“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi dan disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imran 133)
Begitu banyak motivasi untuk memperoleh surga yang dapat kita temukan di lembaran-lembaran surat cinta-Nya pada kita. Al-Qur’anul karim. Atau, tengoklah ke sirah Rasulullah SAW dan para shahabat yang telah menggoreskan tinta emas karya-karya mereka di hadapan Allah.
Mereka begitu menginginkan untuk bertemu dengan Rabb-nya dalam jannah-Nya. Tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah kepada para shahabat mampu menghadirkan surga dalam keseharian mereka. Surga begitu jelas dan nyata di hadapan mereka dan mereka tahu betul apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Sehingga, terkadang kita akan tercengang ketika mengikuti lembaran perjalanan hidup mereka. Tercengang dengan amalan-amalan mereka yang tak biasa kita lakukan saat ini. Tercengang dengan amalan-amalan luar biasa yang mereka berikan pada Din ini. Ternyata, hamasatul jannah memberikan energi luar biasa untuk melahirkan amalan-amalan yang luar biasa pula. Kejelasan akan surga dalam benak akan memberikan gambaran nyata akan apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita menghadapi setiap peristiwa yang datang pada kita.
Surga seakan-akan begitu dekat dengan Rasulullah dan para shahabatnya. Ketika dihadapkan dengan perang, saat musuh yang akan dihadapi begitu banyak dengan kekuatan besar, mereka tidak melihat kesengsaraan yang akan dihadapi. Yang mereka lihat adalah ajang untuk mempersembahkan diri untuk kejayaan Islam. Mereka mencium wangi surga dalam peperangan.
Saat Bilal disiksa dengan begitu kejamnya demi mempertahankan ke-Islamannya, ia tidak melihat kematian sia-sia yang akan menjemputnya. Yang ia lihat adalah keindahan Islam yang sesungguhnya.
Apa yang kita rasakan saat melihat Hamzah bin Abdul Muthalib di akhir hidupnya? Apakah ia menderita? Wafat dalam kondisi yang menyayat hati? Mungkin itu yang kita rasakan. Tetapi, bisa jadi, itulah yang diinginkan oleh Hamzah. Begitulah caranya mencintai Rabb-nya. Dengan tadhiyah yang luar biasa.
Yah. Hamasatul Jannah akan memberikan energi besar bagi para pemburu surga untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak masuk akal bagi kita. Bagaimana seorang Abu Bakar r.a mampu memberikan seluruh hartnya untuk jalan dakwah? Apakah ia tidak khawatir akan kehidupan keluarganya kelak? Seorang ‘Ali yang berani menggantikan Rasulullah saat beliau hijrah. Apakah ia tidak khawatir akan keselamatan dirinya?
Itulah kekuatan iman. Kekuatan iman yang lahir dari aqidah yang mantap. Kepribadian yang kokoh karena ditempa tarbiyah.
Merekalah pemburu surga yang sesungguhnya. Merekalah pecinta Rabb-nya. Merekalah pecinta sejati.
Bagaimana dengan kita saat ini? Ketika kita berkata kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, apakah itu sudah berarti kita mengamalkannya dalam setiap sisi kehidupan kita? Ketika kita berkata bahwa kita adalah pemburu surga, apakah amalan-amalan menuju surga telah kita lakukan untuk menghiasi keseharian kita?
Bisa jadi, kita tak mampu menghadirkan amalan luar biasa karena kita belum memperoleh gambaran jelas mengenai apa yang kita inginkan. Saat menginginkan surga, apakah kita sudah memperoleh ilmu tentang surga? Ada yang pernah mengatakan ini padaku, “Kalau memang benar-benar menginginkan surga, udah tau bagaimana surga itu? Udah pernah baca buku yang membahas tentang surga?”. Setelah itu, yang kuingat aku segera mencari buku Tamasya ke Surga-nya Ibnu Qayyim.
Yah. Bagaimana kita mampu memberikan pengorbanan dan amalan luar biasa ketika kita tidak mengetahui persis apa yang kita inginkan.
Hadirkan surga dalam benak, maka akan engkau dapati amalan-amalanmu menujunya. Namun, jangan lupa untuk menghadirkan pula neraka untuk membuatmu takut melakukan kemaksiatan-kemaksiatan pada Rabbmu. Hadirkan kekaguman pada Sang Khaliq, maka akan kau dapati dirimu mulai mencintai-Nya dan melakukan amalan-amalan yang dicintai-Nya. Insya Allah.
Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu Bergeraklah, karena diam berarti kematian
Selasa, 08 Maret 2011
Seuntai Kata, Penyemangat Diri
"Dalam desah nafas, ada setitik harap
Dalam detak jantung, ada sekerat semangat
Dalam tetes keringat, ada azzam kuat
Dalam langkah, ada cita tinggi
Dalam lelah, ada sebentuk idealisme
Dalam luka, ada sebait cinta
Dalam jenuh fikir, ada sebuah senyum
Dalam keraguan, ada keyakinan akan janji-Nya
Dalam ketidakberdayaan, ada seuntai do’a
Dalam kesendirian, ada keramaian hakiki"
Setiap orang memiliki alasan untuk bertahan
Setiap orang memiliki alasan untuk melangkah
Dan setiap orang memiliki alasan dalam mengambil keputusan
Apakah diri ini harus bergantung pada pilihan dari lingkungan?
Ah.. retoris..
Aku tidak menafikan jika pengaruh lingkungan itu ada..
Tetapi, aku lebih memilih untuk menjadi pribadi yang merdeka
Pribadi yang merdeka dengan hanya bergantung padaNya
Salah satu caraku untuk bertahan adalah dengan mencoba melihat setiap kebaikan dalam setiap keterbatasan
Aku tak akan bertahan tanpa melihat sebuah titik cahaya dalam kegelapan
Aku tak akan bertahan tanpa ada keyakinan
Bukankah janji-Nya tak pernah salah?
Teruntuk adik-adikku tercinta..
Perjalanan dakwah yang panjang akan mendewasakan setiap kita yang terlibat di dalamnya, insya Allah..
Cobalah untuk melihat kebaikan dari setiap peristiwa..
Bukan untuk berlari dari kenyataan, hanya untuk mencoba berhusnuzhan padaNya..
Bahkan setiap benturan, akan menjadi tarbiyah yang menguatkan setiap pribadi kita
Karena bentuk tarbiyahNya pada setiap hamba akan berbeda
Dimanapun, kapanpun, diri ini akan senantiasa mengucap do’a untuk kalian…
Mencoba saling memahami, dan saling menguatkan..
Dunia bernama “Perjuangan” itu kurasa sangat luas
Tapi, niat yang berujung padaNyalah yang mempersatukan kita
Allah-lah yang menganugrahkan keistiqomahan itu
Insya Allah
"Takkan luntur azzam diri
Takkan surut semangat jiwa
Takkan hilang cinta ini
Takkan pudar ukhuwah ini
Insya Allah."
Dalam detak jantung, ada sekerat semangat
Dalam tetes keringat, ada azzam kuat
Dalam langkah, ada cita tinggi
Dalam lelah, ada sebentuk idealisme
Dalam luka, ada sebait cinta
Dalam jenuh fikir, ada sebuah senyum
Dalam keraguan, ada keyakinan akan janji-Nya
Dalam ketidakberdayaan, ada seuntai do’a
Dalam kesendirian, ada keramaian hakiki"
Setiap orang memiliki alasan untuk bertahan
Setiap orang memiliki alasan untuk melangkah
Dan setiap orang memiliki alasan dalam mengambil keputusan
Apakah diri ini harus bergantung pada pilihan dari lingkungan?
Ah.. retoris..
Aku tidak menafikan jika pengaruh lingkungan itu ada..
Tetapi, aku lebih memilih untuk menjadi pribadi yang merdeka
Pribadi yang merdeka dengan hanya bergantung padaNya
Salah satu caraku untuk bertahan adalah dengan mencoba melihat setiap kebaikan dalam setiap keterbatasan
Aku tak akan bertahan tanpa melihat sebuah titik cahaya dalam kegelapan
Aku tak akan bertahan tanpa ada keyakinan
Bukankah janji-Nya tak pernah salah?
Teruntuk adik-adikku tercinta..
Perjalanan dakwah yang panjang akan mendewasakan setiap kita yang terlibat di dalamnya, insya Allah..
Cobalah untuk melihat kebaikan dari setiap peristiwa..
Bukan untuk berlari dari kenyataan, hanya untuk mencoba berhusnuzhan padaNya..
Bahkan setiap benturan, akan menjadi tarbiyah yang menguatkan setiap pribadi kita
Karena bentuk tarbiyahNya pada setiap hamba akan berbeda
Dimanapun, kapanpun, diri ini akan senantiasa mengucap do’a untuk kalian…
Mencoba saling memahami, dan saling menguatkan..
