kata kasar?
Tak adakah? Entahlah, apakah ibu tadi sedang kesal atas sesuatu, lalu berefek saat berinteraksi dengan anaknya atau memang seperti itu cara mengajari anaknya. 

Menjadi orangtua itu memang bukan perkara yang mudah. Apalagi menjadi orangtua yang baik. Saat anak melakukan kesalahan, apakah selalu harus keluar kata-kata bernada tinggi, atau kalimat yang menyalahkan? Saat anak melakukan kesalahan, apakah tak terpikir oleh orangtua, bahwa bisa jadi pada kesalahan anak, terdapat andil kesalahan oranngtua. Sebab, kata ayah mertuaku, kalau anak berbuat kesalahan, orangtuanya juga bisa jadi salah. Sampai sekarang aku juga memang belum tahu bagaimana sulitnya menjadi orangtua. Tapi aku tahu, bahwa aku harus membekali diri dengan ilmu parenting yang baik. 

Ya Allah, jika aku menjadi seorang ibu nanti, karuniakanlah aku kesabaran dan kebijaksanaan yang luar biasa besar, agar dapat mendidik anak-anakku kelak dengan cinta... 

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-




Rabu, 23 Oktober 2013

Gratis USG 3D/4D

Hari Senin yang lalu, ada notifikasi dari Facebook masuk ke hapeku. Ada temanku yang mention di salah satu posting di grup ITB Motherhood. Ternyata isi postingan itu menginformasikan bahwa pada tanggal 20-21 Oktober, RSHS mengadakan expo kesehatan di Graha Manggala Siliwangi. Disana ada seminar, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Yang paling menarik buatku ya ada USG 4D gratis. Hehe... Secara, USG 4D kan mahal banget... Bisa sampai 600 ribuan.

Tapi... Cuma sampai hari Senin ya? Berarti sampai hari ini saja. Segeralah ku whatsapp abang buat woro-woro... Hehe... Dan abang pun dengan semangat 45 mengajakku kesana. Kata abnag, ini berkah GBN... Ada-ada saja. Yasudahlah, akhirnya kami sepakat untuk bertemu jam 14 siang di Jalan Sumatera. Abang nyampe duluan disana. Setelah itu, kami menuju Graha Manggala Siliwangi. Stand yang pertama kami kunjungi tentu saja stand dari bagian obstetri dan ginekologi. Tanya-tanya, apa masih bisa USG 4D atau tidak. Alhamdulillah masih bisa... Dapet antrian 35... Menanti 3 antrian lagi. Ini adalah antrian tercepat selama ini. Biasanya kalau kontrol kandungan kan bisa antri dari pagi sampai tengah hari... Wkwkwkwk...

Saat giliran kami, semuanya diperiksa satu persatu... Kakinya, kepala, wajah, dll... Tapi posisis dede masih melintang. Kepala ada di sebelah kiri. Berarti harus banyak-banyak sujud nih... Saat akan melihat wajahnya dengan USG 4D yang berwarna, agak sulit, karena wajahnya sedang menempel pada dinding rahim, jadi ga ada ruang buat melihatnya dengan jelas... Meskipun begitu, kami cukup puas bisa melihatnya. Dan alhamdulillah, semua normal insyaAllah.. Mudah-mudahan lancar dan sehat hingga persalinan... Aamiin... :D



Setelah dari stand obgyn, kami berjalan mengelilingi pameran. Sampai di stand Rumah Sakit Mata Cicendo, kami masuk, dan abang mau ikut periksa mata. Tapi antriiiiii.... Eh, pada saat beberapa orang sebelum abang, ternyata batere alatnya habis, jadi harus dicharge dulu. Belum rezeki... Shalat Ashar dulu. Setelah shalat, ternyata hujan besar. Akhirnya, balik lagi ke dalam pameran. Keliling lagi.... Masuk ke bagian keseimbangan fisik gitu ya kalo ga salah. Jadi abang ikut pemeriksaan keseimbangan tubuh. Masih seimbang kok, alhamdulillah...

Dari sana, kuajak kembali ke stand RS. Cicendo, siapa tahu udah bisa test lagi. Ternyata benar... Abang antri lagi deh... Aku sih lihat-lihat standi rumah sakit yang lain. Eh, ditarik sama agen asuransi... Yasudah, jadi dengerin ibu-ibunya promosi asuransi deh. Saat hampir selesai, abang datang dan mengajakku pulang. Kutanya, udah testnya atau belum. Dan ternyata sodara-sodara.... gagal lagi gara-gara, habis batere lagi.... Wkwkwkwk....

Dan kali ini kami benar-benar pulang... :D

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 22 Oktober 2013

Efek GBN

Ceritanya, aku sama abang lagi menggalakkan GBN. Apa sih GBN? GBN itu Gerakan Berhemat Nasional. Wkwkwk... Yah... Usia kandunganku kan sudah mau masuk tujuh bulan. Jadi harus prepare semuanya. Termasuk biaya persalinan. Persalinan kan unpredictable. Jadi harus jaga-jaga. Nah, maka dari itulah, kita berhemat. Hehehe.... 

Apa yang bisa dibuat sendiri, mending buat sendiri daripada beli. Wkwkwkwk... Sekalian mengasah skill, menstimulasi kreativitas, dan lebih terasa nikmatnya. Jadilah sering bereksperimen. Meskipun hasilnya tidak memuaskan, gapapa, namanya juga eksperimen (menghibur diri gini....:p).

Baru-baru ini aku membuat cireng sendiri. Padahal itu disaat badan remuk redam gitu. Hehe.. Tapi keukeuh mau coba. Akhirnya, jadilah, dengan hasil cireng yang kurang asin. Haha... Tapi abis-abis aja dimakan sama abang, eh aku juga sih.... :D

Wajarlah kalau hasilnya kurang memuaskan. Orang aku mainannya masukin bahan seenaknya. Segimana feeling aja. Parah.... 


Tapi, untuk percobaan pertama, masih termaafkan... :D
It's simple. 
Membuatnya pake tepung kanji persediaan di rumah, sama tepung terigu. Karena yang makan cuma berdua, jadi ya buatnya versi sedikit aja. 
Tepung kanji 125 gram ditambah tepungterigu 5 sendok makan. Aduk. Tambahkan merica bubuk sama garam, terus ditambahin juga irisan bawang daun. Sisihkan. Tumis bawang putih yang sudah dihaluskan, tambahkan air kurang lebih 200 ml. Aduk sampai mendidih. Kalau udah mendidih, masukkan kaldu ini ke dalam adonan tepung tadi, sedikit demi sedikit sampai adonan bisa dibentuk. Lalu bulatkan dan pipihkan adonan deh. Kemaren jadinya sih ada 15 buah. Yah.. Lumayan...


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-



Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..