Minggu, 22 Juli 2012

Recharge

Wah, sudah sepekan tidak mengupdate postingan di blog. Sepekan ini merasa tidak mengenal diri sendiri sepertinya. Hehe. Aku bukan diriku yang biasa. Mulai dari Senin 16 Juli. Hari lahirku. Sudah berkurang satu tahun lagi usiaku di dunia. Artinyaa,, semakin sedikit waktu yang tersisa bagiku untuk beramal. Yang paling kuingat di hari itu adalah aku menghabiskan penghujung soreku bersama Zia dan Zevni untuk membicarakan KRM kami. :) Semangat ya Zevni, jangan minta ampun terus. Yang harusnya minta ampun kayanya teteh deh.. Ada-ada saja.

Selasa. Pikiranku dipenuhi untuk kuliah dan kuliah. Kuliah manajemen di UGM. Hehe. Tiba-tiba saja muncul pikiran buat kuliah disana. Cari suasana baru. Atau mau ikut Faridah yang kuliah di UGM? (Tuh kan, bener-bener aneh.. :( ).

Rabu. Rabu pagi, hape nokiaku terendam air di tas. Yippi.. Jadilah seharian itu aku hanya menghidupkan nomor 3 ku saja. Nomor asku menganggur. Feel free.. Hanya teman-temanku yang tahu nomor 3 saja yang bisa menghubungiku. 

Kamis. Ade milad. Saudara satu-satunya yang hanya terpaut 1 tahun 3 hari. Oke kan? Hari ini juga aku meninggalkan nomor As ku di rumah. Janjian dengan Nidapun lewat twitter.. Jadi most wanted person part 2 judulnya. Tapi, belajar satu hal. Jika Allah memang sudah menakdirkan untuk bertemu,apapun halangannya, tetap saja akan terjadi pertemuan tersebut.. Ya seperti pertemuanku dengan Nida. :)

Jum'at. Bertemu dengan Chiya dan Ocha.. Ini pun, lagi-lagi dengan perencanaan mendadak. Sms di pagi hari, sore hari bertemu. Alhamdulillaah.. 

Sabtu. Segera pulang karena demam kembali melanda. Lagi dan lagi. Ramadhan hari pertamaku diisi dengan memaksa diri untuk  tak terlalu banyak bergerak. Sedikit saja lelah, suhu tubuh naik. 

Ahad. Wah, full day. Pagi agenda tarbiyah, jam 9-14 haroki akhwat ITSAR, sore rapat evaluasi M-Camp. Meskipun tidak optimal, karena sudah demam masihlah melekat, ditambah sariawanku yang parah. Hehe. Allah memang maha sempurna. Alarm tubuhku ketika aku stress adalah sariawan. Meskipun terkadang aku tidak tahu apa yang membuatku stress.. Tapi yang jelas Allah begitu baik padaku. Memberiku alarm agar tak semakin berlarut-larut dalam stressku. Karena sariawan yang sudah hampir 3 hari ini, bicaraku seperti orang cadel. Sakit sekali. Cadel. Seperti anak kecil. Bicara tidak jelas. Dan akhirnya ibuku bercerita bagaimana dulu ketika aku kecil, cadel dan belum bisa berbicara jelas. Dulu, ketika kecil, kata ibuku, aku pernah datang pada ibuku dengan mengatakan, "Ayas bu, ayas..", sambil menunjukkan bajuku yang basah. Awalnya ibuku tidak mengerti, apa itu ayas, tapi ternyata maksudku itu basah. Hehe. Lalu aku juga menyebut bakso itu ayos, dan susu itu uyus. Tuh kan, memang benar bahasa yang aneh, seperti kata ibuku. But, lagi-lagi, ada yang kupelajari hari ini. Bahwa Allah memang begitu baik. Allah memberi ibu yang bisa mengerti apapun yang aku rasa, katakan, pikirkan bahkan.. Meski tidak jelas. Pelajaran kedua, semua itu memang membutuhkan proses dan bertahap. Seperti berbicara. Dimulai dari tidak bisa berbicara, bicara tidak jelas, samar-samar, untuk kemudian berbicara dengan jelas. Sabar dalam menjalani semua proses tersebut. Semoga Allah karuniakanku kesabaran.. 