Dunia bernama “Perjuangan” itu kurasa sangat luas
Tapi, niat yang berujung padaNyalah yang mempersatukan kita
Allah-lah yang menganugrahkan keistiqomahan itu
Insya Allah
"Takkan luntur azzam diri
Takkan surut semangat jiwa
Takkan hilang cinta ini
Takkan pudar ukhuwah ini
Insya Allah."
Kakak Terbaikku...!!!
12 tahun yang lalu, aku merupakan salah satu siswa baru di SMPN 2 Bandung. Saat itu aku memilih akan mengikuti ekskul apa. Ekskul yang kupilih saat itu adalah basket. Entah apa alasanku saat itu. Setelah kakak-kakak dari ekskul basket keluar dari kelasku, ada pendaftaran sebuah ekskul rohis yang saat itu disebut KRM Miftahul Huda. Karena temanku memilih ekskul KRM, akhirnya aku berfikir ulang untuk masuk ekskul basket. Kubatalkan pendaftaran ekskul basket, kemudian kupilih ekskul KRM sebagai ekskul satu-satunya yang kuikuti saat itu. Jujur, saat itu, alasanku memilih ekskul KRM adalah karena temanku memilih KRM. Hehe.. ikut-ikutan..
Semua informasi yang berkaitan dengan KRM kuperoleh dari temanku itu. Mulai dari kapan acara perdananya, kapan waktu-waktunya, dan lain-lain. Saat itu, kami masih sekolah di hari Sabtu. Seingatku, mentoring pertama kami diadakan pada hari Sabtu. Hari pertama mentoring, aku datang ke masjid telat. Aku lupa mengapa telat. Yang jelas, saat itu aku sudah melihat lingkaran cahaya itu di masjid. Sambil terengah-engah, segera kulepas sepatuku, lalu bergegas menuju lingkaran cahaya itu. Saat aku bingung dengan apa yang harus kulakukan, seseorang dengan senyumnya yang hingga saat ini masih kuingat menyapaku, mengucapkan salam, dan memperkenalkan namanya. Ratna. Yap! Itu namanya. Setelah itu, aku dikenalkan dengan anggota baru kelas 1 yang lain dan masuklah aku ke dalam lingkaran cahaya itu.
Waktu terus berjalan. Kegiatanku di KRM Miftahul Huda pun terus berlanjut. Walaupun saat itu aku bukan tergolong anggota yang sangat aktif, tetapi untuk mentoring, aku selalu berusaha untuk hadir. Acara-acara KRM yang menginap, aku hampir tidak mengikutinya. Kanan atau kajian kepemimpinan yang berisi kaderisasi untuk pemilihan pengurus baru pun tak kuikuti. Teman-temanku yang lain mengikutinya. Setelah Kanan, teman-temanku bercerita tentang apa yang mereka dapat ketika acara tersebut. Mereka mencari urutan ayat-ayat Al-Qur’an yang diletakkan acak, ada yang di bawah tangga atau di tempat lain. Seru! Itu yang terlintas saat itu. Aku sedikit menyesal tidak mengikutinya. Entah berapa kegiatan KRM yang kulewatkan saat itu. Hehe.
Ketika kami sudah memasuki kelas 3, kami tetap mentoring, walaupun sudah tidak diperbolehkan untuk ikut ekskul saat itu. Yang kutahu, Sabtu siang, aku dan teman-temanku selalu menuju masjid dan menunggu datangnya sosok itu. Sosok yang takkan kulupakan hingga saat ini. Salah satu sosok yang mengantarkanku untuk melihat Islam lebih dalam, setelah ibuku. Sosok yang istimewa dengan caranya sendiri. Aku masih ingat dulu, sosok yang memakai ransel berwarna coklat itu tak pernah mengeluh dengan tingkah kami yang mungkin sangat tidak bisa diatur. Sosok itu memberikan solusi dengan cerita-cerita kami tentang masalah yang tak habis-habisnya.
She is my sister. T’Ratna Indriasari. Ketika kakakku itu baru bekerja, aku ingat sekali, aku dan teman-temanku langsung memintanya untuk mentraktir kami. Hehe. Tetehku ini cukup tegas (apa galak ya? Hehe). Tapi ia sangat-sangat ramah. Setiap selesai mentoring, aku dan tetehku ini pulang bareng.
