Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu Bergeraklah, karena diam berarti kematian
Selasa, 30 Juli 2013
Edisi RY1 dan RY2 : Penyakit 2R dan 2Y
Jumat, 26 Juli 2013
Bermimpilah, Selagi Bisa
Saat kita tidak boleh bermimpi, maka kita akan dapat bermimpi kembali saat sudah keluar dari kondisi tersebut. Tapi beda dengan ketika kita tidak mau bermimpi. Kondisi sebaik apapun, taka akan mampu membuat seseorang mau bermimpi, ketika dirinya menolak untuk bermimpi.
Merasa saat ini tidak memiliki mimpi. Hmm... mungkin bukan tidak memiliki mimpi. Tapi saat ini aku merasa tidak bisa bermimpi. Entahlah... Keinginan untuk memiliki mimpi saat ini sedang tidak ada dalam diri. Kalau dulu, aku bisa memiliki mimpi yang aneh, absurd sampai dibilang orang mungkin itu cuma khayalan. Tapi minimal aku berani bermimpi. Meskipun dulu, semua orang memandang sebelah mata pada mimpiku atau bahkan menentang mimpiku, tapi aku masih punya kekuatan. Aku masih memiliki mimpi, yang bisa kuperjuangkan. Minimal oleh diriku sendiri.
Namun, sekarang, apa yang kupunya, mimpi saja tidak berani. Pfufhh... Semoga kondisi ini tidak berlangsung lama. Ironis..... Merasa bukan diri sendiri.
Maka, selama masih bisa dan boleh bermimpi, bermimpilah. Dan berjuanglah untuk mimpimu. Karena kau tak pernah tahu, apa yang akan terjadi di masa depanmu.
Peer bagi diri sendiri, kembali meluruskan niat, atas segala apa yang aku jalani, bersyukur atas apa yang telah diperoleh.
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-
Senin, 22 Juli 2013
Be Professional, Mom!
Nah, alhamdulillah berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh P3R Salman ITB, mengenai peran muslimah di era digital. Dan, salah satu pematerinya adalah Ibu Septi. Subhanallah.... Materinya luar biasa. Karena beliau sudah mencontohkan dari keluarga beliau. Sukses sebagai ibu rumah tangga profesional, dengan tiga anaknya yang cemerlang... :) Jadi udah ada contoh nyata alias teladan yang baik dalam diri beliau.
Intinya semua bermula dari persepsi kita mengenai sesuatu. Ketika kita memiliki persepsi positif tentang teknologi, maka itu pulalah yang kita dapatkan dari teknologi. Hal positif. Jadi muslimah di era digital itu harus melek teknologi, karena anak-anak kita nantinya adalah generasi yang akrab dengan teknologi ini, sehingga kita juga harus bisa memanfaatkannya.
Okelah, kalau social media beberapa aku sudah pakai.. Hehe... Tapi yang belum kulakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada di internet untuk peningkatan kapasitas diri. Hehe... Ketauan, ya, bergaul mulu... Alhamdulillah, ketika kemarin seminar, jadi tau, website-website yang bagus untuk menambah kapasitas keilmuan. Itu semua menjadi sarana yang digunakan Ibu Septi dalam belajar dan terus belajar.
Kemarin, selesai seminar, aku punya kesempatan untuk berbicara dengan Ibu Septi.
"Bu, mau tanya, kalau di Bandung udah ada kelas offlinenya belum Bu?", tanyaku.
"Oh, belum ada, kalau mau, bisa didirikan.. Kumpulin aja teman-temannya, nanti buat kelas offlinenya. Saya lebih senang kalau ada kelas untuk teman-teman pranikah, calon ibu profesional..", ujar beliau.
Hehe... asiik... aku dianggap muda.... :)
"Kalau mau mendirikan, lewat mana ya Bu?"
"Di web nya ada e-book How to be Professional Mother, download aja, nanti disitu ada form yang harus diisi.. Kumpulin ya temen-temennya, saya tunggu yaa.."
"Tapi saya udah menikah Bu, hehe..."
"Iya, gapapa, nikah muda kan?"
"Hehehe...."
Waah... hehe... alhamdulillaah.... padahal ga nikah muda kok... wkwkwk... berarti awet muda... (si abang bisa ngamuk ini kalo baca... wkwkwkwk.....)
Syifa yang sejak awal menemaniku senyum-senyum aja..
Okeh, poinnya bukan aku dianggap masih muda...(emang masih muda kok...), tapi buat kelas offline ibu profesional di Bandung... Woo... Bukan hal yang mudah... Tapi, bisa dicoba...
Hmm... sebelum kesana, aku udah join sama website-website yang disarankan ibu Septi. Ada Learning Page, Wolfram Alpha, Coursera.org, Second Life (tapi yang ini mah aku ga ngerti, tanya abang aja ntar... :))), dll. Yah... minimal buat akun-akun dulu... Semoga nanti bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai calon pendidik generasi Rabbani. InsyaAllah... :)
Seperti kata abang, "Bekerja sama Allah, dengan bayaran surga, sebagai ibu profesional, insyaallah.."