Sepekan aku tak mengenal diriku sendiri. Hm,, mungkin butuh sesuatu untuk me-recharge diri. Ramadhan.. Aku akan jadikan Ramadhan ini benar-benar menjadi super training bagiku untuk melejitkan diri, insya Allah. Semoga diri ini mampu mendapatkan kebarakahan Ramadhan mulia.. Semangat!! 


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Minggu, 15 Juli 2012

Bersegera dan Bergerak

Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu
Bergeraklah, karena diam berarti kematian

Ini adalah kalimat yang selalu kutuliskan dalam setiap akhir tulisanku, di facebook, atau di twitter. Sedang berusaha memberikan ruh pada kalimat ini agar kalimat ini tertanam dalam diri. Menjadi seorang pribadi yang bersegera dan terus bergerak dalam kebaikan.

Bersegera dan Bergerak. 
Terinspirasi dari berbagai ayat cintaNya yang sarat dengan kata "Bersegera". 

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran 133)

""Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (Al Mu'minun 60-61)

"Dia (Musa) berkata, "Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepadaMu ya Tuhanku, agar Engkau ridha kepadaku." (Thaha 84)

"Maka segeralah, kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." (Az-Zariyat 50)

Subhaanallaah.. Begitu banyak kata "bersegera" dalam kalamNya.. Itu baru sebagian saja yang kutulis di atas.. Makanya, terinspirasi untuk menjadikannya tadzkirah diri. Bahwa waktu yang dimiliki sangat terbatas. Itu sudah pasti. Namun, begitu banyak hal yang harus dilakukan. Karena hidup ini pada hakikatnya adalah persiapan kita untuk menuju kehidupan akhirat kelak. Berkejar-kejaran dengan waktu yang terbatas, maka itulah butuh bersegera dalam beramal. Tak menunda-nunda kebaikan yang bisa dilakukan saat ini juga. 

Bergeraklah.. 
Hm.. Kalo yang ini sih sudah pasti harus.Karena bersegera itu ya bergegas dalam melakukan amal-amal kebaikan. Artinya bergerak kan? Karena muslim itu haruslah dinamis. Ia haruslah memiliki progress dari waktu ke waktu. Agar semakin  berkualitas diri ini di hadapanNya. 

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan -mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang yang fasik." (Al-Hadid 16)

Note : really love this ayah.. begitu mengena.. Masihkah ada alasan untuk menunda-nunda atau tak bersegera menaatiNya? 

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. " (Al Ankabut 69)

Yap.. Bersegera dan Bergerak dalam kebaikan. Insya Allah.. :)


-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-



Kamis, 12 Juli 2012

Traffic Jam

Dua jam perjalanan pulangku dari rumah sakit ke rumah hari ini. Macet sekali.. Mulai dari depan stasiun,      Kebon Kawung, masuk Pasirkaliki, Istana Plaza, lalu masuk Pasteur.. Hmm.. Bertambahlah macetnya... Maranatha, jangan ditanya, sudah tentu padat merayap. Dua jam. Seperti perjalanan ke Jakarta aja. Bahkan ke Jakarta pun bisa kurang dari dua jam. Aku pernah mengalaminya. Itu yang nyetir Mas Didit soalnya. Hehe.. Padahal dulu belum ada Cipularang lho, dan kami melewati Puncak. Sempat shalat Isya dulu bahkan di Masjid Puncak. Masku ini emang jago banget kalo nyetir. Ketika  masuk tol Pasteur, Mas Didit bilang pada kami-kami adiknya ini,"Nih ya, liat nih, jam setengah 9, kita udah sampe kota Jakarta." Itu baru pukul 18.45 WIB. Dan memang benar, jam setengah 9 malam, kami sudah keluar dari pintu tol dan masuk kota Jakarta. Ini si mas yang ekstra ngebut, apa emang jalanannya sepi banget yah? Tapi aku tidak merasa Mas Didit ngebut banget.. Aman-aman aja soalnya adrenalinku. Oke banget nih si mas. :)



Oke2. Balik lagi ke perjalanan pulangku yang akrab dengan macet. Aku paling tidak suka macet. Meskipun pernah juga mengalami macet sampai 8 jam waktu pulang ke Surabaya saat menjelang Idul Fitri. Lagian siapa juga sih yang suka sama macet? Waktu terbuang, sampai di tempat tujuan telat, dan yang paling aku tidak suka, macet itu pemicu emosi. Hm, semacam depresan gitu. Tapi, disisi lain, aku bisa ambil sisi positifnya juga. Melatih kesabaran. Mengendalikan diri untuk tidak mengeluarkan keluhan.  Macet hari ini berhasil menemaniku mengulang hafalan juz 22. Setelah selesai, akhirnya aku yang kalah. Ketiduran. Hehe.  

