Rabu, 28 Desember 2011

Arti Sebuah Gelar

Sesuatu yang kuingat hari ini, adalah sepenggal percakapanku dengan rekan kerjaku. Saat ia bertanya, gelar apa yang lebih tinggi dari profesor, lalu dengan refleks kujawab, muttaqin.

Yap! Orang yang bertaqwa jauh lebih baik daripada gelar2 keduniawian lainnya. Di lingkungan tempatku bekerja, seorang dokter tidak mau dipanggil tanpa menggunakan kata "Dok", dan seorang dokter yang sudah menjadi profesor, tidak akan mau jika dipanggil dengan sapaan "Dok", tetappi harus "Prof". Ini membuatku banyak berfikir. Memangnya, apalah arti sebuah gelar keduniawian jika dibandingkan gelar yang hakiki? Sebegitu berartikah pandangan atau pengakuan manusia daripada pandangan Sang Pencipta?

Muttaqin, mujahid, mu'min, adalah gelar yang jauh lebih indah dibanding gelar duniawi. Tak hanya indah dimata penduduk bumi, namun dimata penduduk langit. 

Jadikan kami orang-orang yang tak tertipu dengan gelar-gelar keduniawian Ya Rabb...

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Selasa, 20 Desember 2011

Tanpa Judul

Hari ini... seperti pekan lalu, diminta ikut sebuah meeting, yang hampir setiap hal didalamnya bisa membuatku pusing dan tak mengerti. Sebenernya ingin sekali menolak untuk ikut meeting tersebut, namun, apa daya.. Aku hanya bisa mengikuti dan mencatat apa yang menurutku perlu. Jujur, karena aku terhitung pendatang baru, aku belum meguasai medan di hadapanku dan tidak berani berbicara, karena kewenanganku yang terbatas pula.
But, I learned something from that meeting. Begitu banyak macam karakter manusia, membuatku merasa begitu kecil di hadapan Pencipta manusia. Ia menciptakan seluruh manusia dengan ciri dan keunikannya masing-masing. Tak ada yang sama, meskipun ia kembar, namun sifatlah yang membedakannya. Allah is the best!

Senin, 19 Desember 2011

Another Side of Me

Hari ini, aku benar-benar tahu apa yang paling tidak kusukai. Dibohongi dan aku tau jika aku dibohongi. Iyalah, siapa juga orang yang mau dibohongi? Tapi, ini tidak sesederhana itu. Mungkin, jika aku tidak mengetahui bahwa aku dibohongi, I'm still fine. Tetapi, ketika aku tahu aku dibohongi, saat itu juga aku bisa sulit melupakannya. Masalahnya, aku begitu mempercayai apa yang ia katakan, dan sudah membuat keputusan. Namun, kebohongan itu membuatku juga melakukan kebohongan. Sulit dimengerti sih ya.. hehe..

Kejujuran memang mahal. Orang yang jujur itu langka. So, from this time, I promise to be honest person in my life... Rabbi,, bantu aku... Meneladani Rasulullah dalam kejujurannya...

Mungkin inilah aku, jika ada yang mau membohongiku, it's okay, tapi, jangan sampai aku mengetahui kalau itu adalah kebohongan. =D

Rabu, 14 Desember 2011

Pelajaran dari Banjir

14 Desember 2011
Pulang dari kantor sekitar pukul 16.45 WIB, niatku ingin segera sampai di rumah, karena ibu yang masih sakit. Di Kebon Kawung, hujan mulai deras disertai angin kencang. Karena cukup mengantuk, aku tertidur hingga angkot yang kutumpangi sampai di daerah Pasteur. Ketika tersadar, angkotku sudah terjebak di banjir BTC. Daerah ini memang selalu banjir jika hujan deras tiba dan pada akhirnya menimbulkan kemacetan yang cukup parah. Namun kali ini banjir yang tertinggi dari sebelum-sebelumnya.. Bahkan ada mobil yang hampir terendam banjir, hingga yang terlihat hanya atap mobilnya saja. Hampir 90 menit angkot tidak dapat bergerak.

Gelap dan dingin
Namun aku menemukan cahaya dan kehangatan hikmah dari banjir ini. Banjir ini semakin mengingatkanku akan kuasa dari Allah. Hanya dengan air, Ia mampu membuat semua terendam, tak mampu bergerak. Betapa manusia yang begitu angkuh mengaku dirinya pintar, tak bisa lari dari apa yang Allah kehendaki. Belajar untuk memaknai kelemahan diri lagi.

Kamis, 16 Juni 2011

Edisi Curhat Singkat

Kehilangan begitu banyak hal membuatku tersadar bahwa begitu banyak pula hal yang lupa kusyukuri... Ya Allah... pengen banget memiliki waktu dan kegiatan seperti dulu... Bercengkrama dalam indahnya ukhuwah...berlelah-lelah dalam dakwah dan tarbiyah... Pfufh... kehilangan momen2 penting itu... tapi satu hal yang pasti, aku tidak mau melepas atau terlepas dari dakwah atuapun tarbiyah... Butuh usaha yang lebih kuat lagi nih...