Banyak hal yang bisa kuingat dari kebersamaanku dengannya. Aku tahu, tak akan cukup aku menuliskannya disini. Tapi, aku telah menuliskannya dan menyimpannya baik-baik dalam memoriku. Bagiku, ia adalah kakak terbaik yang pernah Allah berikan padaku. Alhamdulillah ya Rabb.. Aku begitu menyayanginya.
Ia mengenalkanku pada dakwah. Ia mengenalkanku pada dakwah sekolah. Ia mengenalkanku pada tarbiyah. Ia mengenalkanku pada amanah. Ia mengenalkanku pada tadhiyah. Ia mengenalkanku pada jiddiyah. Dan ia mengenalkanku pada mujahadah.
Begitu banyak.. hingga saat ini aku masih berada dalam dakwah sekolah, ia pun masih selalu ada. Ia ada dengan saran-sarannya, ia ada dengan solusi-solusinya, ia ada dengan ketulusan hatinya, ia ada… Aku tahu, walaupun pertemuan kami tak seintensif seperti 12 tahun lalu… Walaupun lingkaran cahaya 12 tahun lalu itu telah menyebar ke arah yang berbeda-beda saat ini.. Aku tahu, ia akan ada.. Karena dakwah adalah kafilah panjang yang mempersatukan.. Karena niat dan azzam yang mengumpulkan.. Karena do’alah yang mempertautkan hati.. Insya Allah.
Teruntuk kakakku tercinta, Ratna Indriasari..
Kakak terbaikku..
Jazakillah khair untuk segalanya..
Untuk semua yang teteh berikan untukku..
Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkahmu
Memberikan cinta-Nya untukmu..
Semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keridhoanNya, di Jannah-Nya kelak.. insyaAllah..
Uhibbukifillah..
~ditulis dengan cinta yang insya Allah karena Allah~
`Special untuk kakakku yang menjadi salah satu inspirasiku'
‘Barakallah’
Semua informasi yang berkaitan dengan KRM kuperoleh dari temanku itu. Mulai dari kapan acara perdananya, kapan waktu-waktunya, dan lain-lain. Saat itu, kami masih sekolah di hari Sabtu. Seingatku, mentoring pertama kami diadakan pada hari Sabtu. Hari pertama mentoring, aku datang ke masjid telat. Aku lupa mengapa telat. Yang jelas, saat itu aku sudah melihat lingkaran cahaya itu di masjid. Sambil terengah-engah, segera kulepas sepatuku, lalu bergegas menuju lingkaran cahaya itu. Saat aku bingung dengan apa yang harus kulakukan, seseorang dengan senyumnya yang hingga saat ini masih kuingat menyapaku, mengucapkan salam, dan memperkenalkan namanya. Ratna. Yap! Itu namanya. Setelah itu, aku dikenalkan dengan anggota baru kelas 1 yang lain dan masuklah aku ke dalam lingkaran cahaya itu.
Waktu terus berjalan. Kegiatanku di KRM Miftahul Huda pun terus berlanjut. Walaupun saat itu aku bukan tergolong anggota yang sangat aktif, tetapi untuk mentoring, aku selalu berusaha untuk hadir. Acara-acara KRM yang menginap, aku hampir tidak mengikutinya. Kanan atau kajian kepemimpinan yang berisi kaderisasi untuk pemilihan pengurus baru pun tak kuikuti. Teman-temanku yang lain mengikutinya. Setelah Kanan, teman-temanku bercerita tentang apa yang mereka dapat ketika acara tersebut. Mereka mencari urutan ayat-ayat Al-Qur’an yang diletakkan acak, ada yang di bawah tangga atau di tempat lain. Seru! Itu yang terlintas saat itu. Aku sedikit menyesal tidak mengikutinya. Entah berapa kegiatan KRM yang kulewatkan saat itu. Hehe.
Ketika kami sudah memasuki kelas 3, kami tetap mentoring, walaupun sudah tidak diperbolehkan untuk ikut ekskul saat itu. Yang kutahu, Sabtu siang, aku dan teman-temanku selalu menuju masjid dan menunggu datangnya sosok itu. Sosok yang takkan kulupakan hingga saat ini. Salah satu sosok yang mengantarkanku untuk melihat Islam lebih dalam, setelah ibuku. Sosok yang istimewa dengan caranya sendiri. Aku masih ingat dulu, sosok yang memakai ransel berwarna coklat itu tak pernah mengeluh dengan tingkah kami yang mungkin sangat tidak bisa diatur. Sosok itu memberikan solusi dengan cerita-cerita kami tentang masalah yang tak habis-habisnya.