Lebih suka jika jalanan tidak macet. Lebih suka kalau pergi kemana-mana, jalan lancar-lancar saja, bisa sampai lebih cepat, waktu lebih efisien. Tapi... Seperti itulah kehidupan kita. Tidak mungkin kita berharap hidup tanpa masalah, tanpa tantangan. Adakalanya kita harus terjebak dalam situasi yang tidak kita inginkan. Jika Allah membiarkan kita tanpa masalah, maka mungkin kita yang harus bertanya pada diri kita. Adakah yang salah dalam diri? Ketika Allah memberi masalah, maka ada yang Allah inginkan dari diri ini. Menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, lebih dekat denganNya, dsb. Jika kita tak terbiasa dengan masalah, maka kita belum teruji. Sekali lagi, bersyukur karena Allah masih berkenan untuk menguji kita yang tak seberapa ini. Tetap berharap, semoga cinta indahNya membersamai kita dalam setiap ujian yang Ia berikan. 

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Senin, 09 Juli 2012

Kontras

Ada dua orang pemuda. Sama usianya. Tetapi berbeda dalam hal pemaknaannya terhadap dirinya.
Berbeda dari amal yang melekat pada dirinya.
Pemuda pertama, ia menyibukkan diri dengan amal yang mendekatkan dirinya pada Tuhannya. 
Ia rela berpayah-payah dalam dakwah, meskipun banyak kesenangan dunia yang mengajaknya serta.
Ia ridho, meski istirahat menjadi sangat minim, meski tenaga terkuras karena jihad.
Karena ia yakin, ada hak-hak yang harus ia tunaikan dengan baik.
Saat ada ketetapan Allah yang tak sejalan dengan keinginannya, ia tak lantas berburuk sangka pada Sang Pemberi Ketetapan. 
Justru keyakinannya pada takdir terbaik yang Allah siapkan untuknya semakin meningkat.
Bukan putus asa jalan yang ia pilih.
Ia sabar meniti jalan yang tak semua orang memilih untuk melaluinya.
Ia sibukkan diri dengan berlama-lama dengan kalamullah. Menghafalkan sedikit demi sedikit surat cintaNya dan ia berikhtiar untuk mengamalkannya..
Subhaanallaah...



Pemuda kedua, ia disibukkan dengan kesenangan dunia dan dirinya semata.
Ia selalu berkata bahwa ia mencintai Rabbnya, namun amal yang ia lakukan justru menjauhkan dirinya dengan Sang Khaliq.
Pemikirannya sesuai nafsunya, tak ia libatkan diinnya dalam memahami sesuatu.
Ia rela, mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bersifat hiburan semata.
Ia rela, meski tahu itu adalah celah untuknya berbuat dosa.
Saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya, ia mudah putus asa.
Dan menganggap bahwa takdirNya tak adil.

Apa yang membedakan mereka?  Iman yang ada dalam diri. Iman yang tak sekedar ucap, namun juga mengakar dalam jiwa. Salah siapakah jika mereka berbeda? Lingkungan? 
Selalu saja lingkungan yang menjadi kambing hitam saat terjadi hal seperti ini.
Meski lingkungan berperan penting dalam pembentukan diri seseorang, namun tak berarti seseorang hanya dibentuk oleh lingkungan semata. Ada inisiatif dalam diri, ada fitrah diri yang cenderung mencari kebenaran. 
Dan perbedaan ini menyadarkan kembali tentang urgensi dakwah.
Karena indahnya iman dan Islam adalah milik semua hambaNya.
Dan dakwahlah yang membuat semua keindahan itu menyebar ke segala arah.
Mengajak manusia untuk mencinta dan taat pada Sang Pencipta.