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-
Jumat, 19 Juli 2013
Episode 16 Juli
3. Lebih optimal dalam menjalankan setiap peran-perann yang ada di pundakku (mana? mana?? :p)
Baru kepikiran segitu... Detailnya, belum bisa kutuliskan disini...
Tapi, ada satu yang harus segera kulakukan...
Mencari sesuatu yang hilang itu...
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diamm berarti kematian-
Kamis, 18 Juli 2013
Siapa Suamiku? :D
Aku dan abang janjian dengan teh Nita di SMA 24, karena kami tidak tahu alamat pasti teh Santi. Sedangkan Mulki dan Masitoh akan menunggu di Al-Ghifari. Sesampainya di SMA 24, kami menunggu teh Nita, karena teh Nita baru jalan dari rumahnya. Deket kok rumah teh Nita, di Cijambe. Tanpa menunggu lama, kami menuju tempat teh Nita parkir. Aku "ditelantarkan" si abang ke mobil teh Nita... hehe... Si abang naik motor sendiri, mengikuti mobil teh Nita menuju Al-Ghifari. Menuju Al-Ghifari pun agak-agak tersesat... Wkwkwkwk.... Sampai disana, aku melihat dua bentuk akhwat yang sedang ngemil. Mulki dan Masi. Kelamaan nunggu mereka... Maaf ya.... :)
Masi ga bawa motor, karena motornya habis bensin. Jadi ia ke Al-Ghifari bersama Mulki. Yasudah, kuajak saja Masi ikut mobil Teh Nita. Hehe.. mobil-mobil siapa... :D
Cukup sulit kami menemukan rumah teh Santi. Seharusnya kami belok kiri setelah jembatan, namun kami belok kiri sebelum jembatan. Bertanya sana sini, ternyata kami salah belok. Oke, menuju belokan berikutnya.... Untuk masuk ke rumah Teh Santi, ternyata tidak bisa memakai mobil, jadi, Teh Nita sekeluarga, aku dan Masi berjalan kaki menuju rumah teh Santi. Sedangkan abang dan Mulki mencari tempat parkir di jalan ujung gang rumah teh Santi, dekat pemakaman. Kami ke rumah teh Santi terlebih dahulu. Seperti biasa, bersalaman, bertanya kabar, dll. Saat itu abang dan Mulki belum sampai ke rumah teh Santi. Membicarakan tentang kelahiran anak teh Santi yang kedua, yang cukup riweuh karena ternyata dedenya sungsang, ketuban pecah, harus melahirkan saat suami teh Santi dirawat di RSAI, dll... Subhanallaah... Alhamdulillah dedenya bisa lahir normal... :)
Saat itulah teh Nita berkata, "Iya atuh, alhamdulillah sekarang dedenya udah sehat...Insya Allah Rini menyusul nanti ya... udah 3 bulan... Hehehe..."
Aku sih senyum-senyum aja... Tapi... Reaksi teh Santi adalah di luar dugaan...
"Hah?!!! Udah isi, Ni? Aku nikahnya aja ga tau??!!! Kapan?? Aku beneran emang in the middle of nowhere yaa... haha.... Bla...bla...bla...."
(Otakku bekerja... Waduh, berarti dulu ga nyampe dong sms ku ke teh Santi waktu mau ngasih tau kalau aku mau nikah... dan jangan-jangan teh Santi ga tau aku nikah sama siapa...Hadeh.,.. Gawat ini mah.. pasrah ajalah...)
Belum sempat kami berbicara,( masih kaget ceritanya...), abang sama Mulki datang... kucluk-kucluk...
Kata Teh Nita, " Nah, ini suaminya... hehe..."
Daaaan... benarlah... teh Santi tambah kaget... sampe mukul-mukul tangan ke lantai....
Aku speechless...
"Hah? Yahdi? Kok bisa? Ada apa ini? Gimana ini ceritanya? Terulang lagi? Siapa mak comblangnya? bla bla bla....", ucap teh Santi penuh keterkejutan...
Ah, biar teh Nita aja yang jelasin.... :)
Pertanyaan teh Santi yang membuatku tertawa adalah, "Gimana Ni, rasanya punya suami anak ini?"
Wkwkwkwk... Nano-nano teh... hihihi..... Berasa si abang permen gini... :D
Awalnya, teh Santi mengira Mulki adalah istri abang, karena saat abang melintasi rumah teh Santi dan menanyakan dimana tempat parkir, di belakang abang ada Mulki yang juga mengendarai motor, karena teh Santi belum kenal sama Mulki, makanya kata teh Santi, kirain Mulki itu istrinya abang... Dongdongdong....
Dulu, saat aku akan menikah, semua teteh-teteh ITSAR kutelepon satu-satu, Teh Ari, Teh Onye, Teh Asti, Teh Mia... Teh Nita sama Teh Nana mah teu kudu... Hahaha.... :D
Nah pada saat akan menelepon teh Santi, nomornya sedang sibuk, lalu kemudian tidak bisa kuhubungi. Setelah berkali-kali kucoba, akhirnya kuputuskan untuk mengsms teh Santi saja. Tapi ternyata kelihatannya tidak sampai sms ku... Jadilah, teh Santi ga tau.... Alhamdulillah, aku bertemu teh Santi saat itu. Coba kalo aku ketemu sama teh Santi dimanaaa gitu, lagi sama si abang... Nanti malah ada prasangka yang aneh-aneh... Hehehe......