She is my sister. T’Ratna Indriasari. Ketika kakakku itu baru bekerja, aku ingat sekali, aku dan teman-temanku langsung memintanya untuk mentraktir kami. Hehe. Tetehku ini cukup tegas (apa galak ya? Hehe). Tapi ia sangat-sangat ramah. Setiap selesai mentoring, aku dan tetehku ini pulang bareng.
Banyak hal yang bisa kuingat dari kebersamaanku dengannya. Aku tahu, tak akan cukup aku menuliskannya disini. Tapi, aku telah menuliskannya dan menyimpannya baik-baik dalam memoriku. Bagiku, ia adalah kakak terbaik yang pernah Allah berikan padaku. Alhamdulillah ya Rabb.. Aku begitu menyayanginya.
Ia mengenalkanku pada dakwah. Ia mengenalkanku pada dakwah sekolah. Ia mengenalkanku pada tarbiyah. Ia mengenalkanku pada amanah. Ia mengenalkanku pada tadhiyah. Ia mengenalkanku pada jiddiyah. Dan ia mengenalkanku pada mujahadah.
Begitu banyak.. hingga saat ini aku masih berada dalam dakwah sekolah, ia pun masih selalu ada. Ia ada dengan saran-sarannya, ia ada dengan solusi-solusinya, ia ada dengan ketulusan hatinya, ia ada… Aku tahu, walaupun pertemuan kami tak seintensif seperti 12 tahun lalu… Walaupun lingkaran cahaya 12 tahun lalu itu telah menyebar ke arah yang berbeda-beda saat ini.. Aku tahu, ia akan ada.. Karena dakwah adalah kafilah panjang yang mempersatukan.. Karena niat dan azzam yang mengumpulkan.. Karena do’alah yang mempertautkan hati.. Insya Allah.
Teruntuk kakakku tercinta, Ratna Indriasari..
Kakak terbaikku..
Jazakillah khair untuk segalanya..
Untuk semua yang teteh berikan untukku..
Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkahmu
Memberikan cinta-Nya untukmu..
Semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keridhoanNya, di Jannah-Nya kelak.. insyaAllah..
Uhibbukifillah..
~ditulis dengan cinta yang insya Allah karena Allah~
`Special untuk kakakku yang menjadi salah satu inspirasiku'
‘Barakallah’
Berhenti Sejenak...
Sesungguhnya, Rijalul Qaul tidaklah sama dengan Rijalul Amal, dan Rijalul Amal tidaklah sama dengan Rijalul Jihad, dan Rijalul Jihad tidaklah sama dengan Rijalul Ikhlas.. Oleh karena itu, jadilah sosok-sosok yang menyentuh semua dimensinya, yaitu dimensi perkataan (qaul), perbuatan (amal), kesungguhan (jihad), dan tulus karena Allah (ikhlas)
Berhenti Sejenak Untuk Mengisi Perbekalan..
Waktu memang tak pernah berhenti berjalan, meskipun manusia di dalamnya tak bergerak sekalipun. Waktu demikian berharga, sehingga orang2 yang tak memanfaatkannya adalah orang yang merugi. Maka, beruntunglah orang2 yang memanfaatkan waktunya untuk mengisi perbekalannya dengan berbagai amalan dan karya2 besarnya. Maka jadilah kita melihat orang2 yang mampu bergerak dari amalan yang satu ke amalan yang lain.
Namun, terkadang, kita terjebak dalam sebuah rutinitas. terkadang, hak-hak diri kita justru terlalaikan karena sibuknya kita. Ibadah yang tak lagi terjaga, tilawah yang semakin berkurang, dan malam-malam yang terlalui tanpa sempat sujud merendahkan diri padaNya.
Kita seperti orang yang sedang melakukan perjalanan yang jauh. Ketika kita menginginkan untuk terus berjalan, maka selama itulah, kita pun memiliki kebutuhan untuk sesekali berhenti sejenak.. beristirahat untuk memenuhi hak2 tubuh kita..Berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita, memaknai kembali apa yang kita lakukan, lalu bergerak lagi dengan kekuatan yang sudah terisi penuh.
Adakalanya hati terasa hampa, karena shalat yang tidak lagi khusyu, hanya sekedar rutinitas, atau bahkan cenderung terburu-buru. Jika itu yang kita rasakan, maka, berhentilah sejenak. Bertanyalah pada diri kita, sejauh mana kita sudah tawazun terhadap diri kita. Benahilah hak2 diri dan orang lain yang sempat terabaikan.