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Minggu, 08 Juli 2012

My Sister's Wedding

Bahagianya aku hari ini. Alhamdulillaah.. Subhaanallaah...
Hari ini saudariku menggenapkan separuh diennya, Syarah Khaerunnisa alias Uroh. Hehe.. 
Pertama kali aku mengenalnya ketika aku SMP dulu, saat aku mengikuti KRM. Teman sekelompok mentoring pertama dengan Teh Nana. Hm.. Kalau diingat, hmm.. sepertinya aku sama Uroh yang paling iseng deh kayanya.. hehe.. ribut terus. 

Aku ingat betul, dulu saat aku hendak pulang, Uroh yang sedang beli batagor, akan teriak memanggilku "Haris, Haris.." dan ia akan tertawa sejadi-jadinya. Tau kenapa ia memanggilku Haris? Saat kami SMP dulu, di salah satu stasiun televisi swasta ada sinetron yang berjudul Cinta (wah masih inget gini..), pemain utamanya Desy Ratnasari yang berperan sebagai Rini, dan pasangannya saat itu adalah Primus Yustisio yang berperan sebagai Haris. Jadilah aku dipanggil Haris oleh Uroh. Biarin aja, kan Primus ganteng ini. Pikirku dulu. Hehe. Tapi aku juga tak mau kalah. Selain sinetron Cinta, saat itu juga sedang ditayangkan sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Tapi aku lupa yang ke berapa saat itu. Di sinetron itu kan ada pemeran Sarah, yasudah, kubalas Uroh dengan memanggilnya "Doel", atau dengan bertanya "Sarah, Zaenab sama Doelnya mana?". Giliranku yang tertawa sejadi-jadinya. Tapi tetap, dia akan membalas dengan memanggilku Haris kembali.. Bocah..Bocah.. :)

Beranjak dewasa, kami terpisah sekolah, ia di SMA 8, saat kuliah pun kami tak satu universitas, tapi, karena Uroh ikut KARISMA di SALMAN ITB, maka kami cukup bisa bertemu, meskipun memang tak sering. Terkadang hanya sepintas saja. Jika kami ingin mengobrol cukup lama, harus janjian dulu. Hehe. Sok sibuk.

Pertemuan kami terakhir sebelum ia menikah hari ini pun "tidak sehat". Bagaimana tidak, sepanjang pertemuan, yang kami lakukan selalu kontak fisik. Entah itu saling mendorong, saling memukul, saling mengisengi, tapi tentu saja tidak saling menyakiti.. iya kan Uroh? :) Padahal tadinya aku sudah berniat memberi Uroh wejangan qobla nikah, tapi gajadi. Hehe. Ntar dikira sok tau lagi. Saat itu ia memberiku undangan pernikahannya sekaligus undangan untuk teh Nana. Aku belum membuka kartu undangan itu, masih kupegang saja. Dan Uroh bilang padaku, "Buka atuh Rini, emang kamu ga mau tau gitu siapa nama calon suami Uroh?". Kujawab segera, "Kan udah tau Uroh, di FB juga ada bukan? Lukman Nur Hakim. Bener kan?". "Oh iya ya.. hehe.. bener..bener..", jawabnya.. 

Dan hari ini... adalah hari bersejarah dalam hidupnya... Aku pergi kesana bareng tetehku.. 
Sebenarnya, Uroh memintaku untuk datang saat akad, dan tadinya aku pun sudah berniat untuk datang akad. Akadnya jam 8, dan Uroh bilang padaku, berangkat aja dari rumah jam 6. Pagi bener ya. Tapi memang aku sudah berniat pergi nyubuh hari ini. Ternyata, paginya, kepalaku berat sekali, ditambah kaki kananku yang sempat memar kemarin-kemarin, sakit kembali. Gagallah aku berangkat nyubuh. Maaf ya Uroh.. :( 

Di pelaminan.. Ia pun tetap seperti yang kukenal (bukannya jaim sedikit gitu). Ia langsung menodongku dengan berteriak, "Mana Rini, janji tinggal janji, dusta kau!", sambil tertawa-tawa tentunya.. Hadeh, mau jelasin gimana, aku tertawa-tawa saja, di belakangku sudah antri undangan yang lain. Hm.. Belum sempat kan kuucapkan do'a untuknya. Saat kami akan pamit, aku dan teh Nana menuju tempatnya, eh, Uroh berkata, "Ih, mau ngapain kesini?, hehe". Euh.. Ini namanya gubrak.com kalau kata teh Nana. Kutarik saja teh Nana untuk berbalik dan bilang, "Yaudah teh, kita pulang aja.. yee..". Lalu Uroh berkata, "Eh eh.. gimana sih, sini  sini foto-foto". Giliran teh nana saja yang geleng-geleng melihat kelakuan kami, di pelaminan pula. Ckckck.. Adikmu yang bernama Uroh memang pengantin yang unik teteh sayang. Sabar ya Kang Lukman.. #Lho? Setelah berfoto, kami pun pamit. 