Hadeh... Hampir saja aku dikira hamil tanpa suami... Na'udzubillahi min dzalik... :)
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-
Rabu, 26 Juni 2013
Baikkah Membanding-bandingkan?
Kita semua tahu bahwa tak ada orang yang suka bila dibanding-bandingkan dengan orang lain. Apalagi kalau kita adalah objek yang buruknya. Hehe.. Misal nih, ada orangtua yang membanding-bandingkan anak sulungnya dengan anak bungsunya. Entah itu masalah akademis, karir, atau yang lain. Percayalah, kedua anak tersebut tidak akan merasa nyaman. Atau, kemungkinan lain, anak yang dimata orangtua bagus, akan merasa lebih hebat, disadari atau tidak. Dan anak yang kurang dimata orangtua, akan merasa minder. Apakah ini pembentukan karakter yang baik? Atau membandingkan anak kandung dengan keponakan. Atau seorang guru yang membanding-bandingkan murid yang satu dengan yang lain. Mungkin ada yang mengatakan, membanding-bandingkan itu perlu, biar jadi motivasi. Bisa jadi. Meskipun kita harus melakukan pembandingan antara satu orang dengan orang lain, maka lakukanlah dengan bahasa yang baik, tidak menjatuhkan salah satu pihak, dan ada motivasi yang diberikan di dalamnya. Sulit? Jika jawabannya ya, maka cobalah untuk memposisikan diri pada pihak yang dibanding-bandingkan. Nyamankah? Bagaimana agar nyaman, namun tujuan memotivasi tercapai? Belajarlah. Mulai dari diri sendiri. Dan dari bagaimana Allah membuat perumpamaan yang begitu lembut dalam Al-Quran.
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-
Minggu, 23 Juni 2013
Kau Istimewa
Seberapa penting sih bagi akhwat untuk tidak pulang malam? Hehehe.. Pertanyaan yang akhir-akhir ini cukup banyak dilontarkan. Aku akan berbicara pengalamanku dulu aja. Saat kuliah, saat aku menjadi peserta OSKM ITB 2005, hari pertama aku sudah pulang malem, karena ngerjain tugas di kosan teman. Sekelompok. Pulangnya bareng teman. Itu aku pulang jam 8 malam. Saat osjur, Alhamdulillah, karena aku di farmasi yang notabene banyak akhwatnya, jadilah setiap osjur ga pernah mulai malem. Paling lama juga sampai jam 7 malam. Kalau ada yang butuh waktu malam, biasanya menginap, dan itu lebih aman. Saat aku menjadi panitia OSKM, kalau ada kumpul malam, ya ga ikut.. Hehe.. Bagiku, untuk hal yang tidak terlalu urgent untuk aktivitas malam, ya lebih baik dihindari. Pernah aku pulang malam banget dari kampus, jam 12 malam. Eits, tunggu dulu, itu bukan karena acara diklat, osjur, rapat atau hearing kaya gitu.. Karena habis ujian lisan Fitokimia. Emang dari dulu, dosen itu selalu mengadakan ujian fitokimia hingga larut malam, bahkan ada yang sampai subuh. Hehe.. Ga capek ya? Pulangnya tentu saja aku dijemput ayah. Mana ada angkot jam 12 malem? Wkwkwk... Kampus udah sepi...horor pula.. Dramatis gini. :)
Namun, sekarang tampaknya pulang malam bagi akhwat adalah hal biasa. Bahkan ada juga rapat-rapat organisasi dakwah yang melibatkan akhwat baru dimulai ba'da maghrib. Kalau baru.mulai.Maghrib, kapan beresnya? Atau ada juga yang karena ia terlibat dalam aktivitas kemahasiswaan yang tidak semua paham tentang urgensi akhwat tidak pulang malam, akhirnya melakukan pembenaran pulang malam atas nama dakwah. Apakah benar seperti itu? Aku memang bukan ahlinya. Tapi bagiku, tak ada dakwah ketika ia melanggar syariat, tidak memperhatikan aspek-aspek keamanan, dll. Akhwat berbeda dengan ikhwan. Bukan berarti Islam mengekang akhwat. Justru ia begitu melindungi kehormatan akhwat. Menjaganya agar tetap selalu terjaga kehormatannya. Siapa yang bisa menjamin keamanan saat pulang malam? Aku aja serem kalau baca berita akhir- akhir ini. Banyak kejahatan yang menimpa akhwat. Ada yang siang atau malam hari. Tapi, malam hari akan lebih riskan, bukan?
Tampaknya akan lebih bijak jika kita lebih memperhatikan lagi aktivitas kita. Seberapa pentingkah aktivitas malam hari tersebut. Besar manfaat ataukah mudharatnya?
Karena wanita begitu istimewa dalam Islam.
-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-
Selamat Datang di Alam Pejuang
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah
About Me
- inggi
- Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..