Berhenti sejenak bukan lantas mematahkan langkah dan menghambat tujuan. Justru kita harus berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita dan melihat apa yang telah kita lakukan. Karena kita adalah manusia, bukan batu karang yang tetap kokoh meski diterjang ombak. Karena kita manusia , bukan gunung tinggi yang tetap kokoh meski diterpa angin kencang.
Berhenti Sejenak Untuk Mengisi Perbekalan..
Waktu memang tak pernah berhenti berjalan, meskipun manusia di dalamnya tak bergerak sekalipun. Waktu demikian berharga, sehingga orang2 yang tak memanfaatkannya adalah orang yang merugi. Maka, beruntunglah orang2 yang memanfaatkan waktunya untuk mengisi perbekalannya dengan berbagai amalan dan karya2 besarnya. Maka jadilah kita melihat orang2 yang mampu bergerak dari amalan yang satu ke amalan yang lain.
Namun, terkadang, kita terjebak dalam sebuah rutinitas. terkadang, hak-hak diri kita justru terlalaikan karena sibuknya kita. Ibadah yang tak lagi terjaga, tilawah yang semakin berkurang, dan malam-malam yang terlalui tanpa sempat sujud merendahkan diri padaNya.
Kita seperti orang yang sedang melakukan perjalanan yang jauh. Ketika kita menginginkan untuk terus berjalan, maka selama itulah, kita pun memiliki kebutuhan untuk sesekali berhenti sejenak.. beristirahat untuk memenuhi hak2 tubuh kita..Berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita, memaknai kembali apa yang kita lakukan, lalu bergerak lagi dengan kekuatan yang sudah terisi penuh.
Adakalanya hati terasa hampa, karena shalat yang tidak lagi khusyu, hanya sekedar rutinitas, atau bahkan cenderung terburu-buru. Jika itu yang kita rasakan, maka, berhentilah sejenak. Bertanyalah pada diri kita, sejauh mana kita sudah tawazun terhadap diri kita. Benahilah hak2 diri dan orang lain yang sempat terabaikan.
Berhenti sejenak bukan lantas mematahkan langkah dan menghambat tujuan. Justru kita harus berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita dan melihat apa yang telah kita lakukan. Karena kita adalah manusia, bukan batu karang yang tetap kokoh meski diterjang ombak. Karena kita manusia , bukan gunung tinggi yang tetap kokoh meski diterpa angin kencang.
Kenikmatan Yang Terlupa
Jika selama ini kita terbiasa berada di tengah-tengah apa yang biasa orang sebut dengan "Zona Nyaman", maka akan sangat berbeda ketika kadaan memaksa kita untuk keluar dari zona tersebut. Zona nyaman disini yang dimaksud adalah kondisi dimana ibadah kita menjadi sesuatu yang bisa dengan mulus dilakukan, nyaris tanpa hambatan, kecuali rasa malas dari dalam diri. Ketika kita bisa melaksanakan shalat di awal waktu, tilawah yang 1 juz, dan semua orang di sekitar kita berbicara tentang indahnya dakwah, maka itulah kondisi yang seharusnya benar2 disyukuri. Tetapi sebaliknya, banyak diantara kita yang lupa mensyukurinya. Bahkan mungkin tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah suatu kenikmatan yang tak terganti dengan kenikmatan dunia sekalipun. Baru menyadari ketika kenyamanan beribadah telah hilang dari kehidupan kita yang kita jalani. Termasuk aku. ketika sekolah, kuliah, ibadah menjadi sesuatu yang sanagt mudah dilakukan.Tetapi, ketika masuk ke dunia kerja, semua berbeda. Terkadang untuk melaksanakan shalat lima waktu di awal waktu, butuh perjuangan keras. Saat itulah, baru kusadari. Ada kenikmatan yang hilang. Kenikmatan beribadah dengan nyaman.
Namun, disatu sisi, aku melihat itu sebagai sebuah tarbiyah dari Allah. Agar aku bisa lebih berjuang demi tetap menghambakan diri padaNya dngan baik. Disitulah saat kita diuji, apakah yang lebih penting bagi kita. Jika godaan dunia yang begitu sedikit bisa melenakan kita untuk berpaling dariNya, maka apa yang akan kita banggakan di hadapanNya saat kita bertemu denganNya kelak..