Hm.. Uroh..Uroh..
Subhaanallaah.. 
Rabbi, aku menambah lagi permintaan padaMu..
Berikanlah saudariku ini kebarakahan dalam kehidupannya saat ini dan selanjutnya..
Bimbing ia untuk selalu dalam kebaikan, dan naungi ia dengan cintaMu yang tak pernah berkurang ataupun memudar..
Aku sungguh mencintainya ya Rabb.. 
Kuingin bahwa cinta inipun hanya karenaMu semata..
Berilah ia kekuatan untuk melalui hari-harinya ke depan yang mungkin tak lebih mudah..
Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair..
Maha suci Allah yang telah mempertemukan kita dengan skenario indahnya..

Special untuk saudariku yang hari ini menggenapkan setengah diinnya..
Sejuta cinta untukmu Uroh.. :*
Rini mau iseng dikit Uroh,, Tapi suamimu namanya bukan Doel ya Uroh?? Hihi... *piis Uroh..



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kamis, 05 Juli 2012

Terdahulu atau Bertahan?

"Terkadang, menjadi terdahulu itu tidak terlalu penting. Bila dibandingkan dengan menjadi orang yang tetap bertahan, saat tak ada satupun yang tinggal."




Ini yang sempat terlintas dalam pikiranku kemarin. Tiba-tiba saja kalimat ini meluncur dari dalam hatiku dan terendapkan dalam akalku. Mengapa? Entahlah.

Ada kalanya, kita menganggap orang yang paling dahulu itu sebagai orang yang paling segalanya. Paling baik, paling benar, dsb. Hingga mungkin tanpa disadari, kita menganggap kecil orang yang baru bergabung dan ikut berjuang bersama kita saat ini. Adilkah jika kontribusi seseorang dilihat dari apakah ia terdahulu atau baru? Adilkah jika senioritas kita sertakan dalam medan amal kebaikan? Hmm... Kurasa jawabannya tidak. Setidaknya untukku. 

Terlebih jika orang yang baru bergabung dalam kebaikan itu justru kini menjadi seseorang yang masih setia dalam perjuangan kebaikan. Menjadi seseorang yang tetap bertahan, saat tak ada satupun yang tinggal. Ia menjadi penggerak dalam medan juangnya. Masihkah senioritas berlaku? Tak selamanya yang lebih dahulu atau lebih lama berarti lebih baik. Dan begitu pula sebaliknya, tak selalu yang terakhir bergabung dalam barisan menjadi orang yang terendah kualitasnya. 

Menjadi orang yang tetap bertahan bukanlah hal mudah. Sama seperti tak mudah menjadi pendahulu. Maka biarlah seseorang menjadi yang terbaik sesuai dengan jalan yang telah Allah berikan, sesuai dengan waktu yang telah Allah tetapkan. Bukan pertama atau berikutnya yang terpenting, namun seberapa besarkah kesetiaan kita terhadap jalan ini, dan keistiqomahan kita dalam mengarungi perjuangan yang  bisa jadi semakin tak mudah. Memang lebih oke kalau sudah menjadi yang pertama, kemudian jadi yang paling bertahan. Namun, jika bukan menjadi yang pertama, setidaknya menjadilah batubata yang terbaik. 

Semoga diri bisa lebih bijak lagi dalam menilai sesuatu. 
Seperti Muhajirin dan Anshar. 
Mulia dengan posisinya masing-masing dalam hati Rasulullah Saw.
Begitupula di hadapan Allah.
Allah, bimbing kami agar tak tergelincir dalam penyakit hati yang menjauhkan kami dariMu..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Rabu, 04 Juli 2012

New M-Camp

New M-Camp. New Soul. New Spirit.
New M-Camp 2012.