Hmmm.. mungkin Allah ingin melihat seberapa keras diri ini berjuang untuk tetap berada dalam jalan ini...Hehe.. ternyata masih kacau balau... Peningkatan kapasitas diri pun masih terbilang minim...
Allah...bagaimana diri ini bisa bangga dihadapanMu?? Apa yang bisa kupersembahkan untukMu??
But...satu hal yang paling kuminta saat ini... don't leave me alone Ya Rabb... =D

Kamis, 12 Mei 2011

Kepasrahan

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hadapan kita. Karena itulah kepasrahan kita dalam menjalani apa yang telah Allah tetapkan menjadi salah satu penentu bagaimana kondisi kita dalam menyikapi setiap hal yangdatang pada kita. Kepasrahan yang sempurna adalah saat kita bisa fleksibel dengan perubahan. Fleksibel seperti apa? Hmm, menurutku adalah fleksibel berarti bisa menerima perubahan dan cepat untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Terkadang aku sendiri belum bisa fleksibel seperti itu. yah, artinya kepasrahan diri ini masih harus dibenahi lagi. Masih saja aku bertanya-tanya pada Allah, kenapa seperti ini yang Ia tetapkan... Hwuaa!! Seharusnya itu tidak lagi terjadi. Karena segala ketetapanNya pastilah yang terbaik.

Kepasrahan sempurna memang bukan berarti menyerah begitu saja. Kepasrahan yang benar berbeda dengan menyerah.  Tetapi kepasrahan menjadi sebuah titik balik untuk melakukan yang terbaik. Melakukan yang terbaik dengan segenap potensi yang dimiliki untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah. Karena untuk itulah kita diciptakan.

"Keimanan bukanlah pasrah, dan tawakkal bukanlah menyerah"

Selasa, 10 Mei 2011

Tak ada ketaatan terhadap makhluk, ketika itu adalah kemaksiatan terhadap Khaliq.

Tak ada ketaatan terhadap makhluk, ketika itu adalah kemaksiatan terhadap Khaliq.

Kadangkala, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang cukup sulit dalam hidup ini. Kita harus memilih, siapa yang harus kita patuhi. Di satu sisi, ada orang yang memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi disisi lain, sesuatu itu bukanlah hal yang selaras dengan apa yang Allah perintahkan. Kalau begini, apa kita masih harus merasa sulit untuk memilih? Retoris memang. Jawabannya sebenarnya sudah kita ketahui. Bahkan, sebelum akal atau lisan kita menjawab, hati kita sendiri telah terlebih dahulu menjawabnya. Iman yang masih tersisa dalam diri kita dapat dengan segera menjawabnya dengan ketaatan yang sebenarnya.

Pada kenyataannya, keputusan untuk memilih itu merupakan keputusan yang sulit. Kenapa? Karena, kita masih menganggap bahwa seseorang yang memerintahkan kita sesuatu yang bertentangan dengan Allah itu jauh lebih berkuasa atas diri kita. Secara tidak langsung, bisa saja kita sudah menganggap bahwa manusia di hadapan kita jauh lebih berkehendak dibanding Rabb kita. Mungkin ada orang2 yang menyangkal. Tetapi, pada hakikatnya seperti itu. Kita takut sekali untuk berbuat salah di hadapan manusia, padahal tak jarang kita sering melakukan kemaksiatan saat kita sendiri. Walaupun kita tahu, bahwa Allah selalu melihat apa yang kita lakukan. Bukankah pengawasanNya sempurna?

Ini adalah perenunganku ketika aku dihadapkan pada kondisi yang membuatku berfikir ulang atas ketaatan diri ini. Di tempatku bekerja, semua muslimah yang memakai jilbab, diharuskan untuk memasukkan jilbabnya ke dalam bajunya, alias tidak mengulurkan jilbabnya. Bukankah itu tidak sesuai dengan apa yang Ia syariatkan? Di tengah kondisi seperti itu, batinku tahu pasti apa yang harus dipilih. Aku tetap mengulurkan jilbabku. Meskipun teman-temanku tidak. Yah, biarlah. Kebenaran tidak ditentukan dari seberapa banyak yang menjalankannya kan??
  
Apapun yang terjadi dihadapanku nanti, biarlah itu menjadi urusan Allah. Kini waktunya menguatkan keyakinan diri, bahwa pertolongan Allah pasti akan datang. karena Ia tak menyalahi janji. Bumi ini begitu luas untuk memperoleh rizki yang berkah. Biarlah ini menjadi ujian keimanan bagi diri ini.

Semangat!! =D

Selamat Datang di Alam Pejuang

Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah

About Me

Foto saya
Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..