Karena kita tak selalu berada dalam kondisi yang baik untuk beribadah. Seperti saudara Palestina kita yang nyaris slalu berada dalam kondisi antara hidup dan mati ketika beribadah. tapi, tak satu langkah pun mereka berbalik.
Subhanallah... semoga kita lebih peduli dengan kenikmatan yang mungkin sering tak kita sadari. Karena sesuatu akan sangat terasa brharga ketika kita tak lagi memilikinya.
Namun, disatu sisi, aku melihat itu sebagai sebuah tarbiyah dari Allah. Agar aku bisa lebih berjuang demi tetap menghambakan diri padaNya dngan baik. Disitulah saat kita diuji, apakah yang lebih penting bagi kita. Jika godaan dunia yang begitu sedikit bisa melenakan kita untuk berpaling dariNya, maka apa yang akan kita banggakan di hadapanNya saat kita bertemu denganNya kelak..
Karena kita tak selalu berada dalam kondisi yang baik untuk beribadah. Seperti saudara Palestina kita yang nyaris slalu berada dalam kondisi antara hidup dan mati ketika beribadah. tapi, tak satu langkah pun mereka berbalik.
Subhanallah... semoga kita lebih peduli dengan kenikmatan yang mungkin sering tak kita sadari. Karena sesuatu akan sangat terasa brharga ketika kita tak lagi memilikinya.
Kamis, 03 Maret 2011
Apa Kabar?
Apa kabar IMAN?
Semoga sedang menapak TINGGI!
Apa kabar CINTA?
Semoga sedang tak MENDUA!
Apa kabar HATI?
Semoga sedang tak MATI!
Sepertinya pertanyaan-pertanyaan ini memang harus selalu kutujukan pada diriku setiap harinya. Agar aku tahu, bagaimana kondisiku setiap harinya. Kondisi keimananku, cintaku, dan hatiku.
Iman…
Sesuatu yang kadang naik, kadang turun.
Kitalah yang bertanggung jawab atas kondisi keimanan itu. Kitalah yang harus berusaha menjadikan kondisi keimanan kita dalam kondisi yang selalu tinggi. Ketika keimanan turun, kitalah juga yang harus membangkitkannya kembali.
Cinta..
Sesuatu yang abstrak, yang bahkan hingga saat ini aku masih sulit untuk mendefinisikannya.
Tapi, satu hal yang kutahu dengan jelas, bahwa tak pantas kita menduakan cinta pada Rabb dengan cinta yang lain selainNya…
Hati…
Seperti iman yang terkadang naik atau turun. Hati adalah sesuatu yang begitu mudah untuk berubah. Hati sangat menentukan bagaimana kondisi pemiliknya.. Jika hati baik, maka baiklah orang itu, tapi, jika hati itu mati, seperti itulah kondisi pemiliknya.
Maka.. jadikanlah iman kita meninggi setiap waktunya, cinta dan hati kita terpaut hanya padaNya..
Yaa Muqallibal Quluub.. Tsabbit Qalbii ‘ala diinik…
Semoga sedang menapak TINGGI!
Apa kabar CINTA?
Semoga sedang tak MENDUA!
Apa kabar HATI?
Semoga sedang tak MATI!
Sepertinya pertanyaan-pertanyaan ini memang harus selalu kutujukan pada diriku setiap harinya. Agar aku tahu, bagaimana kondisiku setiap harinya. Kondisi keimananku, cintaku, dan hatiku.
Iman…
Sesuatu yang kadang naik, kadang turun.
Kitalah yang bertanggung jawab atas kondisi keimanan itu. Kitalah yang harus berusaha menjadikan kondisi keimanan kita dalam kondisi yang selalu tinggi. Ketika keimanan turun, kitalah juga yang harus membangkitkannya kembali.
Cinta..
Sesuatu yang abstrak, yang bahkan hingga saat ini aku masih sulit untuk mendefinisikannya.
Tapi, satu hal yang kutahu dengan jelas, bahwa tak pantas kita menduakan cinta pada Rabb dengan cinta yang lain selainNya…
Hati…
Seperti iman yang terkadang naik atau turun. Hati adalah sesuatu yang begitu mudah untuk berubah. Hati sangat menentukan bagaimana kondisi pemiliknya.. Jika hati baik, maka baiklah orang itu, tapi, jika hati itu mati, seperti itulah kondisi pemiliknya.
Maka.. jadikanlah iman kita meninggi setiap waktunya, cinta dan hati kita terpaut hanya padaNya..