Tanggal 1-2 Juli lalu Itsar mengadakan kegiatan tahunan yaitu M-Camp. Ada yang berbeda dari M-Camp sebelumnya. Biasanya, M-Camp berlangsung selama 3 hari 2 malam. Tahun ini, M-Camp lebih singkat, 2 hari 1 malam. Tapi, berharapnya meskipun lebih singkat, tidak mengurangi kebermanfaatan dan nilai-nilai kaderisasi yang ada. 

Sejujurnya, aku tidak terlalu berkontribusi dalam persiapan M-Camp ini. Hehe. Bangga lagi. Parah..parah.. Makanya, kuusahakan aku ikut full saat M-Camp. Makanya kuajukan cuti sejak satu bulan yang lalu biar bisa ikut M-Camp. Hehe..

M-Camp 2012 bertempat di Kiarapayung. Aku sih jadi pembantu umum aja alias khadimah ummat di M-Camp sekarang. Wkwkwk.. 

Banyak hal yang kucatat dalam memoriku dari M-Camp kali ini. Lebih kepada introspeksi diri sebenarnya. Ada ikrar kader  Itsar yang kurefresh kembali disini. Ikrar yang mungkin sempat terlupa, atau hanya menjadi penghias di acara-acara Itsar saja. Padahal, ikrar tersebut begitu indah.. Lebih indah lagi bila menjadi ruh dalam diri setiap kader Itsar. Bagaimana cara membangunnya? Itulah peer kedepannya. Hingga tak hanya sekedar ikrar, namun menjadi gerak harmoni dalam amal nyata juga. Ada lagi tentang pentingnya ada tim medis ikhwan. Hehe. Karena kemarin ada ikhwan yang jatuh dan terkilir. Hm, sempet bingung juga karena ikhwan ga ada medis. Nah, peer selanjutnya adalah mengadakan pelatihan medis untuk panitia M-Camp dan mengadakan tim medis ikhwan. 

Selain peer, ada juga momen yang sangat mengena dalam diriku. Selain bisa bersama dalam ukhuwah dengan panitia dan peserta selama 2 hari tentunya. Adik-adikku yang ikut M-Camp ada Farah, Iki, Shofu, Masi dan Syifa. Banyak momen emas antara aku dan mereka di M-Camp kali ini. Saat waktu makan tiba, mereka akan biilang seperti ini, "Ayo Mi, kita mentoring, mari kita buka mentoring kali ini dengan bacaan basmalah.." (sambil mengambil posisi mellingkar menghadap makanan).. Oiya, Iki menjadi asistenku. Hehe.. Saat ada akhwat yang tersengat tawon di acara malam, aku meminta Iki mengantarku ke tempat acara malam, untuk memastikan semuanya. Kemudian, saat ada ikhwan yang terkilir, ia menemaniku ke bawah untuk melihat ikhwan tersebut. Kemudian ia kuminta mengambi kit obat-obatan di tempat akhwat diatas, eh, ketika ia hendak turun, malah kuminta ia kembali untuk mengambil minum.. Haduh.. Maaf ya Iki... :) Ia yang menemaniku selama menangani ikhwan yang terkilir itu. Kusuruh ia makan, tapi ia tak mau. Barulah ketika Mila datang, ia makan. Saat aku keatas dan melihatnya makan,, ia menawariku makan, tapi kubilang nanti saja. Dan akhirnya aku memakan makanannya 1 suap. Ia bilang ia sudah kenyang. Setengah bercanda, kubilang padanya untuk menemaniku kembali dan menyuapiku. Eh, ternyata Iki benar-benar melakukannya. Ia menyuapiku dari awal hingga butir nasi terakhir... Subhaanallaah.. Alhamdulillaah.. Ini adalah saat yang paling berkesan di M-Camp ini. Hehe.. Belum cukup sampai disitu, saat ada peserta yang pingsan, lagi-lagi... Iki yang kuminta untuk membuat teh di atas. Hehe. Dan dalam waktu singkat Iki kembali dengan membawa air gula, karena tidak menemukan tehnya.. Subhaanallaah... Jazaakillaah khair ya adikku... Tidak hanya untuk Iki saja sebenarnya.. Tapi untuk semua yang sudah bersusah payah dalam M-Camp 2012 ini. Semoga Allah senantiasa menjaga setiap langkah kita agar selalu tertuju padaNya saja... :)

New M-Camp. New Soul. New Spirit. 
New M-Camp 2012.



-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..