Yaa Muqallibal Quluub.. Tsabbit Qalbii ‘ala diinik…
Palestina Dalam Inginku
Aku teringat dialog antara aku dan teman sebangkuku ketika aku masih duduk di kelas 2 SMAN 3 Bandung dulu.
Temanku bertanya, “Rin, seandainya kita bisa memilih mau dilahirkan di negara apa dan berkebangsaan apa, kamu mau jadi orang apa?”. Saat itu, aku tidak perlu waktu yang banyak untuk memikirkannya. Aku sudah tahu jawabanku.
Dengan mantap kujawab, “Palestina”. Aku tidak ingat benar, ketika itu temanku bilang dia ingin dilahirkan berkebangsaan apa, seeingatku sih Inggris, apa Jerman gitu… Pokonya kalo gak salah negara Eropa.
Kini aku kembali mengingat percakapan itu. Yah, takdirku memang bukan untuk dilahirkan menjadi seorang berkewarganegaraan Palestina. Takdirku adalah disini.
Tahu, kenapa jawabanku adalah Palestina?
Yah.. aku rindu! Aku merindukan tanah itu! Tanah yang menyediakan medan jihad di depan mata! Semua orang berebut menjemput kesyahidannya! di tanah itu…!!!
Tapi, mungkin aku belum mencapai kapasitas untuk itu. Makanya Allah menentukanku untuk tidak dilahirkan disana. Tapi, aku yakin, ini adalah skenario terbaik yang Allah berikan untukku.
Walaupun aku tidak dilahirkan menjadi seorang Palestina, tetapi, akan kubuktikan, bahwa aku akan berusaha untuk berjihad dalam medah jihad yang Allah berikan untukku, disini, dan akan kujemput kesyahidan itu, di Bumi Allah ini!!
Teruntuk saudara2ku di Palestina : Aku mungkin tidak bisa banyak berbuat, yang bisa kulakukan hanya berdo’a. Tetapi, Al-Haq pastilah menemukan jalannya. Al-Haq akan menemukan kemenangan yang dijanji. Hingga saat itu tiba, yakinlah bahwa Allah bersama
Temanku bertanya, “Rin, seandainya kita bisa memilih mau dilahirkan di negara apa dan berkebangsaan apa, kamu mau jadi orang apa?”. Saat itu, aku tidak perlu waktu yang banyak untuk memikirkannya. Aku sudah tahu jawabanku.
Dengan mantap kujawab, “Palestina”. Aku tidak ingat benar, ketika itu temanku bilang dia ingin dilahirkan berkebangsaan apa, seeingatku sih Inggris, apa Jerman gitu… Pokonya kalo gak salah negara Eropa.
Kini aku kembali mengingat percakapan itu. Yah, takdirku memang bukan untuk dilahirkan menjadi seorang berkewarganegaraan Palestina. Takdirku adalah disini.
Tahu, kenapa jawabanku adalah Palestina?
Yah.. aku rindu! Aku merindukan tanah itu! Tanah yang menyediakan medan jihad di depan mata! Semua orang berebut menjemput kesyahidannya! di tanah itu…!!!
Tapi, mungkin aku belum mencapai kapasitas untuk itu. Makanya Allah menentukanku untuk tidak dilahirkan disana. Tapi, aku yakin, ini adalah skenario terbaik yang Allah berikan untukku.
Walaupun aku tidak dilahirkan menjadi seorang Palestina, tetapi, akan kubuktikan, bahwa aku akan berusaha untuk berjihad dalam medah jihad yang Allah berikan untukku, disini, dan akan kujemput kesyahidan itu, di Bumi Allah ini!!
Teruntuk saudara2ku di Palestina : Aku mungkin tidak bisa banyak berbuat, yang bisa kulakukan hanya berdo’a. Tetapi, Al-Haq pastilah menemukan jalannya. Al-Haq akan menemukan kemenangan yang dijanji. Hingga saat itu tiba, yakinlah bahwa Allah bersama
Langganan:
Postingan (Atom)
Selamat Datang di Alam Pejuang
Kehidupan yang dimaknai dengan kontribusi
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah
Kehidupan yang diwarnai dengan amal nyata
Karena kita,, dilahirkan untuk menjadi Pengukir Sejarah
About Me
- inggi
- Seorang sanguinis, yang lebih menyukai menumpahkan segala sesuatunya melalui tulisan. Karena dengan menulis, membuatnya merasakan kebebasan dan petualangan. Mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan lebih mencintai Rabbnya dari waktu ke waktu..